Sudah setahun yang lalu istri saya memberi saya hadiah handphone yang cukup canggih, tetapi baru Januari yang lalu saya pakai handphone tersebut. Pasalnya hanphone kesayangan saya yang seharga 299.000 Rupiah itu tertinggal dalam saku celana yang dicuci di mesin cuci sehingga rusak. Meskipun murah tetapi handphone tersebut sudah menemani saya berkeliling dunia, saya sangat menyukai dan bangga memakainya di hadapan banyak orang yang mungkin berfikir saya itu orang aneh.

Bagaimana tidak? Mereka begitu bergantung dengan BBM dan WA. Sedangkan hanphone saya cuma bisa telepon dan SMS. Itupun kalau saya ga lupa menghapus SMS yang memenuhi memori handphone tersebut.

Tibalah saatnya saya akan berpergian ke luar negeri, entah bagaimana sebelum pergi tumben saya memesan tiket pulang pergi, biasanya cuma tiket pergi saja, tiket pulangnya lihat situasi, bisa pulang cepet bisa juga berlama-lama di sana. Demikian juga booking hostel, biasanya saya booking sehari lalu pindah-pindah tempat kemana saya suka, tumben saya booking di satu tempat untuk selama saya di sana. Entah mengapa saya juga sulit menjelaskan, saya hanya mengikuti feeling saja.

Tibalah saya di luar negeri pada pertengahan januari yang lalu, ketika menginjakkan kaki di negeri itu, saya baru sadar kalau handphone saya tidak berfungsi, meskipun canggih tapi rupanya perlu biaya tinggi untuk mengaktivasinya saat di luar negeri, tidak seperti handphone saya yang sederhana dulu yang bisa digunakan di luar negeri tanpa proses yang rumit dan berbiaya tinggi.

Saya pun segera sadar bahwa saya tidak bisa bertransaksi online untuk pesan tiket pesawat atau pun booking hostel, karena setiap transaksi online selalu meminta kode verifikasi yang dikirim via handphone dengan nomor saya yang terdaftar itu. Sedangkan saat itu ketika saya berada di luar negeri, nomor saya yang terdaftar itu tidak berfungsi di handphone canggih itu.

Advertisement

Beruntung saya mengikuti feeling saya untuk memesan tiket pulang pergi dan mem-booking hostel selama saya di sana, sehingga saya tidak perlu melakukan transaksi online lagi selama di luar negeri. Akhirnya saya paham, bahwa sesuatu yang canggih itu tidak selalu mudah digunakan.

Beruntung feeling saya ternyata lebih canggih dari pada handphone canggih pemberian istri saya.