Bagiku sih pantai ya rumah keduaku. Aku main di sana, berpenghasilan dari sana, kadang mandi pun di sana.”

“Oh, kalau aku, pantai itu aku anggap sebagai sahabat karibku yang rutin kukunjungi.”

Pantai, memiliki dua makna yang berbeda. Yang pertama, bagi mereka yang hidup berdampingan dengan pantai. Bagi mereka, pantai adalah halaman rumah mereka. Langkah kaki mereka di atas pasir halus menjadi catatan keseharian mereka. Ada yang pergi melaut, ada yang pergi bermain, ada pula yang pergi menenangkan hati dan pikirannya.

Yang kedua, adalah mereka yang menjadikan pantai sebagai pelabuhan mereka, pelabuhan segala kepenatan, kegalauan hidup, maupun luapan keceriaan. Pantai ibarat sahabat karib yang jauh, selalu ada waktu luang dan kesempatan untuk bersua. Menyusuri pantai bagai bernostalgia dan membangkitkan berbagai kenangan yang ada.

“Semua perjalanan hidupku tersimpan rapi dalam memorinya. Ia menjadi saksi bisu segala perjuanganku menggapai impianku.”

“Segala keluh kesahku, senyum kebahagiaanku, wajah suntukku, ia terima tanpa banyak mengeluh.”

Matahari terbit perlambang semangat dan usaha baru, matahari terbenam perlambang segala yang terjadi hari ini patut disyukuri. Setiap tetes keringat yang keluar tidak akan pernah sia-sia dan akan berbuah manis pada waktunya. Deburan ombak yang menentramkan hati, menemani waktu bersantai setelah hari yang panjang.

Advertisement

Melihat matahari terbit dan terbenam di pantai bagai sihir yang selalu membuat takjub. Kedua mata yang terus menatap terpikat pada sihir itu. Pantulan indah sihir tersebut mewarnai air laut yang indah. Apabila kesedihan yang tengah melanda, rasanya kesedihan itu ikut terbawa arus ombak. Apabila kebahagiaan yang tengah mengisi hati, rasanya arus ombak yang datang melipatgandakan kebahagiaan itu.

“Persahabatan kami pun tidak perlu diragukan lagi. Aku menyayanginya sepenuh hati dan ia pun ada untukku setiap hari. Rasanya, aku bisa bilang kita sahabat sejati.”

“Walau tak sering berjumpa, tapi aku selalu menyempatkan waktu untuk bertatap muka dengannya, berbagi kisah. Ia pun selalu setia mendengarkan. Mungkin, ini yang disebut sahabat sejati.”

Terima kasih telah menjadi teman hidupku. Tak banyak orang yang bisa memiliki perjalanan seperti kita berdua. Aku beruntung lahir dan besar di dekatmu. “Anak pantai”, tidak akan pernah kulupakan dan akan selalu kuingat panggilan itu, meskipun nantinya aku tidak tinggal di dekatmu lagi.

Jejak-jejak kakiku yang tertinggal di pasir di kala senja datang, bukti betapa eratnya ikatan kita. Apa pun masalah yang kuhadapi, semua akan terasa ringan apabila bisa sesaat melihatmu. Balas budiku untukmu hanyalah dengan mengunjungi dan mengagumimu.