Ini bukan kisah tentang cinta biasa antara dua hati manusia, tetapi tentang manusia yang jatuh hati pada laut dan bersahabat dengan penjelajah laut bernama penyu.

Laut bukan sekedar muara aliran sungai yang membawa kabar dari hulu, tetapi juga muara tempatku mencurahkan berbagai kepenatan hidup sehari-hari. Aku mencintai laut seluas dirinya sendiri, dan mencintai para penghuninya sedalam dasar palungnya. Aku telah memilih bersahabat dengan alam, laut, dan penyu, sebagai jalan hidup. Manusia kerap membuatku kecewa, terlebih mereka yang tak sadar bahwa alam kita istimewa.

Satu fakta yang sangat mencekam hati adalah bahwa masih banyak orang tak bernurani yang tega membunuh satwa langka ini. Demi uang dan kesenangan, darah penyu tertumpah melumuri dagingnya bagai luka menganga mencederai laut bangsa kita yang dahulu pernah jaya. Aku tahu arusnya senantiasa membelai pantai untuk meringankan duka, tapi sia-sia. Telur-telur penyu yang kupercaya berisi harapan masa depan kelestariannya, nasibnya naas karena tak pernah menetas.

Di sela renungan senja, berkali-kali memori masa kecil berkelibatan saat menyenangkan bersama keluarga mengunjungi tempat penangkaran penyu, berfoto bersama, dan membeli liontin kayu berbentuk penyu. Tertawa lepas dan bertepuk tangan riuh kala melepas anak-anak penyu kembali ke laut, tanpa sadar mulut pemangsa seperti apa yang menanti mereka di kedalaman sana.

Liontin itu masih kukenakan sampai sekarang, sebagai pengingat. Masih banyak pantai yang harus kukenali, dan jutaan butir telur penyu untuk diselamatkan dari keserakahan manusia. Kemanapun kaki melangkah, tak sudi jejakku terbenam disana tanpa menjadikan adanya perubahan menuju perbaikan. Pantang menjejak kalau hanya merusak.

Advertisement

Ketahuilah kawan, di antara 1000 telur penyu, hanya 1 yang akan bertahan hingga dewasa. Sungguh tak pantas kita memusnahkan butir-butir karya semesta hanya demi kesenangan semata.