Menjelajah tempat mulai booming dikalangan anak muda saat ini, apalagi bagi mereka yang suka jalan-jalan. Mall, Cafe, serta tempat indoor lainnya sudah jarang dijamahi para anak muda. Tahun 2014 menjadi awal bagi para penjelajah untuk melangkahkan kakinya ke tempat-tempat yang memanjakan mata. Yapp nampaknya film indonesia yang satu itu berpeluang besar mendorong para penikmat jalan-jalan untuk melihat pesona indonesia yang sebenarnya. Film 5 cm ini bercerita tentang perjalanan 5 anak muda yang bersahabat mendaki gunung tertinggi di pulau jawa, yakni gunung semeru. Karena film ini sangat menginspirasi hampir sebagian besar penonton, maka para anak muda mengikuti jejak perjalanan mereka seperti di film yaitu naik gunung. Seluruh anak muda dalam kurun waktu setahun pergi mendaki gunung bersama sahabat, teman, maupun pacar. Saya pun tidak mau kalah dengan mereka, dengan modal ikut-ikutan dan keberanian yang tidak seberapa, saya memberanikan diri untuk ikut salah satu trip mendaki gunung. Setelah banyak informasi yang saya dapatkan dan registrasi dengan benar. Tibalah saatnya berlagak seperti pemain 5 cm, tentunya saya tidak sendirian dalam perjalanan ini, peserta yang mengikuti trip berjumlah 10 orang dan 2 diantaranya adalah saudara saya, seperti family gathering saja yaa.

Gunung Papandayan adalah destinasi kami, terletak didaerah Garut Jawa Barat. Jarak yang tidak terlalu jauh, hanya perlu memakan waktu 6 jam sampai kesana. Sebenarnya saya agak khawatir dengan kemampuan mendaki gunung yang dadakan ini, tetapi demi pengalaman baru dan mencari jodoh akan saya lakukan. Loh untuk yang tadi bisa dibilang bonus . Untuk pemula, keperluan yang saya bawa diantaranya jaket, sleeping bag, sarung tangan, kaos kaki, dan baju hangat. Saya dan team berangkat pukul 10 malam dan tiba pukul 5 pagi.

Pagi itu kami menyempatkan solat subuh terlebih dahulu, setelah selesai team langsung menyewa mobil pick up untuk naik ke daerah perbatasan. Tak terasa 1 jam pun berlalu, jalan yang tak mulus seperti kisah cinta saya. Maaf jadi curhat. Sepanjang perjalanan menuju perbatasan, kondisi jalan rusak dan berlubang, tapi itu tidak mengurungkan niat kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya sampai lah kami di perbatasan gunung papandayan. Setelah selesai dengan administrasi, kami pun bergegas naik. Ini adalah momen yang tidak ingin saya lewatkan. Bagaimana tidak, for the first time saya naik gunung tanpa punya keahlian, hanya lari sore saja untuk menyiapkan energi supaya tidak cepat lelah. Tepat pukul 7 pagi kami bergegas, berjalan melewati hamparan bukit dan bebatuan, dan ternyata ada pula kawah belerang disana. Tak lupa saya memakai si penutup hidung dan mulut itu dengan segera. Di pertengahan jalan, hati ini berdesir, saya tak hentinya berdecak kagum melihat keindahan alam yang maha agung. Pertama kali bagi saya berada di alam bebas dan merasakan bahwa saya hanyalah sebagian kecil dari alam ini, bahkan amat kecil. Pandangan saya tak luput dari bukit serta awan yang membuatnya makin menawan. Saya jatuh cinta padamu .Papandayan.

Setelah asyik menikmati perjalanan yang tak mudah dilalui, kami pun tiba di wilayah perkemahan untuk mendirikan tenda. Pengunjung yang lain sudah selesai membangun tenda, rasanya ingin saja masuk ke dalam tenda mereka dan melepas lelah. Karena tenda kami sedikit bermasalah, sehingga memakan waktu yang lama. Tapi dengan semangat yang membara, saya dan team berhasil membangun penginapan ala bintang lima itu. Tak lama beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak, namun karena cuaca tidak bersahabat akhirnya kami memutuskan untuk mengeksplor daerah sekitar perkemahan.

Ternyata team membawa kami ke daerah Pondok Saladah, tempat yang tak kalah menarik. Sungguh, lagi-lagi saya tidak memejamkan mata sedetik pun demi memandangi hamparan edelweis yang dikelilingi pepohonan. Rasanya sejuk sekali, seperti berada di negeri dongeng. Namun sayangnya tidak ada pangeran, yang ada hanya laki-laki muda berlalu lalang dengan sarung. Tak apalah setidaknya tempat edelweis itu tidak sepi pengunjung. Tak jauh dari tempat edelweis, kami langsung disambut dengan pepohonan kering namun tetap memukau. Tempat ini disebut Hutan Mati. Terdengar menyeramkan bukan? Tapi tidak saat kalian berada disini, pemandangan alam yang menakjubkan, mata saya tak luput dari pandangan sekitar, ditambah perasaan yang melibatkan rasa kagum dan excited. Saya baru menyadari ternyata Indonesia tidak hanya kaya akan hasil buminya, tetapi juga mampu membuat rakyatnya bangga memiliki rumah yang dianugerahi pesona alam luar biasa. Saya dan team langsung membentuk posisi untuk mengabadikan momen tak terlupakan ini. Saya kembali dibuat jatuh cinta oleh keindahan gunung Papandayan. Usai menghabiskan waktu di hutan mati, kami pun kembali ke kemah untuk bermalam.

Advertisement

Keesokan harinya kami bangun lebih awal untuk bisa naik ke puncak dan melihat sunrise. Kami pun bergegas untuk menaklukan rasa takut kami. Team memandu perjalanan kami dengan sigap, mereka memastikan bahwa semua peserta dalam kondisi fit dan kuat untuk menanjak. Waktu yang diperlukan sekitar 1-2 untuk sampai ke atas. Tibalah kami di Tegal Alun, karena cucaca kurang bersahabat kami tidak bisa mencapai puncak. Namun kekecewaan itu tidak menyurutkan semangat kami, terutama saya yang tak hentinya mengucap syukur karena mampu melewati track menuju Tegal Alun. Matahari enggan untuk menengok serta gerimis yang tiba-tiba hadir di tengah hamparan edelweiss membuat saya lantas tidak berkecil hati untuk menikmati panorama indah. Satu lagi, masih ingat kan saat saya mengatakan mendaki gunung sambil mencari jodoh. Ini sungguh terjadi, saya bukan hanya jatuh cinta pada keindahan Papandayan tetapi juga menemukannya dalam jejak perjalanan. Dia selalu ada dibalik layar pendakian kami, yang setia mengabadikan setiap momen yang dilewati. Dia tak pernah terlihat dalam jepretan kamera, namun dia yang diam-diam mengambil gambar saya dalam keadaan tak terduga. Waktu terus berlalu, saya dan team segera bersiap kembali ke kemah dan berkemas. Saatnya pulang membawa semua cerita di pundak ini, tetapi menaruh kisah paling spesial di hati