Diera kekinian saat ini nyandang status “jomblo” diusia yang udah 20-an emang sedikit terdengar tabu. Sebagian ‘orang’ masih memandang aneh usia 20-an nggak pernah pacaran yang nggak pernah merasa dicium atau dipeluk dengan lawan jenis. Pasti dikira nggak normal.

’Pasti penyuka sesama jenis’ bukan ucapan yang enak didengar. Lah kok milih sendiri dibilang lesbi, sih. Kalau nggak dibilang lesbi, ya terima aja selalu jadi bahan bullying yang dianggap selalu ngenes.

Please deh ‘kaum muda’ Indonesia yang amat cerdas dan selalu up to date dengan headline news terdepan dan terkini. Masak kalian nggak bisa berpikir universal sih. Nggak semua orang mengganggap pacaran itu HARUS atau WAJIB. Masih ada segelintir orang yang memilih sendiri bukan karena mereka nggak laku atau nggak ada yang memilih. Namun atas kehendak mereka sendiri, keputusan yang mereka anggap baik untuk hidupnya. Karena pacaran nggak menjamin masa depan. Ada masalah yang lebih menguras emosi, tenaga dan waktu selain hanya sibuk memikirkan ‘pacar mana?’. Karena sendiri bukan berarti sepi bukan? Single atau jomblo bukan dosa besar yang harus kalian tertawakan.

Aku bukan ada dibarisan “No Pacaran, Ta’aruf Aja “. Aku sama seperti gadis seusiaku. Ingin merasakan gimana sih pegangan tangan sama cowok yang kita suka, makan bareng, jalan bareng sama dia yang bikin hati deg-degan. Tapi anehnya saat ada laki-laki yang mendekat dan bilang cinta padaku dengan ratusan alasan aku menolak. Bukan sok jual mahal. Aku gadis polos yang tak pernah mengenal cinta secara serius.

Pemikiranku dangkal soal cinta, ya begitulah. Aku menjalani 20 tahun hidupku sendiri. Aku terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri.Aku bukan mencari laki-laki layaknya oppa-oppa tampan yang posternya terpanjang di dinding kamarku. Bukan. Bukan pula mengincar laki-laki dengan kantong tebal. Aku pilih laki-laki yang mampu membuatku nyaman berada di sisinya, bercerita tentang dunia yang kujalani tanpa takut dia akan ‘menjauh’ setelah mendengar ceritaku. Laki-laki yang memperlakukan aku dengan sopan. Yang tak hanya menerimaku namun juga keluargaku.

Advertisement

Dan sepanjang penantian ini ‘dia’ masih belum menunjukan diri dihadapanku. Tuhan masih merahasiakannya, menyimpannya sampai waktu itu tiba. Aku menunggu waktu itu datang.

Aku isi hari ku yang sendiri dengan rutinitas yang menyibukkan. Membangun mimpi yang ingin ku capai. Berjuang mewujudkan satu per satu mimpi ku sendiri. Mimpi-mimpi yang telah ku rancang dengan sangat baik. Sebuah perjalanan hidup yang begitu menguras waktuku. Sibuk bangkit saat aku terjatuh dalam misi mewujudkan mimpi. Jatuh lagi dan bangkit lagi (sendiri).

Aku wanita mandiri yang tak mengganggap status ‘single’ sebagai suatu masalah besar. Aku percaya Tuhan punya rencanya sendiri. Untuk urusan ‘cinta’ aku serahkan pada Tuhan. Aku pasrah kisah cintaku nanti padanya. Bagaimana rupa laki-lakiku hidungnya kulitnya. Apa pekerjaannya? Apa yang ia tawarkan untuk masa depan kami nantinya. Aku terima segala yang telah Kau atur, Sang Pemilik Kehidupan.

‘CINTA’ bukan sesuatu yang saat ini mengganggu pikiranku.

Aku cukup lelah mengurus impianku yang ternyata tak mudah. Butuh usaha keras untuk menciptakannya jadi nyata. Aku cukup sakit kepala menata keuanganku yang sangat menepis. Berjuang keras sendiri menambah pundi-pundi di dompetku. Aku iri melihat teman seperkuliahan yang mengenakan pakaian baru disetiap materi, gonta-ganti sepatu, tas sesuka mereka tanpa memikirkan dompet yang akan kempis.

Aku ingin seperti mereka. Menikmati masa kuliah yang tak akan terulang. Nongkrong sehabis jam kuliah berakhir. Namun aku belum bisa berfoya seperti mereka.Aku harus irit tapi nggak pelit, menabung demi uang semester.

Aku mendoktrin diriku sendiri “Aku berbeda dengan mereka, aku harus berkerja, sabar dengan prosesnya jika ingin terlihat seperti mereka”. Tak ada kata “weekkend” dalam kamusku. Hari libur juga mesti kerja. Bukan terlalu ambisius apalagi serakah. Aku hanya memanfaatkan waktu kosongkku untuk memiliki sebuah pekerjaan. Aku butuh uang. Bukan hanya untukku namun juga untuk orang yang kusayang, Ibu dan Bapakku.

Dua orang yang selalu menjadi penyemangatku. Saat aku terlampau lelah mengejar apa yang terasa sulit untuk kugapai. Saat aku ingin menyerah. Mereka merangkulku beri aku kekuatan hanya dengan pelukkan. Aku tak bisa berhenti memupuk harapanku akan hidup yang lebih baik.

Misiku saat ini belum sepenuhnya sukses. Jalanku masih panjang. Penuh tanjakan, kelokan maupun lubang-lubang yang menghambat lajuku. Tak masalah selagi ibu dan bapak sehat, selagi aku masih bisa melihat tawa mereka. Aku akan bertahan dengan kesulitanku. Aku bisa mengatasi kecemasanku sendiri.

Soal cinta?

Bukankah sudah aku katakan aku menyerahkannya pada Tuhan. Aku benar mengabaikannya saat ini. Bukan berarti aku menolak berteman dengan mereka. Siapa pun aku menerima mereka untuk dekat denganku. Namun pada akhirnya aku lah yang memutuskan pada siapa hati ini akan kuberi. Aku pun menunggu dan bertanya siapa laki-laki itu. Laki-laki pertama yang akan mencium, memeluk, dan menggengam tanganku.