Hai suamiku, ini adalah Ramadhan pertama kita. Kita cukup berbuka puasa dan sahur dirumah saja karena aku kini sudah bisa memasak

Menjadi seorang Ibu Rumah Tangga tak pernah terbayangkan rasanya. Kehidupanku 180 derajat berubah ketika memutuskan untuk meninggalkan kota tercinta dan memilih mengikuti kehidupan suami disebuah desa kecil dipulau seberang. Menikah beberapa bulan lalu dan kerepotan – kerepotan ini semakin aku nikmati ketika memasuki bulan puasa.

Terbangun tengah malam untuk makan sahur dan suamiku tidur disampingku. Membuka mata pertama kali kemudian menatap wajahnya. Menyiapkan menu sahur romantis kita, membangunkannya dengan manis lalu kita menikmati santap sahur kita. Mata masih terasa berat untuk dibuka tapi itu terasa nikmat karena surat tugas sebagai seorang istri dari suamiku turun langsung dari Allah SWT.

Menjelang sore, kesibukan dimulai kembali. Menyiapkan menu untuk berbuka puasa. Memasak beberapa takjil dan menu santap malam kita. Setelahnya, menunggu saat – saat berbuka dengan berjalan – jalan ke pantai yang tak jauh dari rumah. Menikmati saat – saat matahari tenggelam berdua dengannya, sambil berbincang tentang kehidupan kita selanjutnya. Saat – saat itu menjadi saat yang sangat menyejukkan hati. Nikmat itu tidak akan kami dustakan karena sangat terasa mendamaikan keluarga kecil kami. Jika sebuah pertanyaan ini ditujukan kepadaku “ Apa kamu lelah “? Aku akan menjawab “ Iya, aku sangat lelah tapi lelahku tak akan terasa karena aku mengingat Allah”. Aku mengingat dulu aku pernah menanda tangani surat perjanjian dengan Allah. Perjanjian pada saat pernikahan kami, dan surat tugasnyapun turun langsung dari Allah. Bukankah itu menakutkan jika saya melanggarnya ?

Dan Alhamdulillah untuk semua yang Allah berikan untuk saya. Semoga Ramadhan tahun ini, Ramadhan tahun depan, dan Ramadhan – Ramadhan tahun – tahun berikutnya kita menjadi manusia yang semakin bersyukur atas nikmat-Nya.