Saat kita menjejakkan langkah kaki kita pada indahnya rona-rona persahabatan, tak sedikit pun terlintas dalam asaku bahwa itu akan mampu membuat kita terseret ke dalam arus lautan yang deras dan berbahaya yaitu ‘cinta’. Yang kita rasa atau yang aku rasa kala itu, hanyalah tawa dan canda yang mewarnai waktu-waktu kita. Hingga penatnya rindu yang waktu dan jarak bebankan tak terasa, di awal.

Terkadang yang menggelitik perut kita adalah kesulitan untuk memulai hal yang berbau serius. Kita tak sanggup menahan diri karena selalu ada lelucon yang menggagalkan suasana yang tadinya serius. Perlahan kita menyadari ada ‘keseriusan’ yang hadir di antara kita namun hanya mampu tersampaikan dalam ‘candaan’.

Keadaan itu, membuat kita pandai berkonotasi. Dan perlahan ‘candaan’ itu menjadi kedok kita untuk saling menunjukkan rasa hati, yang tak pernah mampu bibir katakan. Kau melihat diriku sebagai butiran pasir yang bertebaran di pinggir pantai yang warnanya terkadang menjelma ke-emasan kala matahari terbenam, dan aku melihat dirimu sebagai jejak dari langkah kaki yang membekas dipasir pantai. Dan kiasan itu menjadi figuran yang mendramatisir kisah kita.

Kenapa? Karena tak kusangka, kau tak mampu kupertahankan meski kau berada di dalam kehidupanku, dekat denganku, dan berdiri di hadapanku. Kenapa? Karena aku adalah pasir di laut dan kau jejak yang membekas di pasir di pinggir laut yang dalam hitungan detik akan tergerus dan terhapus oleh deburan ombak yang bergulung-gulung ke tepian.

Lenyap, aku lemah aku tak berguna, aku tak sanggup menghentikan derasnya gulungan ombak yaitu takdir yang bergulung-gulung seakan begitu ‘bersenang-senang’ dan ‘tak sabar’ melenyapkamu. Begitulah, kau pergi karena takdir membawamu ke jalan yang berbeda denganku. Kau memutuskan untuk menjadi nyawa yang berbeda di jalan itu. Kau memaksa dirimu untuk berhenti. Kau juga memaksaku untuk berhenti. Berhenti berencana bahwa kita akan bersama.

Advertisement

Itu bukan porsi dalam hidup kita. Lalu bagaimana aku, yang sudah mencintaimu sedalam ini. Lalu bagaimana? Tak akan pernah ada jejak yang sama seperti jejakmu lagi yang menginjak pasir sepertiku. Tapi aku, akan selalu menjadi pasir yang sama di sana. Dan meski akan ada jejak-jejak lain yang membekas padaku yang adalah pasir. Namun, tak akan ada jejak yang selembut milikmu dan memiliki ukiran yang se-menawan milikmu.

Dan meski kau tak akan kembali kecuali kau yang menginginkan dirimu untuk kembali dengan dirimu yang dulu, aku akan tetap setia menantimu, menantimu, menantimu. Tak peduli sudah berapa jauh kau melangkah. Ada sesal yang menyalahkanku, seharusnya kita jangan pernah bermimpi untuk ‘berserius’ karena ternyata itu memperjelas kesemuan diantara kita.

Jika saja kita bertahan untuk diam dan berbahagia dalam candaan, maka kita tak akan pernah kehilangan kita. Kelak memori adalah tempat kita untuk reuni. Memori itu akan begitu melekat hingga aku tak berniat menghapusnya sekalipun airmata yang berkata kala kumengingat.

Ada sesak yang menghujam kala pasir sepertiku ini memandang matahari yang terbenam di ujung sana. Karena meski jejakmu telah sirna namun seyummu menjelma dalam sinar matahari. Dan aku, aku selalu melihat kau terseyum di sana kala matahari terbenam dan aku teringat persahabatan kita yang menjelma menjadi cinta dan berakhir seperti hilangnya jejak di pasir karena gulungan ombak. Tanpa bekas.