“Patah hati adalah sebuah mata pisau yang siap menikam kapan saja.

"Jika kau tak pernah kuat, rasa itu akan membunuhmu dalam sekejap"

Matahari itu menampar wajahku begitu keras, membangunkanku secara paksa. Hari ini aku tertidur begitu lelap, sehingga tak menyadari matahari makin tinggi meninggalkan bumi. Cahaya itu masuk melalui sela-sela jendela, rasanya yang menyilaukan mata seakan terus memaksaku untuk bangkit dari tempat tidurku, tempat yang begitu nyaman untuk rasa malasku.

Meninggalkannya terasa begitu sulit ketika tubuhku sedang tak ingin melakukan apa-apa dan ingin terus tidur saja. Akhirnya aku mengalah pada matahari yang semakin perkasa. Mataku perlahan kubuka sembari menarik nafas perlahan, meski kepalaku masih terasa berat, namun aku berusaha agar tak tertidur kembali.

Nyawaku yang berhamburan pun mulai aku kumpulkan satu persatu. Mataku sudah terbuka lebar, namun pikiranku masih mengawang-awang kesana-kemari. Aku hanya terus berbaring beberapa saat tanpa melakukan apa-apa, hingga akhirnya kupaksa tubuhku untuk bangkit menuju kamar mandi.

Setelah sedikit membersihkan diri aku menuju ke dapur, ternyata di depan meja makan ada ibuku yang sedang berdiri, ia menoleh kepadaku, tanpa lupa mengikut sertakan senyumnya yang begitu tulus. Ibuku menanyakan kabarku, pertanyaan yang semakin sering ia tanyakan beberapa hari ini. Entah apa yang dipikirkan oleh ibuku saat ia menatapku, mungkin saja ia melihat ada yang aneh dengan sikap dan tingkah lakuku.

Advertisement

Firasat seorang ibu memang begitu kuat jika itu berhubungan dengan kondisi orang-orang yang ia sayangi. Aku rasa wajar saja ibuku selalu menanyakan keadaanku. Sudah beberapa hari ini aku tidak masuk kampus, aku hanya berdiam diri di rumah, duduk di sofa dan menonton televisi.

Pertanyaan ibuku pun selalu aku jawab dengan jawaban yang sama, "aku baik-baik saja, hanya sedang malas untuk beraktifitas di luar rumah, beberapa hari ini dosenku tidak masuk, itu sebabnya aku tak pernah masuk kuliah". Pertanyaan ibuku selalu aku jawab dengan suara pelan sambil memasang mimik wajah yang sedang baik-baik saja, walaupun aku sadar telah membohongi ibuku tentang apa yang saat ini kurasakan.

Beberapa tahun lalu salah satu teman kampusku mempertemukanku dengan seorang sahabatnya. Waktu itu kami pun langsung berkenalan, saling menjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Jujur saja sebenarnya bukan suatu kebetulan kami bertemu di salah satu kafe yang sering aku datangi tiap akhir pekan ini. Akan tetapi aku yang memang sengaja meminta untuk diperkenalkan dengannya.

Suatu hari teman kampusku itu memajang sebuah foto di akun media sosialnya, ada beberapa orang dalam foto tersebut, namun ada salah seorang yang berhasil menarik perhatianku. Sejak saat itulah aku mulai merengek untuk diperkenalkan. Hingga akhirnya hari itupun tiba, lewat pesan singkat kami mengatur strategi. Ingin meminjam sebuah buku kami jadikan alasan untuk menyembunyikan tujuan utama pertemuan itu.

Hampir sebulan lamanya aku berusaha mendekatkan diri, hingga akhirnya diapun menerimaku menjadi kekasihnya. Semenjak itu hari-hari aku lalui dengan perasaan yang begitu berbunga. Ada seseorang di sampingku yang selalu memberi perhatian lebih dan menyayangiku pastinya.

Hampir setiap hari kami bersama, saling berbagi cerita, berbagi keluh kesah, juga berbagi uang kadang-kadang. Tak ada yang lebih indah memang ketika cinta itu hadir dan dipersatukan dalam satu ikatan.

Namun hari-hari yang indah itu telah berakhir, beberapa hari yang lalu cinta kami kandas dan tak bisa diselamatkan lagi. Perbedaan pendapat dan perubahan sikap yang awalnya hanya masalah kecil ternyata mampu menjadi pemicu perdebatan demi perdebatan yang tak pernah berujung.

Rasa lelah dengan kondisi yang tak harmonis lagi pada akhirnya membuat kami menyerah, kami pun memilih untuk mengakhiri kisah cinta ini. Meski disatu pihak aku tak ingin mengakhirinya, namun perpisahan ini pada akhirnya harus kuterima sebagai sebuah kenyataan yang begitu pahit.

Ibuku mengatakan bahwa akhir-akhir ini aku sering terlihat murung, terkadang ia mendapatiku sedang melamun dengan tatapan yang begitu kosong, juga sering mengurung diri dalam kamar. Beberapa hari telah berlalu sejak diriku resmi menyandang status sebagai jomblo baru di minggu ini.

Namun ternyata masih ada kesedihan hingga hari ini, perasaan yang awalnya kukira akan baik-baik saja, ternyata tidak sedang baik-baik saja. Rasa perih itu enggan berpamitan, ia serasa tak ingin segera pergi, menjauh, dan menghilang dari perasaanku.

Hingga hari ini aku tak mampu sepenuhnya menjadi sosok yang betul-betul tegar dan mampu menghadapi situasi seperti ini. Otakku kelelahan karena mencoba melogika semua yang terjadi. Namun ternyata ia tak mampu menampung permasalahan ini sendiri, hingga pada akhirnya otak di dalam kepalaku mengirimkan sinya-sinyal itu ke seluruh tubuh. Aku tertunduk, sekujur tubuhku kini tau jika aku sedang patah hati.

Menjadi hal yang terasa amat sulit kini, ketika cinta yang pernah menyatu dalam sebuah ikatan yang begitu kuat harus berakhir. Kini yang tersisa hanyalah rasa pahit yang memenuhi dada, menjadi sesak yang teramat sangat, bahkan untuk sekedar bernafas secara normal pun terkadang terasa begitu sulit ketika berhadapan dengan kenyataan yang teramat sulit kupahami dan kuterima dengan lapang dada.

Perlahan waktu terasa berhenti di hadapanku, begitu pula hidup yang aku jalani, serasa ingin segera aku akhiri saja, karena satu hal yang begitu berharga kini tidak lagi kumiliki.

“Jika kau tau rasanya patah hati, kau takkan berani mengenal cinta.”

Hari demi hari berlalu, mungkin benar kata temanku, jika aku hanya butuh waktu untuk bersiap kembali menata hidupku, hal itu akan terasa sulit kulewati jika aku terus saja mengurung diri. Setelah apa yang aku alami, hari-hari itu harus aku lewati dengan sesal yang terlambat kusadari. Namun pada akhirnya aku harus bangkit dan keluar dari situasi ini.

Akhirnya aku memilih untuk keluar dari pelarianku, berkumpul dengan orang-orang yang peduli denganku dan pada akhirnya menjadi obat pelipur lara yang begitu mujarab. Perlahan hatiku yang luluh lantah terbentuk kembali, perlahan rasa sakit itu berkurang dan lama-kelamaan hilang sama sekali.

“Do'aku begitu sederhana, mengingatmu tanpa merasakan apa-apa lagi.”

Pada akhirnya aku bisa lepas dari fase patah hati, namun kini ada fase lain yang harus aku hadapi yakni melupakan. Melupakan menjadi fase yang juga teramat sulit dilakukan ketika kita berhasil keluar dari fase patah hati, karena apa yang pernah kita lalui dengan senyum, tawa, bahkan airmata pada akhirnya akan terasa begitu sulit dilupakan ketika ia menjelma menjadi sebentuk kenangan yang terukir begitu jelas dalam hati.

Segala sesuatu yang pernah begitu menyentuh, begitu haru, begitu membahagiakan hati dan pikiran bermain di dalamnya. Berbohong kepada orang lain akan sedikit lebih muda daripada membohongi diri sendiri. Karena hati dan pikiran pada akhirnya akan saling mendebati satu sama lain tanpa ada yang pernah mau mengalah.

Situasinya semakin memburuk ketika hati dan pikiran mulai saling menyalahkan dengan mencari pembenaran demi pembenaran, agar mampu sedikit mengurangi rasa sesak di dada, karena "berpura-pura lupa" rasanya lebih menyakitkan daripada jujur pada diri sendiri.

Meskipun melupakan adalah cara paling kejam menghakimi masa lalu, namun di sisi lain, melupakan merupakan sebuah pintu menuju rumah yang baru, meski tak akan pernah sama, namun keindahan yang tercipta pada akhirnya membuat rumah itu terasa nyaman dan meneduhkan. Aku teringat dengan salah satu pesan seniorku di kampus,

“Jika dunia ini hanyalah persoalan hidup dan mati, maka cinta juga hanyalah persoalan datang dan pergi, berdamailah dengannya maka kau akan bahagia”.

Seperti pada saat-saat aku keluar dari fase patah hati, mungkin yang aku butuhkan kini hanyalah sedikit tambahan waktu untuk melupakanmu. Mungkin awalnya akan terasa sulit, namun aku percaya bahwa jejak-jejak yang kita tinggalkan pada akhirnya akan luntur oleh tapak-tapak kaki yang baru.

Kenangan memang sulit untuk dilupakan, namun bukan berarti aku tak bisa jatuh cinta lagi.