Aku bukanlah manusia yang sempurna. Banyak kesalahan yang sering kubuat seiring berjalannya waktu. Kenapa aku selalu memilih yang terburuk? Kenapa keberuntungan menjauh dariku? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terbersit di pikiranku setiap kali aku gagal menghasilkan sesuatu yang baik.

Aku bermimpi untuk menjadi seekor merpati, yang menerbangkan pesan damai dan kasih kemana pun ia pergi. Yang takkan pernah lupa akan jalan kembali dan selalu mengingat akan cintanya bahkan saat ia jauh. Namun aku terbangun dan mendapati hidupku masih seperti ini.

Teringat akan perjalanan bertahun-tahun lalu, ke benteng tanda sejarah yang berdiri dengan megah di tepi pantai. Di mana aku dan sahabatku menjalin relasi baru dengan anak-anak yang bahkan umur mereka tidak sampai setengah dari umur kami. Petualang sehari itu bukanlah pengalaman yang mudah dilupakan.

Teman sepermainan – begitu kami panggil mereka – menyunggingkan senyum lebar meskipun hanya sebungkus biskuit sederhana yang kami berikan. Awalnya kami tak meminta balasan, namun seterusnya mereka menemani petualangan kecilku dan sahabatku mengelilingi benteng besar peninggalan jaman Belanda.

Aku dan sahabatku bermain dengan pasir pantai. Mengukir nama kami dengan ranting kayu dan kemudian memotretnya sebagai kenangan. Berlari di atas pasir, memperhatikan jejak langkah kaki kami yang tertera jelas namun terhapus oleh air setelahnya. Tidak peduli dengan teman-teman yang lain, kami menjelajah lebih jauh ke dalam benteng.

Advertisement

Merupakan suatu kehormatan, menjadi yang pertama masuk ke dalam benteng. Kami memotret setiap sudut demi sudut. Menemukan sarang burung yang tak berpenghuni, lorong sempit yang hanya dapat dimasuki oleh anak kecil, dan tempat persembunyian yang sudah ditutup lebih dari satu abad.

Sayangnya kami tak dapat menikmati seisi benteng lebih lama, karena para guru sudah mengizinkan teman-teman yang lain masuk ke dalam wilayah benteng. Perlahan-lahan kelompok kecil kami yang tak lebih dari 6 orang terpaksa menyingkir dari keramaian. Beralih ke halaman benteng yang juga tak kalah luasnya.

Aku menatap ke arah lain saat kami sedang duduk beristirahat. Beberapa pemuda yang duduk tak jauh dari kami sedang memetik gitar di bawah naungan pohon yang sejuk. Hanya satu dari mereka yang membuatku tak berpaling. Sebentar saja dan tak lebih dari semenit sudah kupuaskan keinginan mataku. Meski aku tak menyangkal bahwa sebagian hatiku juga menginginkannya.

I want him to see the flowers in my eyes and hear the songs in my hands. – Francesca Lia Block

Panggilan sahabatku menyadarkanku kembali. Bahwa aku hidup di dunia nyata dan aku tak bisa mengingini kepunyaan orang lain. Kuambil kamera untuk memotretnya dengan teman sepermainan. Bergiliran kami saling memotret satu sama lain. Benar-benar hari yang cerah untuk berpose jika ku ingat-ingat kembali.

Tertanam jelas dalam memori saat-saat terakhir kami sebelum pulang. Teman-teman sepermainan mengiring kepergianku dan sahabat sampai ke jalan raya, tempat terjauh yang dapat mereka capai. Sedih memang, tapi jika waktu mengizinkan semoga kita dapat bertemu kembali.

Saat kurenungkan kembali, aku menghabiskan banyak waktu dengan sahabatku. Mengingat umur persahabatan kami masih cukup muda, baru dua tahun. Namun kami seperti sudah mengenal satu sama lain sejak kecil. Bersahabat dengannya mungkin adalah salah satu dari beberapa pilihan yang tidak akan pernah kusesali dalam hidup.

Sama halnya dengan menyukai seseorang yang mungkin dapat kusebut sahabat mengingat kami cukup dekat dulu. Walaupun pada akhirnya aku tidak bisa memanggilnya sahabat, aku akan tetap menyayanginya sebagai sahabat kecilku. Jalannya yang mengikuti arus seiring perkembangan jaman, membawanya semakin jauh. Gapaian tanganku takkan pernah sampai padanya.

Sejujurnya, ingin aku berlabuh padanya. Namun sama halnya denganku, ia juga masih tersarut ombak ke lautan yang lebih luas. Kudoakan agar jangan ia karam di tengah lautan, namun biarlah ia sampai di pelabuhan yang lebih pantas untuknya.

Perhaps a great love is never returned. – Dag Hammerskjold