Aku batak. Dan kami memanggil mereka dengan sebutan oppung. Hidup di sebuah kampung di ujung Pulau Sumatera bagian utara, Sibolga. Oppung memiliki sembilan anak dan tinggal di sebuah rumah kayu dua lantai. Pulang kampung adalah hal yang selalu kami lakukan saat natal menjelang tahun baru tiba. Jarak dari rumah kami ke rumah oppung sekitar 218 KM, memakan waktu sekitar 6-8 jam dengan bis. Jadi, kami hanya bertemu oppung satu kali satu tahun.

Suatu hari, sebelum pulang kampung, aku yang saat itu masih kelas 4 SD dihampiri oleh ayahku. Ia mengajakku bicara empat mata. Menanyakanku apakah aku punya uang tabungan. Aku hanya mengangguk dan ayah menyampaikan maksudnya untuk meminjam uangku, untuk ongkos pulang ke Sibolga katanya. Pada saat itu keluargaku tidak punya mobil pribadi. Kami harus menaiki bis untuk pulang kampung. Aku sangat berat hati menyetujuinya. Hal yang kuingat adalah celengan ayam tempat aku menabung itu belum penuh. Lalu ayah meyakinkan aku bahwa ia akan mengganti uang tabunganku itu. Akhirnya aku merelakan ayah membuka celenganku. Jumlahnya sekitar Rp. 50.000,00. Bukan jumlah yang sedikit pada tahun 2003.

Setelah sampai di rumah oppung dan berkumpul bersama keluarga yang lain, aku sudah melupakan uang yang kuberikan pada ayah. Suatu sore, oppung doli (kakek) mengajakku bersantai diteras rumah, melihat adik dan sepupuku bermain di halaman rumah.

Oppung doliku sudah berumur 70-an pada saat itu. Rambutnya sudah putih semua. Bertubuh tinggi dan kulitnya sudah sangat keriput. Ia cuma punya satu mata yang berfungsi karena pada masa penjajahan Jepang, ia menjadi korban penembakan penjajah. Ia bercerita bahwa ia tidak dibawa ke rumah sakit pada saat itu. Hanya berobat kampung.

Tiba-tiba ia bertanya padaku, "berapa uang tabunganmu yang dipakai bapak untuk ongkos kesini?"

Advertisement

Aku heran dan tersenyum lalu menjawab, "Eh, kok tau oppung? Uda la ah, pung."

"Nah, simpanlah uang ini ya. Jangan tau adekmu dan yang lain. Cemburu nanti mereka", kata oppung sambil menyerahkan satu lembar uang seratus ribu-an. Aku terkejut dan senang sekali. Aku tidak menyangka mendapat uang sebesar itu. Aku langsung memeluknya.

Oppung doli adalah seseorang yang disegani di kampung. Ia sering diundang dalam permusyawarahan kampung jika ada suatu persoalan. Ia juga sering membantu warga untuk mengurus Surat Izin Membangun suatu gereja atau mesjid ke pemerintah.

Jadi tidak heran jika banyak sekali warga kampung yang sering singgah ke rumah oppung. Entah untuk membicarakan hal yang serius, memberikan buah tangan atau hanya sekadar menyapa, menanyakan kabar lalu pergi.

Ketegaran batin oppung diuji saat anak bungsunya meninggal akibat kecelakaan. Usia anak bungsunya itu baru sekitar 20-an, baru saja memulai pendidikan TNI. Entah hati sekuat apa yang dimilikinya, namun ia bisa sangat tabah dihadapan delapan anaknya yang lain. Ia bahkan yang memberi penghiburan kepada oppung boru (nenek) saat itu, cerita ayahku.

Mungkin hati oppung memang sudah sangat kuat menanggung kepergian beberapa anggota keluarganya. Orang tuanya yang meninggal pada masa penjajahan menjadi kehilangan terbesarnya. Ia juga mengajarkan aku bahwa kehilangan di dunia akan menyatukan kita kembali di akhirat.

Oppung doli adalah sosok ayah yang sangat humoris. Masih kuingat jelas ia mengajakku jalan-jalan sore dengan motor astrea-nya yang berwarna merah putih saat usiaku masih lima tahun. Ia bahkan menumpangkan motornya pada seorang ibu yang hendak berjalan menuju pasar yang akan kami lalui. Aku duduk di jok depan motor pada saat itu. Ia juga memberi aku sebuah baju merah polkadot putih lengkap dengan topi bundarnya, lalu menyuruhku bergaya seperti peragawati, aku ingat hal itu dari album kenangan yang disimpan ibuku.

Hal yang paling membuatku merindukannya adalah tawanya. Ia tidak lagi memiliki gigi yang lengkap, sudah ompong istilahnya. Jika ia tertawa, hal yang tadinya lucu menjadi sangat lucu ketika aku melihat ia tertawa. Hal yang paling ia sukai dariku adalah saat aku menyanyi. Ia suka mengajarkan aku menyanyi dari kecil dan akan sangat senang sekali ketika melihat aku bernyanyi di depan banyak orang.

Namun di tahun 2005, Tuhan memanggil oppung doli. Apa yang kupikirkan pada saat itu?

Tuhan lebih memerlukan oppung doli di surga.

Jadi, entah kenapa aku tidak terlalu sedih, karena aku tau kami akan bertemu di akhirat nanti, seperti kata oppung dulu. Terima kasih sudah sempat mengajari aku sesuatu di masa kecilku pung. Sampai bertemu di kehidupan yang selanjutnya.

Salam sayang,

Oppung B.J Sihombing