Perjalanan adalah sesuatu yang menyenangkan. Kami menyukai sebuah perjalanan, sesingkat apa pun itu. Perjalanan bagi kami adalah sebuah ritual yang bisa membuat kami memahami berbagai macam hal. Melihat keindahan dan keagungan ciptaan Tuhan yang maha mahir menggoreskan kuasNya. Lika-liku di setiap perjalanan pun mampu mengajarkan bagaimana proses kehidupan tak selamanya lurus dan mudah.

Detik menjadi menit, menit menjadi jam. Setiap perjalanan yang panjang akan sampai pada sebuah tujuan, dan tujuan kami kali ini adalah sebuah pantai yang menjadi batas antara dua dunia.

Pantai yang kami kunjungi kali ini adalah salah satu pantai terindah dan terbersih di Malang selatan, yang bernama pantai 3 Warna. Pantai ini terletak di desa Sitiarjo Malang Selatan. Sebenarnya pantai 3 warna ini termasuk dalam jajaran pantai konversi yang sangat dilindungi yang disebut Clungup Mangrove Conservation.

Kita bisa mengunjungi lima pantai sekaligus di kawasan Clungup Mangrove Conservation ini, seperti pantai Clungup, pantai Gatra, pantai mini, pantai Savana, pantai Watu Pecah, dan terakhir pantai 3 Warna yang menjadi spot utama tujuan kami.

Sebelum mengunjungi kawasan pantai ini, kami harus melakukan reservasi terlebih dahulu, karena pengunjung dibatasi setiap harinya. Kami reservasi satu bulan sebelumnya karena takut kehabisan kuota. Sebenarnya tidak ada biaya masuk kawasan Clungup Mangrove Conservation ini.

Advertisement

Karena tiket masuk sebesar 6ribu per orang digunakan untuk donasi satu batang mangrove, 25ribu per tenda digunakan untuk biaya lahan mendirikan tenda di pantai Gatra, 100rb per rombongan (maksimal 10 orang) digunakan untuk biaya guide yang akan mengantar perjalanan kami menyusuri pantai Mini, Pantai Savana, Pantai Watu Pecah dan pantai 3 Warna.

Kami melakukan konfirmasi kedatangan dan ceklis barang bawaan di pos utama. Jika ada barang bawaan yang tertinggal akan dikenakan denda sebesar 100ribu per barang, jadi jangan heran kenapa bisa kawasan Clungup Mangrove Conservation ini bersih dari sampah tak bertuan. Kami mendirikan tenda di Pantai Gatra.

Suara deburan ombak memanggil langkah kaki kami agar segera berlari menghampiri. Perjalanan panjang nan melelahkan puluhan mil dari pusat kota lenyap sudah. Terbayarkan dengan hamparan kemilau pasir dan buih lautan yang menyilaukan, bagai magnet yang siap menghisap masuk kedalam keindahannya.

Belum lagi sihir matahari terbenam di ufuk barat, memberikan perpaduan beragam warna senjanya. Malam menjelang, seolah belum puas, kami disuguhkan dengan hamparan gugusan bintang yang menghipnotis terseret ke jalur milky way.

Esoknya kami berangkat menyusuri pantai, yang dimulai dari pantai Savana, Pantai Mini, Pantai Watu Pecah, dan yang terakhir dan yang paling kami nantikan, Pantai 3 Warna. Seperti namanya, terdapat gradasi 3 warna pada pantai ini, yaitu kecoklatan (warna pasir), hijau, dan biru.

Sungguh perpaduan warna yang menyegarkan. Seperti melihat serpihan surga, air yang biru memangil-manggil untuk segera dimasuki. Memang tujuan utama kami adalah untuk snorkeling, melihat keindahan karang dan berenang bersama ikan-ikan yang lucu.

Perjalanan kami kali ini pun, memberikan banyak pelajaran yang amat berharga bagi kami. Pertama, jangan pernah untuk berpikiran mengambilnya untuk oleh-oleh atau bahkan menginjak terumbu karang. Mungkin terlihat sepele, ketika kita mencoba menyentuhnya, mungkin tangan kita yang terluka karena keras dan tajamnya terumbu karang.

Tapi, sebenarnya mereka amat rapuh, luka kita bisa sembuh segera, tak lebih dari seminggu tetapi terumbu karang membutuhkan lebih dari setahun untuk menyembuhkan lukanya. Kedua, jangan pernah untuk meninggalkan sampah kalian di pantai agar anak cucu kita nanti juga bisa menikmati keindahan dan kebersihan pantai seperti kita saat ini.

Hanya jejak langkah kaki kalian yang mampu disapu arus ombak bukan sampah. Ketiga, persahabatan tak melulu harus melakukan hal yang serius dan bernilai, kegilaan seperti saat ini jauh lebih berharga dan meyimpan memori yang tak akan terlupakan.