"Aku berpura-pura tuli akan suaramu."

Dari kejauhan ku lihat langkah goyah dengan tatapan sayu. Aku dibuat tak paham dengan bahasa isyarat yang sambil lalu.

Sampai hatikah kamu buang jauh-jauh bunga rasa dari palung perasaan miliku? Sebenarnya aku hanya lelah harus menjadi seorang penerjemah.

Walau begitu, masih saja setitik ruang harapan bersuara:

"Telah dia simpan cintaku dalam saku rahasia terdalamnya."

Advertisement

Matahari, itulah dirimu. Kamu pernah menyinari sudut gelap di hidupku. Sayangnya, kamu jadi sayu, redup dan berlalu. Rumitnya hidupku tak seberapa dibanding cerita yang telah kita torehkan bersama. Ku pikir berpura-pura tuli adalah cara terbaik untuk sekedar mengintip jati diri tersebunyi dari sosok sehangat mentari pagi.

"Aku ingin tahu. Aku ingin masuk. Aku ingin kembali. "

Maka dari itu, ada ruang beserta jarak dan waktu yang ku tebarkan bersamamu. Namun sayang, harapan harus ku gantungkan.

Kamu melangkah pergi. Berlalu diiringi awan kelabu. Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku.

"Namun, tidak. Kamu bukan matahari. Keberadaanmu tak selama itu. Ternyata kamu lekas berlalu."

Pelangi yang riang menyambut terang setelah hujan.. Itulah kamu.

Hai, pelangi dalam hidupku. Tengoklah sebentar aku. Masihkah kamu mengingat warna-warna kita semasa itu? Berpadu syahdu, berwarna-warni di tengah langit kehidupan yang biru.

Jika kutelusuri sejenak dalam kotak kenangan, sejuknya hingga ke ulu hati memang cuaca di masa itu. Manis, damai, yang kini mengiris hati jika terlalu lama disimpan.

Tampak jelas kamu yang menari di atas kabut hidupku, walau tidak dengan perananmu. Apakah kau tahu?

Tetapi… saat itu.