Sebelum bertemu wanita ini, banyak hal terjadi dalam hidupku. Ya, apalagi tentang patah hati. Sudah tak terhitung berapa kali diriku merasakan pahit dan kejamnya dunia romantika ini.

Tidak sedikit orang yang menggangap cinta hanyalah untuk bersenang-senang. Hanya rasa sesaat yang muncul, jika sudah merasa bosan, cari saja yang lain tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Ada pula yang menganggap cinta adalah sesuatu yang sangat berlebihan.

Membanggakan statusnya berpacaran kepada siapapun di dunia nyata maupun dunia maya. Kebaikan pasangannya selalu disebarluaskan, dan kadang dilebih-lebihkan agar terlihat pasangan paling bahagia sedunia. Hmm, mungkin bumi ini hanya milik mereka berdua. Selain itu, jika ada masalah melanda mereka, bakalan juga rajin update status di social media masing-masing. Tak jarang yang sampai saling menyindir dan menyebarkan aib pasangannya. Mereka tak pedulikan orang lain.

Mungkin ada beberapa wanita yang tertarik kepadaku. Tetapi mereka lari setelah mengetahui kekuranganku. Mulai dari suaraku yang katanya tidak jantan sama sekali (bagaikan anak ayam baru lahir), sampai dengan penampilanku yang terlihat di bawah rata-rata. Bisa dikatakan mungkin aku hanya akan membuat pasanganku terlihat rendah tingkat sosialnya dalam pergaulan.

Aku sadari bahwa memang selera orang berbeda. Jadi, aku tidak sakit menerima ejekan seperti itu. Menurutku, orang yang benar-benar mencintai kita dengan tulus akan menerima apa saja kekuranganmu dan mau hidup bersama apapun keadaannya.

Advertisement

Jatuh cinta pada pandangan pertama pun sering menghampiri hidupku. Tetapi berbeda untuk kali ini, aku jatuh cinta pada seseorang yang ku kenal dari dunia maya.

Memang terlihat aneh, bukan? Cinta pada seseorang yang jelas-jelas belum kita ketahui bagaimana bentuk aslinya. Yang ku tahu hanyalah senyuman manis di fotonya. Uh, senyum itu sungguh terasa hangat bagaikan matahari bersinar di pagi hari. Ya, bisa saja itu foto tersebut hanya ilusi digital. "Tapi, siapa peduli?"

Cinta ini benar-benar tidak diduga kedatangannya. Perasaan yang benar-benar berbeda dari cinta-cinta sebelumnya yang pernah hadir. Tidak pernah sehebat ini efeknya! Padahal kita sama sekali belum pernah bertemu di dunia nyata. Hanya social media penghubung jalinan asmara kita.

Seiring waktu berlalu, kita semakin dekat. Apapun yang kita alami akan saling kami ceritakan. Seakan-akan tidak pernah habis bahan obrolan kita. Namun, ada saat di mana dia bertingkah berbeda dari pada biasanya. Ternyata dia menginginkan sesuatu; yaitu kejelasan hubungan. "Mau di bawa ke arah mana?"

Memang kita terlalu lama menikmati masa tanpa komitmen. Pada ahkirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini ke tahap pacaran. Di tahap ini kita sudah mulai sedikit berubah berbagai komitmen kita bicarakan dengan baik. Maklum, kita saat itu di posisi belum bisa bertemu karenakan kesibukan masing-masing. Saat itu juga mulailah terasa masalah datang satu persatu.

Pertengkaran sudah tidak bisa dihindar lagi. Tetapi ini yang membuat kita bertahan, dia tidak akan meminta untuk istirahat dan melupakan masalah tersebut. Selalu segera mencari solusi dari permasalahan tersebut dan diselesaikan. Sungguh luar biasa wanita satu ini!

Tapi dibalik keunggulan, akan tetap saja ada kekurangannya. Apalagi saat dia mengalami masa PMS. Wah, paham, 'kan?

Salah langkah sedikit bisa berakibat memulai sebuah perang. Apapun yang menurutnya tidak cocok, walaupun itu hal sepele, dia bakalan marah tanpa alasan; sungguh emosi yang sangat tidak stabil. Aku tidak membencinya. Aku harus memahaminya bahwa rasa sakit yang dia rasa itu bukan main-main. Aku saja tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya pria juga mengalami masa PMS. Duh!

Semua berjalan lancar untuk sesaat. Di saat hubungan kami menginjak 8 bulan, ada satu masalah yang benar-benar mengubah segalanya. Dia tidak tahan untuk menjalahi jarak jauh ini. Maka dengan terpaksa, aku ambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kita. Menurutku, aku terlalu lama dan tidak sanggup untuk menemuinya. Daripada dia terjebak dalam dilema ketidakpastian hubungan jarak jauh ini, apakah ada solusi lain?

Dia memohon untuk aku mengubah keputusanku. Tetapi saat itu keputusanku sudah bulat, aku harus memilih pilihan tersebut; walaupun sangat berat rasanya.

Selang beberapa minggu kemudian, setelah kita mengakhiri hubungan, kita masih berkomunikasi dengan baik. Namun, ada satu cerita yang membuat aku menjadi merasa sangat menyesal. Dia sudah menemukan pasangan baru dan mereka satu kota. Rasa iri dan cemburu merasukiku, dada terasa sesak dan sakit. Terlihat seperti drama tapi percayalah itu yang aku rasakan saat itu.

Kesedihan melandaku setiap hari. Apapun aktivitas yang aku lakukan seakan-akan hanya tipuan semata untuk menutupi rasa sakit yang teramat dalam. Orangtuaku saja heran kenapa aku bertingkah beda daripada biasanya. Terlihat seperti orang yang salah mengkonsumsi obat; tatapan kosong tapi terus memikirkan hal lain.

Tiba-tiba dia mengatakan akan berkunjung ke rumah saudaranya yang letaknya tidak jauh dari kotaku. Hanya butuh 3 jam perjalan untuk menuju ke sana. Akhirnya ku temukan kesempatan untuk bertemu wanita yang membuat diriku seperti mayat hidup dan juga membuat diriku menjadi lebih dewasa ini.

"Tidak akan ku sia-siakan kesempatan ini."

Tanpa pikir panjang, aku langsung membeli tiket kereta untuk menemuinya. Meski awalnya dia tak memperbolehkanku menemuinya, akhirnya dia luluh juga. Meski dengan modal "minjem duit temen", aku putuskan segera menghampirinya.

Hari itu datang. Pria yang dilanda rindu berbulan-bulan ini akhirnya bisa bertemu kekasih hatinya.

"Apakah dia masih membenciku? Bagaimana perasaannya terhadapku? Apa dia sungguh mematikan perasaannya dengan alasan dia menjaga perasaan pacarnya?"

Banyak firasat buruk yang berbicara dalam pikiranku, bahkan membuat diriku ingin segera membatalkan niatku untuk menemuinya. Jika tuhan melarang diriku untuk bertemunya, seharusnya aku sudah tidak bisa naik kereta ini dan banyak masalah lainnya yang membuat aku gagal untuk pergi. Toh, aku tetap menaiki kereta ini?

Jantung semakin berdetak cepat. Sesaat sudah sampai di depan rumah saudaranya, aku mencari uang untuk membayar ojek. Tiba-tiba terdengar suara yang cukup berbeda tetapi aksen berbicaranya khas. Saat berbali, seketika waktu berhenti dan tidak percaya! Wanita yang membuat diriku bahagia dan terpuruk itu hadir di hadapanku. Dia melebihi ekspetasiku, lebih manis dari perkiraan, senyumannya lebih indah yang aku kira sulit diucapkan dengan kata-kata.

Kita duduk di ruang tamu, disambut juga oleh keluarganya dengan ramah untuk mempersilahkan masuk. Perasaanku bercampur aduk. Aku ingin berkata, “Aku mohon kembalilah, aku kangen kamu. Aku ingin memelukmu dan tidak akan ku lepas lagi. Aku menyesal atas perbuatanku.” Tapi itu hanya dalam hati dan tidak pernah terucap karena sadar dia sudah bukan milikku.

Di tengah-tengah obrolan seru, dia tiba-tiba memukulku dengan emosi meluap. Dia menangis di pundakku dan aku hanya bisa menghela nafas, pun menahan emosiku untuk larut dalam suasana haru. Aku hanya membelai kepalanya terus menerus untuk menenangkan dirinya. Di saat waktuku hanya tersisa 2 jam, dia semakin keras suara tangisannya.

Aku mengangkat kepalanya dari pundakku dan menghapus air matanya. Aku berkata kepadanya, “Aku nggak ke mana-mana kok. Besok besok bisa ketemu lagi, 'kan? Sudah jangan nangis.”

Ya, penantian selama 10 bulan dibayar hanya dengan 5 jam pertemuan yang indah.

Memang pada akhirnya kita berpisah dan tidak bersama lagi seperti dulu. Setidaknya aku mengerti, Tuhan punya alasan tersendiri mengapa untuk saat ini kita sementara berpisah. Mungkin dengan kejadian ini kita bisa satu sama lain bisa memperbaiki diri sendiri mengubah diri kita jadi pribadi yang lebih baik. Mungkin jika nanti waktunya tiba, kita akan dipertemukan kembali oleh Tuhan dan tidak akan berpisah lagi untuk selamanya.