Biasanya penantian tak lepas dari kata menunggu. Jika menanti dalam jarak yang dekat mungkin biasa saja. tetapi bagaimana jika penantian itu dibatasi jarak dan waktu? Tak salah lagi bahasa kerennya LDR. Para pejuang LDR selalu punya komitmen atas hubungan yang dibangun. Ribuan kilo yang dihempas angin begitu saja dan melaju entah kemana, ribuan detik berlalu tanpa tatap muka. Namun, ini bukanlah hambatan. Aku tetap menantimu dengan cintaku yang begini bahkan kian hari kian membara.

Duniaku kusibukkan dengan aktivitasku tanpa mengurangi rasa rinduku padamu, sosok yang menjanjikan sebuah impian tentang dunia kita, ya aku dan kamu di masa depan. Siapa yang tak ingin menunggu? Jika ketika telepon berdering dan nama sang kekasih yang terpampang jelas di layar handphone dan ketika berbincang lewat udara yang tak hentinya mengolok hubungan ini, lagi-lagi sang kekasih mengumbar mesra dibarengi kuatnya rayuan yang menantang adrenalin untuk tetap menanti.

Sekian hari, bulan bahkan tahun berlalu. Kisah cinta ini masihlah sama. Dan aku masih tetap dalam penantian panjang tanpa rasa jenuh. Semakin cepat waktu berlalu, debaran jantung semakin kuat. Inikah namanya rindu menahun? Iya, aku sadari itu! Aku akui, aku sangat merindukanmu. Aku pun selalu meyakinkan hatiku bahwa kau juga pasti merindukanku. Walau terkadang tak bisa kupungkiri, ada juga rasa takut membersit manakala kau tak memberi kabar sepanjang hari. Namun, kutepis semua itu karena aku tahu bagaimana kau mencintaiku.

Apa yang Tuhan berikan untukku, bukan tidak mungkin tanpa hikmah. Sebuah undangan bersampul merah mengakhiri kerinduanku, cintaku bahkan rasa percayaku kepadamu. Semua berakhir hari itu! Semenjak ketibaannya, aku bahkan tak bisa makan walau sebutir nasi, enggan minum walau seteguk dan enyahlah rasa kantukku meski mata ini ingin terlelap.

Inilah penantianku, penantian yang begitu panjang terbalaskan oleh undangan bersampul merah yang dengan jelas ada namamu tapi bukan namaku yang melengkapinya. Pedih, sesak, sakit! Itulah milikku sekarang. Andai saja aku tahu begini akhirnya! Mungkin aku takkan pernah ingin merajut kisah cinta jarak jauh yang hanya berujung pada duka, lara, gundah dan gulana. Meski begitu! Aku mengikhlaskanmu! Mungkin inilah skenario hidupku! Pahit namun tak berarti tak manis! Karena manis akan terasa setelah pahit. Terima kasih untuk ini!