Pertemanan kita memang singkat.
Berawal dari rasa ingin tahu tentang siapa dirimu, Kawan.

Yah sampai sekarang pun, walau kini kau membenci dan tak memaafkan.. Aku masih menganggapmu sebagai Teman Baik.

Sempat kita berbagi cerita tentang laki laki yg dulu sangat kau cintai. Tentang betapa kecewanya dirimu harus menahan pahitnya cinta yang tak direstui. Usahamu untuk meyakinkan pria itu untuk mempertahankanmu, mempertahankan cinta tulus yang telah terbina selama 3 tahun.

Sempat pula kita berbagi cerita tentang laki laki yang kini aku sayangi. Tentang keseharian pria itu ketika bersamaku. Usahaku untuk meyakinkan pria itu untuk mempertahankanmu, mempertahankan cinta kalian yang telah tumbuh selama 3 tahun.

Ya, kita bertukar cerita tentang pria yang sama. Pria yang kini jadi mantan kekasihmu sekaligus kini menjadi kekasihku.

Advertisement

Mungkin kau tak menyangka jika aku telah berpacaran dengan mantanmu saat kita pertama ngobrol.. Aku tak pernah sekalipun mengakui mengenai hubungan istimewaku dengan mantanmu. Terpaksa kurahasiakan status itu demi keegoisanku yang ingin tahu siapa dirimu bagi Dia.

Dan Sungguh ku tak menyangka mengetahui bahwa lelaki yg kupacari saat itu ternyata memiliki wanita yang masih mencintainya.
Ya, Aku hadir disaat kalian belum seminggu berpisah. Dia menyatakan cinta kepadaku disaat dirimu masih tidak menerima keputusannya untuk berpisah denganmu. Terbiasa putus-nyambung katamu dulu saat kau bercerita tentang kisah cinta kalian. Mungkin itu yang membuatmu mencoba bertahan dengan harapan akan kembali seperti semula.
Banyak hal yang kau ceritakan yang membuatku seakan merasa bersalah terhadapmu. Aku merasa seperti pihak ketiga yang mengkandaskan cinta kalian. Berkali kali aku siapkan diriku untuk melangkah mundur andai cinta kalian bisa dipertahankan. Tapi apa daya, Dia lebih memilih diriku yang disukai oleh ibunya dibandingkan dengan dirimu yang tak disukai.

Dia selalu berkata telah menyerah meyakinkan orang tuanya untuk memilihmu.
Tapi aku terlanjur memainkan peranku sebagai orang yang tak memiliki hubungan istimewa denga mantan kekasihmu. Setiap kali dirimu curiga akan kedekatan kami, aku sering menyangkalnya. Berusaha menenangkan hatimu yang tiap kali merasa sedih melihat foto kami berdua.
Satu sisi aku tak tega menyakiti hatimu, namun disisi lain kebohonganku menggerus kepercayaanmu terhadapku.

Berbulan bulan kita saling menghubungi, bercerita tentang hal yang sama, hingga akhirnya sedikit demi sedikit kecemburuan timbul di hatiku melihat dirimu yang terus menjalin komunikasi dengan pria yang kini jadi kekasihku. Aku pun menuntut prioritas akan keberadaanku diantara kalian… Aku yang sebagai kekasih atau dirimu yang telah menjadi mantan. Kusudutkan Dia untuk memilih hati mana yang harus Dia pertahankan…

Dengan segala maaf yg Dia utarakan kepadamu, Dia memilih mempertahankan diriku dengan memutuskan komunikasi denganmu.

Seketika curigamu menjadi benar.

Kau mempertanyakan lagi mengenai hubunganku dengan mantan kekasihmu.. Dan dengan hati yang terluka, kau harus menerima kenyataan akan kebohonganku yang ku utarakan setelah sekian lama berteman.

Ya aku menyakiti hatimu dengan kenyataan yg begitu pahit.. Yang tak mampu kau terima…
Berkali kali aku melayangkan kata maaf, tapi tak mampu membendung rasa kecewamu… Perasaan dikhianati oleh orang yang diyakini baik.
Dan kini kita sudah menjadi orang lain.
Kembali ke hubungan yang tak saling mengenal dan tak ingin cari tahu…
Tapi satu hal, aku tak akan pernah lupa akan hal ini… Tentang diriku yang menyakiti hati seseorang… Dan Kuharap kau tak lagi mengingat cerita lalu… Aku tak akan menuntut maaf darimu jika tak bisa kau berikan… Asalkan kau bisa jadi pribadi yang lebih bijak.

Temukanlah lelaki yang bisa lebih mencintaimu.
Itu doaku untukmu, Ulfa.