Kaya… adalah sebuah sugesti yang telah ditanamkan kepada banyak orang di era modern ini sebagai bentuk materi


Sudah tidak bisa dipungkiri, saya pun pernah berpikir demikian, ketika kita punya banyak uang kita bebas melakukan segalanya. Kebahagian bisa kita raih, kesenangan bisa kita jalani, benar-benar tidak ada beban dalam pikiran. Sampai suatu ketika muncul sebuah pemikiran,

"Mengapa keadaan seperti ini tidak menimpa banyak orang? jika ini menimpa banyak orang bukankah betapa bahagianya keadaan atau aura kehidupan manusia."

Kaya sungguh dicari banyak orang, termasuk saya sebenarnya hingga saat penulisan artikel ini. hehehe. Jika kita mengamati kaya akan identik dengan bos, pengusaha, wirausaha meskipun tercatat banyak pula wirausaha yang gagal. Semua berlomba mengejar posisi di atas.

"Coba kita bayangkan apakah jadinya apabila semua orang menjadi bos, padahal syarat adanya bos adalah adanya karyawan."

Advertisement

Di dunia ini sudah tidak bisa dilawan bahwa ada kaya pasti ada miskin, bahkan dalam kitab dijelaskan bahwa kita harus mengasihani fakir miskin. Secara logis telah ditetapkan beberapa orang ditakdirkan untuk menjadi fakir miskin. Bro semua telah ditakdirkan. Sefaktanya takdir kehidupan kita telah dituliskan dalam sebuah kitab Lauful Mahfudz dan hanya Tuhan kita yang tahu.

"Oke, jika kita mengandaikan kita bisa melihat isi dari kitab itu, maka kita bisa melihat beberapa orang telah ditakdirkan menjadi kaya materi, beberapa orang ditakdirkan menjadi miskin materi, maka yang terjadi adalah ketidak adilan……, Hem hem Mari kita kaji….."

Apakah menjadi kaya itu berarti menjadi lebih baik daripada miskin, tidak juga, Jika kita melihat dari sudut pandang lain bisa jadi miskin justru lebih baik daripada kaya. Bagaimana bisa? mari kita lihat,

Ketika kita telah berusaha dan berdoa tetapi tidak juga mendapatkan kekayaan materi. Maka ada beberapa pengandaian logis yang coba disampaikan Tuhan kepada kita dan wajib kita pikirkan. Pengandaian pertama apabila kita menjadi kaya dengan sikap yang sama dan ternyata hasilnya malah kita sibuk dengan materi hingga menjauhkan diri dari Tuhan, maka alangkah lebih baik jika kita menjadi miskin daripada kaya karena kita tidak akan jauh dari Tuhan.

Jika kita pikirkan bisa saja Tuhan memang sengaja menempatkan kita pada posisi yang pantas agar kita tidak merugikan diri sendiri. Mungkin menjadi kaya adalah keinginan semua orang, tetapi bisa jadi pribadi kita lebih membutuhkan keadaan miskin agar menjadi lebih baik.

Kaya adalah sikap. Penulis katakan demikian karena jika memang kita ingin mengejar materi dengan kondisi seperti di atas, maka yang harus diubah adalah sikap. Melawan kenyamanan dari sebuah keadaan kaya lebih sulit daripada melawan ketidaknyamanan dari sebuah kemiskinan, karena melawan ketidaknyamanan kemiskinan adalah alami yang mendorong kebutuhan hidup.

Untuk melawan sebuah kenyamanan, ini yang susah, bagaimana sikap kita agar tidak terlena ke dalam dosa-dosa besar, oleh karena itu tanyakan apakah sikap kita sudah pantask untuk menjadi orang kaya ?

"Selanjutnya bagaimana kita menilai kekayaan bagi mereka yang memang sudah ditakdirkan miskin?"

Dalam hal ini mari kita mencoba memahami bahwa keinginan manusia itu tidak ada batasnya. bayangkan ketika suatu keinginan tercapai, akan muncul keinginan-keinginan lain, tidak akan selesai jika kita terus menerus mengejar materi. Kaya adalah suatu pemikiran membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Sekumpulan orang miskin tidak akan pernah merasa miskin ketika mereka tidak pernah melihat orang kaya. Karena ketika mereka melihat seseorang mempunyai sesuatu yang tidak mereka miliki, muncul suatu egoisme ingin memiliki barang yang sama. Dari sinilah muncul asosiasi yang penulis maksud. Jika keinginan tidak ada batasnya, maka tidak akan ada orang yang benar-benar kaya. Maka sesungguhnya makna kaya kita kembalikan ke dalam pemikiran kita.

Mencoba mensyukuri apa yang sudah kita punya adalah kekayaan yang sebenarnya. Kekayaan ini diwujudkan dengan memunculkan rasa terimakasih yang luar biasa terhadap apa saja yang sudah kita raih dan kita punya, karena faktanya kebanyakan orang menilai sesuatu yang sudah mereka miliki biasa saja.

Dan sesuatu yang biasa ini akan bernilai luar biasa ketika hilang. Beginilah penulis menafsirkan, menjadi kaya materi itu sangat diperbolehkan, tetapi kita cek kembali sikap kita, sudah pantaskah. Jika suatu ketika orang miskin mendapatkan 200 juta secara tiba-tiba, tanpa disertai sikap dan ilmu yang pantas kekayaan ini tidak akan lama.  

Yuk mulai sekarang kita prioritaskan untuk menyelipkan terimakasih dalam doa kita sebelum meminta.