Jarak membuatku semakin ingin berkata rindu atau mungkin hanya berharap pada kepulangan. Terkadang aku ingin dikembalikan di mana aku tinggal sebelumnya. Ketika dunia tak lagi bersahabat denganku. Ketika semua nyata meleset jauh dari perkiraanku. Kejenuhan mulai memenuhi otakku, semuanya lesu dan terlihat palsu. Izinkan aku untuk pulang sebentar saja…

Rumah juga terkadang membosankan bagiku ketika pikiran kami tak sejalan. Tak hanya itu, mulut kami juga saling beradu pada sesuatu hal yang tak begitu berpengaruh pada kenyataan. Ketika mereka mulai tak acuh padaku, ya sibuk sendiri dengan dunianya. Ketika aturan mulai mengikat seluruh anggota badanku dan hanya mulut ini yang beradu. Tetapi aku tak pandai merayu dan akhirnya aku tetap tinggal di sana.

Perantauan tak juga menjamin kebahagiaan untukku bukan berarti hanya luka di sini. Di sini aku diajarkan bagaimana menghargai hidup, bagaimana menghargai setiap detik waktu dan bagaimana menahan rasa rindu. Ya menahan rasa rindu, ketika di sini tergores luka yang dalam. Bahkan setiap langkah terasa berat menahan luka dan rindu. Belum lagi mereka yang hobi datang kemudian pergi, mengetuk pintu dan menghilang. Klasik memang.

Pada akhirnya aku tahu siapa yang pantas dirindu. Kepada siapa aku harus pulang. Kepada siapa aku harus mengadu dan tetap bertahan. Tetapi tak semudah itu, waktu yang mengatur itu semua dan aku tak bisa mengelak adanya takdir. Sekedar pengharapan dan kerinduian yang (mungkin) perlu dijeda.