“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintangan untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah.”

Senandung lirih ‘Ibu’ karya Iwan Fals sangat menyentuh hati, sebagai seorang anak yang pernah atau bahkan masih merasakan kasih sayang Ibu. Kedekatan emosional seorang Ibu dengan anaknya memang sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Lalu bagaimana kedekatan seorang Ayah terhadap anaknya?

Seorang kepala rumah tangga memang lebih ditekankan pada peran publik, yaitu bekerja di luar rumah mencari nafkah untuk keluarga hingga larut malam. Sedangkan Ibu lebih cenderung ke peran domestik sebagai seorang Ibu dan istri. Selain itu para Ibu juga harus memikirkan suami, masalah keluarga, kesehatan hingga masalah kesuburan. Hal ini yang menyebabkan para kaum Ibu cenderung mudah stress.

Adanya stereotip yang menentukan bahwa tugas utama seorang perempuan sebagai ibu rumah tangga dan laki-laki sebagai pencari nafkah, menimbulkan anggapan bahwa penghasilan perempuan adalah penghasilan tambahan atau sambilan dan cenderung tidak dihitung atau tidak dianggap.

Untuk itu seorang Ibu butuh ruang gerak dalam mengembangkan diri dan berkiprah di luar rumah. Lantas, apakah mereka ingin lepas dari tanggung jawab sebagai seorang pengurus rumah tangga? Bukan itu.

Advertisement

Disadari atau pun tidak, peran Ibu dalam mencari nafkah mulai menggantikan tugas Ayah. Dominasi ‘Wonder Women’ telah semakin menjamur dalam mengisi tempat-tempat penting dalam suatu institusi.

Saparinah Sadli, dalam bukunya yang berjudul Berbeda Tetapi Setara mengatakan bahwa faktanya memang ada sejumlah kecil perempuan dalam bidang pendidikan dan bisnis yang telah mengisi kedudukan kepemimpinan berdasarkan yang ia miliki. Sementara dalam bidang akademik, perempuan yang mencapai gelar doctor, Ph.D, atau professor semakin hari semakin banyak jumlahnya. Di antara mereka ada yang telah mengisi jabatan rektor dan dekan atau mengisi jabatan kepemimpinan lainnya.

Ada beberapa alasan yang membuat seorang Ibu memilih berkarir:

Tuntutan hidup.

Banyak di antara Ibu yang bekerja bukan karena keinginan mereka, melainkan karena tuntutan untuk menghidupi keluarga. Apalagi jika mereka tinggal di kota besar, otomatis segala kebutuhan hidupnya juga membesar. Satu hal yang paling menyedihkan terjadi apabila factor utama seorang Ibu bekerja adalah karena sang suami menganggur.

Bisa dibayangkan betapa berat beban yang dipikul seorang Ibu yang harus melayani suaminya dan juga harus bertanggung jawab terhadap anak. Tapi ada hal yang perlu diingat, seorang wanita seharusnya selektif dalam menentukan pasangan hidup. Jangan sampai seorang Ibu dan anaknya menderita karena perilaku tidak bertanggung jawab sang suami.

Kebebasan Finansial.

Mendapatkan uang lebih memang suatu kebutuhan bagi seorang Ibu. Tidak bisa dipungkiri, kebutuhan seorang Ibu memang lebih banyak daripada seorang Ayah. Misalnya ingin menyekolahkan anak di sekolah yang lebih baik, ingin memiliki rumah yang lebih baik demi kenyamanan keluarga.

Ada juga Ibu yang bekerja karena mereka ingin lebih bebas dalam membeli barang-barang sekunder. Misalnya perhiasan, alat kecantikan dan pakaian. Selain itu ada hal yang terpenting, yaitu untuk berjaga-jaga agar ekonomi rumah tangga tidak surut ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Mengembangkan Diri.

Setiap manusia tentunya memiliki keahlian di bidangnya masing-masing. Terutama seorang Ibu, biasanya mereka memiliki bakat di bidang keahlian menjahit, hingga memasak. Kemampuan yang dimiliki tentu karena perannya sebagai ibu rumah tangga yang setiap harinya memasak untuk keluarga. Namun kemampuannya ini sering menjadi masalah, jika tidak pandai dalam memposisikannya. Bagi beberapa ibu yang cerdas dan pintar menangkap peluang, tentunya tidak harus menelantarkan suami dan anaknya.

Jenuh.

Tidak aneh apabila banyak Ibu yang bosan dengan rutinitasnya di rumah. Manusiawi dan wajar memang apabila kejenuhan melanda para Ibu. Tetapi tetap ingat, harus berhati-hati dalam menyikapinya. Jangan sampai seorang Ibu mengalami kejenuhan tingkat tinggi, dan mereka malah lebih memilih pekerjaan di luar rumah sehingga mengorbankan pendidikan anak.

Tidak bisa dipungkiri memang, semakin hari semakin banyak saja perempuan yang mendapat gelar di bidang pendidikan ataupun di bidang sosial. Itu karena perempuan tidak ingin selalu dipandang sebelah mata. R.A Kartini dalam suratnya kepada Abendanon, Kartini menyatakan bahwa perempuan Indonesia harus dapat terlebih dahulu mengembangkan potensi diri agar nanti dapat menjadi ibu-ibu yang dapat diandalkan.

Sebagai seorang Ibu, seringkali dihadapkan pada dua pilihan. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya atau menjadi ibu yang memiliki karir demi aktualisasi diri? Apapun pilihan anda, semua memiliki kekurangan dan kelebihan yang patut untuk dipertimbangkan masak-masak.

Saya sebagai seorang anak ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu yang tanpa lelah mengayomi kita dari kecil hingga saat ini. Pendidikan yang pertama kali yang kita dapat adalah dari perempuan, yaitu seorang Ibu.