Hai. Mungkin kita bisa belajar dari kisahku ini.

Kisah dari seorang anak kedua dari tiga bersaudara dan terlahir dari keluarga yang sederhana. Abangku mengabdi di negara tetangga untuk bekerja. Dialah yang selama ini membiayai kuliahku. Ketika kedua orangtuaku sudah tak mau peduli lagi padaku, ketika itu pula abangku berhenti bekerja. Sontak kedua orangtuaku memaksaku untuk berhenti kuliah.

Untuk apa kamu kuliah lagi? Abangmu sudah tidak bekerja dan kami tidak memiliki banyak uang untuk kuliahmu itu!

Tangisan dan rintihan ku balaskan pada mereka. "Tidak! Aku tidak mau! Aku masih ingin kuliah, Yah, Bu. Aku masih mampu bekerja dan membiayai kuliahku sendiri. Tolong mengertilah!"

Sesaat aku sampaikan kalimat itu. Ayahku mengusirku keluar dari rumah. Ya, aku diusir karena mengucapkan keinginanku untuk bekerja dan membiayai kuliahku sendiri.

Advertisement

Heran. Apa yang salah dari itu? Bahkan ibuku tak membelaku. Ia hanya memberi batas waktu padaku untuk mempertimbangkan kembali keputusan yang hendak ku ambil.

Hari-hari ku lalui dengan tangisan dan penderitaan lagi. Mulai dari kunci motor yang disembunyikan hingga membuatku harus tebal-tebal muka nebeng sama teman sekampus. Sudah puluhan sapu yang patah karena beradu dengan tubuhku. Bahkan tatapan tetangga sangat penasaran, seakan rumahku bak bioskop yang menarik untuk disaksikan dan dipergunjingkan.

Biasanya, kalimat ini "Dasar kamu anak tidak berguna! Keluar kamu dari rumah ini! Sudah disuruh berhenti masih saja kamu tidak peduli!" akan dibarengi dengan ayunan sapu ke arahku. Hingga kini aku pun punya kalimat jawaban atasnya.

Oh, Ayah. Aku sudah kebal dan telah menjadi sahabat dari penyapu di tanganmu itu. Semua itu tak akan mampu menghentikan langkahku untuk belajar, meskipun nyawa taruhannya.

Ku langkahkan kakiku keluar dari rumah untuk tinggal di rumah kawanku. Hidup dipenuhi dengan bekerja dan harapan atas uang beasiswaku. Tangisan yang ku layangkan tiap kali bertemu dengan dosen pembimbing membuatku termotivasi untuk segera menyelesaikan skripsiku.

"Lebih baik kamu cepat-cepat selesaikan skripsimu itu, agar kamu bisa cepat lulus S1 dan berhenti menangis lagi", katanya.

Kini, setelah ku mampu selesaikan kuliah 1 tahun lebih cepat dibanding mahasiswa lain. Ku sadari arti pentingnya kehadiran dosenku itu. Tanpa bimbingan dan dukungannya yang tinggi aku tak mungkin dapat menyelesaikan studi S1-ku dengan baik dan sempurna.

Aku benar-benar berterimakasih kepada dosenku itu. Beberapa bulan setelah kelulusanku, aku memutuskan untuk menikah. Aku hidup bahagia dengan suamiku di rumah yang sederhana pula. Kami membuka bisnis kecil-kecilan gorengan ubi. Dari semenjak pertama aku melangkahkan kaki keluar dari rumah hingga aku menikah kini, aku tak pernah tinggal di rumah kedua orangtuaku lagi.

Semenjak diusir, aku terbiasa hidup dalam kesendirianku, kemandirianku dan benar-benar bertarung dalam kerasnya hidup ini. Allah itu maha adil dan sangat menyayangiku. Dia menganugerahiku seorang suami yang baik, setia, sayang dan benar-benar mencintaiku sepenuh hatinya. Hingga detik ini, setelah aku lulus, menikah dan membuka bisnis, aku menjadi anak kesayangan orangtuaku. Aku bisa membuktikan pada mereka bahwa aku mampu hidup mandiri dan menyelesaikan studiku dengan baik.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an. Hidup itu pasti akan selalu berputar. Terkadang kita berada di bawah dan terkadang pula kita berada di atas. Inilah hidupku sekarang dan begitulah kisahku di masa lalu.

Mungkin kalian merasa hidup ini sudah terlalu berat dan ingin segera disudahi. Tapi, tahukah kalian jik Tuhan tidak pernah tertidur dan selalu siap siaga bagi segala keluh kesah hambaNya? Please, hidup itu perjuangan, bukan hal yang layak untuk dibanjiri jutaan tangisan. Semangat, ya!