Penyesalan adalah sebuah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Sebesar apapun usahamu, jika sesuatu yang tidak kamu inginkan telah terjadi, kamu tidak akan pernah bisa mengubahnya. Tidak peduli setulus apapun kamu mengakui kesalahanmu, kamu tidak akan bisa mengembalikan keadaan yang sudah berlalu.

Sekalipun kamu mendapat kesempatan kedua, kamu harus menyadari bahwa kesempatan itu tidak akan pernah sama dengan kesempatan pertama karena kamu mendapatkannya dalam waktu yang berbeda. Karena itu, bukankah lebih baik memulai sebuah awal yang baik dengan benar daripada akhirnya terbenam dalam sebuah rasa bersalah yang berujung penyesalan?

Saya teringat kepada seorang pria yang akhir-akhir ini sering mendatangi saya hanya untuk sekedar bercerita tentang kehidupan percintaannya. Pertama kali ia datang, melihat langkah kakinya yang lunglai, saya tahu bahwa cerita yang akan ia bacakan kepada saya adalah sebuah cerita miris dan menyakitkan. Benar saja. Ia mengaku ditinggal pergi oleh kekasih hatinya setelah bertahun-tahun merajut cerita cinta bersamanya. Awalnya, saya merasa iba. Saya mendukung dan memberi beberapa kata penyemangat untuknya. Tapi kemudian, saya mulai bertanya-tanya dalam hati bahwa tidak mungkin ia disakiti begitu saja tanpa alasan yang jelas. Akhirnya, saya memutuskan untuk membawanya mengingat-ingat kembali memori lamanya bersama gadis itu dan saya akhirnya mengerti. Ia memang ditinggalkan tanpa alasan yang jelas, tapi saya menebak bahwa tragedi menyedihkan yang sedang ia alami adalah sebuah konsekuensi atas apa yang telah ia lakukan berbulan-bulan lalu, saat mereka baru saja menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Ia mengaku bahwa di awal hubungan mereka, ia tidak begitu mencintai gadis itu. Ia bahkan pernah berselingkuh dengan gadis lain. Dengan mata berkaca-kaca, ia berulang kali mengucapkan kata ‘menyesal’. Ia terhanyut dalam arus kesedihan yang amat mendalam dan akhirnya menangis. Saya mengerti bahwa ia sangat terpukul. Saya mengerti bahwa ia sudah menyesali kesalahannya pada masa lalu dan sudah berusaha memperbaikinya. Tetapi bisakah ia membayangkan rasa sakit yang telah ditahan oleh kekasihnya selama ini?

Hal semacam itu kerap terjadi di tengah-tengah kita atau bahkan mungkin salah seorang di antara kita pernah mengalaminya. Banyak orang yang menjalin sebuah hubungan tanpa didasari rasa cinta dan kasih sayang, yang akhirnya memunculkan rasa ketidaknyamanan dan bahkan perselingkuhan. Itu menyakitkan. Satu hal yang lebih menyakitkan lagi adalah, ketika kita tahu bahwa pasangan kita tidak mencintai kita dan berselingkuh, tetapi kita tetap memilih bertahan dengannya. Memang kedengarannya bodoh. Tetapi terkadang, jika kita sangat mencintai seseorang, hal itulah yang terjadi. Karena itu, kita perlu menyadari bahwa sebuah hubungan percintaan yang tidak didasari rasa cinta dan kasih sayang hanya akan menimbulkan sakit hati dan penyesalan. Jadi untuk menghindarinya, seharusnya sebuah hubungan percintaan tidak perlu dijalin jika tidak benar-benar saling mencintai. Jika tidak mencintainya sebagai seorang kekasih, maka lebih baik menjalin persahabatan saja, karena menjalin hubungan percintaan tanpa mencintai sama saja dengan menyakiti. Walau pada akhirnya kita bisa mencintainya, semua tidak akan pernah sama lagi.