Memiliki peran yang berarti di dalam hidup seseorang yang istimewa, bisa jadi adalah impian banyak orang. Mempunyai kesempatan mengucapkan dialog-dialog penting yang membuat seseorang itu merasa terharu, bahagia dan bisa jadi menyedihkan hatinya bila kita bertingkah salah. Sebuah peran yang terus-menerus muncul dan hadir juga erat kaitannya dengan dia yang kita cintai, tentu sangat luar biasa.

Apa yang terjadi pada diri ini, juga akan selalu memengaruhi dia, setiap keputusan menjadi selalu berdampak bagi kedua-duanyanya, fantastis.

Setiap peran utama adalah tujuan bagi siapapun dalam harapannya. Sungguh akan memuat kita merasa berarti dan meyakini kalau hidup adalah anugerah dan keindahan yang layak diperjuangkan. Peran utama sungguh menggoda, nama kita terpasang di pikirannya, wajah kita terbayang di malam-malam yang panjangnya. Selalu diberi kesempatan untuk bertemu dan saling bersentuhan baik jiwa maupun raga, luar biasa.

Tetapi kita juga sering lupa pada peran-peran lain di dalam hidup seseorang, yang mau tak mau harus ada yang mengisinya. Sebuah peran yang sebenarnya sama-sama harus dengan begitu total dimainkan, diolah untuk mendapatkan penjiwaannya, diperagakan dengan penuh kesungguhan, dicintai setiap melakukannya. Peran biasa-biasa saja pun, memerlukan hati yang luar biasa dalam menghayatinya.

Peran itu adalah peran figuran. Sebuah peran bisa jadi, tak selamanya muncul bersama seseorang yang kita cinta, tak selamanya memiliki dialog, tak selamanya dipertemukan dalam satu panggung bernama takdir, tak selamanya bisa saling bersama-sama.

Advertisement

Peran figuran yang adanya memang sangat-sangat membantu karena ia muncul di saat benar-benar dibutuhkan. Kita tak perlu merasa ingin mengganti kata ‘figuran’ di sana menjadi kata ‘utama’. Sebab bisa jadi kita tak sedang dalam posisi yang pas untuk mendebatkan kemauan sang Sutradara, Pemilik Lakon nasib kita. Kita tak perlu kecewa, tak perlu marah, tak usah berkecil hati, tak perlu juga sampai rendah diri.

Peran-peran yang diberikan, senantiasa adalah pilihan waktu, ukurannya ketulusan, penilaiannya keseriusan dan tolak-ukurannya kepercayaan.

Sebaiknya kita bersikap lembut pada diri kita, untuk sebanyak mungkin mengisi peran figuran bagi siapa saja, di mana saja. Sekalipun pada waktunya, kita dihadapkan dengan seseorang yang sangat-sangat kita cintai. Jika ia hanya memerlukanmu, dalam batasan-batasan tertentu, Ambillah! Atau kita tak pernah sama sekali, merasakan menjadi bagian kecil di lintasan takdir, menjadi batu pijakannya di saat harus menyeberangi sungai bernama hidup.

Sebenarnya menjadi figuran tak terlalu buruk, apalagi kita tahu suatu waktu yang paling mahal dalam hidup kita, ialah yang jarang dan tak banyak peminatnya, percayalah.