Mengenalnya adalah suatu keindahan yang nyata bagiku.

Yah aku tau dia bukanlah cinta pertama bagiku, tapi katanya “apa pentingnya sebuah angka”, aku pernah jatuh cinta sebelum ini, rasanya indah, indah sekali, tetapi ada yg lebih indah, yaitu melihatnya tersenyum bahagia, tertawa lepas dan alasan dia tersenyum dan tertawa itu adalah aku, ya karena aku, egois?

Tidak, karena bahagiaku adalah ketikaku ciptakan bersamanya.

Cerita ini bukanlah tentang aku mencintainya, tetapi tentang dia mencintai kamu. Yang aku tau, cinta, sayang ke seseorang itu tidak bisa diukur, dan tidak ada syarat yang mutlak untuk mencintai/menyayangi orang tersebut. Itu menurutku, entah apa menurut kamu. Ya kamu, yang biasa aku panggil dengan sebutan “kak” karena kamu lebih tua dariku dan karena aku menghormatimu sebagai seseorang yang dia cintai “juga”.

Kamu pernah bertanya kepadaku, kenapa aku mencintainya, aku mencintainya karena dia mencintaimu, karena aku tau cara dia mencintaimu, caranya yang begitu tulus mencintaimu, caranya yang tetap ada di sisimu seburuk apapun kondisi hubungan kalian. Dan caranya yang begitu dewasa mengerti kamu.

Advertisement

Kamu juga pernah bertanya sama aku, memangnya tidak ada apa seseorang yang seperti dia? Iya tidak ada, bagiku dia adalah satu-satunya di dunia ini, jika ada yang sama berarti itu bukan dia, tetapi orang lain, dan yang aku cinta adalah dia bukan orang lain.

“Tak pernah ada yang salah dengan cinta. Ia mengisi sesuatu yang tidak kosong. Tapi yang terjadi di sini adalah asmara, yang mengosongkan sesuatu yang semula ceper. Dengan rindu. Belum tentu nafsu.” -Ayu Utami

Tidak, tidak, dia bersamamu bukan sebuah keterpaksaan, dia bersamamu karena dia mencintaimu. Ingatlah perjuangannya yang selama ini memperjuangkan hubungan kalian, ingatlah ketulusannya. Meskipun kini katanya dia juga mencintai aku, tapi yakinlah kamu yang utuh kamu yang akan selalu ada di sisinya.

Dia adalah nafasku, tetapi aku lebih tau kamu tidak bisa bernafas tanpanya. Ya mungkin anggapanmu cintamu ke dia lebih besar di banding dengan cintaku. Tapi bagiku tak penting, karena Tuhan dan semesta telah menghendaki kamu untuk menemani sisa waktunya, menjadi teman hidupnya.

Ku doakan kalian hidup bahagia dunia akhirat. Ini bukan alibi, ini bukan sandiwara, ini aku yang sebenarnya.

Jujur tak pernah sedikitpun aku mendoakan hal buruk terjadi pada hubungan kalian, karena bagiku mendoakan yang buruk itu tidak baik, tidak baik buat diriku sendiri, memendam rasa benci, amarah dan kecewa.

Aku mencintainya, tapi kini jagalah dia, memang tak akan selalu ada tawa tapi pastikan jika ada tangis, bukan kamu yang penyebab air matanya jatuh, tapi kamu yang harus selalu ada di sisi. Kamu lebih mengenalnya dari pada aku, jadi aku yakin kamu lebih tau tentang dia, bagaimana caranya buat bahagia, membuatnya tertawa.

Dengar, kamu adalah salah satu wanita terberuntung dan terbahagia di dunia karena menikah dengan seseorang yang kamu cintai dan dia juga mencintai kamu. Semoga suatu hari jika aku berjumpa lagi dengan kalian, kita bisa tertawa bersama-sama.

Maaf karena aku mencintainya, jika bisa memilih, ahh sudahlah tidak usah berbicara hal yang mustahil. Itu kan yang pernah kamu katakan.

“Siapa yang bisa menahan takdir cinta yang mendatangi hidupnya dengan cara yang tak pernah direncanakan”-Fahd Pahdepie