Dulu jaman Sekolah Dasar (SD) sekitar usia 6-13 tahun, seringkali banyak di antara kita yang pulang sekolah dengan membawa beraneka rupa pekerjaan rumah atau biasa kita sebut PR dari Bapak dan Ibu Guru. Mulai dari pelajaran bahasa, keterampilan seni rupa, kerajinan tangan, soal hitung-hitungan, dan masih banyak lagi lainnya.

Sebagai bocah polos yang berbudi pekerti luhur, tentunya kita yang masih SD selalu berusaha mengerjakan PR sesuai dengan instruksi dari Bapak dan Ibu Guru. Meskipun dalam prosesnya kita tak jarang juga lumayan panik dan merasa tertekan karena beberapa kali menemukan PR sulit yang membuat kita merasa tidak bisa, tidak tahu caranya, atau khawatir salah dalam menjawab.

Terkait hal ini, ada hal yang mungkin masih membekas di ingatan kita yaitu ketika kita sedang pusing-pusingnya mau mengerjakan PR, sekilas terlintas bayangan mengenai Ibu kita di rumah atau di kantor yang sedikit membuat tenang. Kenapa membuat tenang? Karena kita tahu betul bahwa Ibu kita itu pintar serta bisa diandalkan untuk mengajarkan kita dalam menyelesaikan berbagai PR menyebalkan tersebut.

Begitu sampai di rumah, berapa banyak dari kita yang lansgung bertanya “Mama, aku ada PR ini dan itu, tapi kayaknya susah Ma. Mama bisa?”

Berapa kali pula Ibu kita menjawab, “Bisa kok. Nanti Mama liat soalnya, kita kerjain sama-sama ya.”

Advertisement

Itu, jawaban beliau yang seperti itulah yang cukup bikin kita para murid SD senang sehingga bisa makan dan bobok siang dengan tenang. Tentunya kita ingat rasanya menjadi anak SD yang ceria karena punya Ibu yang pintar dan bias diandalkan.

Nah sekarang coba lihat di masa kini, di mana usia kita sudah kepala dua, bukan lagi anak SD yang kuncir dua. Sembari kita flashback ke kenangan jaman SD seperti di atas, kita juga sekalian bisa ambil pelajaran dari sana. Pelajaran apa? pelajaran mengenai 'betapa pentingnya seorang Ibu memiliki pendidikan yang baik'. Hal ini terbukti dapat mengangkat rasa percaya diri anak dalam perihal pendidikan. Maka, berarti ga salah kan ada ungkapan yang menyatakan bahwa 'Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.'

Wawasan Ibu mesti kaya supaya anaknya yang ceriwis dan lagi banyak-banyaknya bertanya bisa ditanggapi dengan jawaban yang tepat dan sesuai. Keterampilan Ibu harus banyak supaya anaknya yang aktif bisa terakomodir dan terdampingi aktivitasnya. Pergaulan Ibu harus luas agar anak yang sedang padat kegiatan dan lagi seru-serunya bisa tetep dimonitor tanpa bikin anak merasa risih. Kesehatan Ibu juga mesti baik supaya anaknya bisa menghabiskan waktu yang banyak dengan si Ibu, gizinya tetap terjaga, dan kuat mengikuti pola kegiatan anak. Di samping itu, masih banyak lagi untuk Ibu.

Hmm… tapi sebagaimanapun modernnya masa sekarang ini, masih ada loh orang-orang yang berpikir negatif seperti,

“Ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau toh ujungnya nikah, tidak bekerja, dan jadi Ibu yang di rumah saja.” Nah, orang-orang kayak gini nih yang sebaiknya kita "jitak" sedikit kepalanya biar insyaf. Perempuan berpendidikan itu kan banyak perannya.

Ia mampu jadi istri yang cerdas supaya bisa mengimbangi suami, ga hanya enak masakannya tapi juga enak diajak ngobrol politik, nyambung bahas pendidikan, asik untuk diskusi ide bisnis, atau solutif ketika dicurhatin masalah kantor.Selain jadi istri, perempuan berpendidikan juga mampu menjadi Ibu yang pintar buat anak-anaknya, jadi teman curhat yang pandai menyesuaikan diri untuk mertua, jadi tante yang gaul dan asik buat keponakan, jadi sahabat yang di andalkan teman-temannya, atau bahkan jadi tetangga yang menyenangkan bagi warga sekitar rumah.

Perempuan berpendidikan tinggi itu bukan untuk tujuan egois tapi justru untuk tujuan bersama yang mulia. Karena perempuan sadar bahwa kehadirannya harus bermanfaat untuk orang banyak dan lingkungan sekitarnya. Dunia ini terlalu luas dan terlalu kejam untuk perempuan yang hanya mengandalkan kecantikan dan lemah lembutnya.

Pendidikan memberi perempuan kekuatan untuk melihat lebih luas, mendengar lebih dalam, dan bertindak lebih nyata. Jika perempuan ibarat burung elang, maka pendidikan adalah mata yang tajam, cakar yang kuat, dan gerakan yang gesit. Sama seperti lelaki, pendidikan tidak pernah terlalu tinggi untuk perempuan.

Jadi, buat para lelaki di luar sana yang mungkin masih merasa egonya tercabik-cabik jika perempuannya berpendidikan lebih tinggi, tolong coba introspeksi diri. Jangan selalu berharap orang lain yang turunkan standard demi menyesuaikan diri dengan ego kalian, tapi justru kalianlah yang harus man up! Hidup ini ga lama kok, sayang sekali jika hanya di habiskan bersama partner hidup yang biasa-biasa saja.