Sudah lama terdiam dalam penjara bak narapidana. Terkungkung dalam ketidakbebasan dan ketidakpastian. Membelenggu sampai lama dan akhirnya hampir mati. Kemudian sinar cahaya melewati sela – sela jendela menjadi lilin yang nyala nya memenuhi nafas diri. Lega. Sinar kecil itu menjadi penumpu harapan hidup. Disanalah mimpi – mimpi kugantungkan tinggi – tinggi.

Tidak, tidak mau hanya kugantungkan saja. Harus kuambil wujud nya satu persatu. Aku coba menengok keluar, barangkali ada magnet yang menarikku kesana. Kesana, keluar penjara. Ternyata diluar berwarna warni, tak seperti disini yang hanya hitam dan putih. Indah dan mempesona, menggodaku untuk pergi dari penjara tak bernama ini.

Diluar. Dunia masih sangat luas. Mimpi – mimpi yang semalam kugantung tinggi – tinggi bisa kukejar disana. Disana, diluar penjara. Aku harus pergi. Pergi. Pergi sejauh – jauhnya demi menggenggam dunia, lalu letakkan di otak, bukan di hati. Kenapa ? agar jika dunia tak bisa kugenggam lagi, sakitnya tidak menyayat diri.

Pergi bukan sebuah keterpaksaan dan tuntutan, tapi pergi adalah sebuah keinginan.

Diluar. Di dunia penuh warna dan hura, banyak sekali pemakai topeng tak tau diri. Menjelma peri padahal iblis. Membentuk virus merah jambu kemudian pergi. Mengukir tawa kemudian berlalu. Mencari – cari alasan untuk sekedar menyelamatkan diri. Pergi tidak selucu itu.

Advertisement

Cukupkan saja pergi untuk mencari. Jangan sampai berlebih hingga mencari untuk pergi.