Berada di titik sekarang ini, bukanlah sebuah perkara yang mudah. Aku sama sekali tidak mudah percaya pada seorang laki-laki setelah sosok lelaki pertamaku itu menyakiti hati kami bertiga. Ketika kamu datang, menawarkan masa depan yang tidak hanya untukku, tapi juga untuk dua wanita paling berharga dalam hidupku, aku menanyakan kesungguhanmu menerima kami. Tak ada keraguan, tak ada belas kasihan, tak ada keburukan. Yang ada hanya keyakinan, ketulusan dan kasih sayang yang terpancar dari mata sayumu itu.

Perjalanan kita menuju detik ini bukanlah hanya sebuah perjalanan biasa. Bukan hanya perasaan kita berdua yang terlibat, tapi juga melibatkan perasaan puluhan pasang mata keluarga besar kita yang menyaksikan betapa mereka ikut bahagia untuk kita saat momen itu. Tentu saja kau juga masih ingat bagaimana DIA mempermudah segala proses kebersamaan kita. Perkenalan singkat dan restu kita dapatkan dengan sangat mudah, bahkan tempat kita mengabdi pada negara pun saling bersebrangan. Dan kau juga tentu masih ingat bukan, kau pernah mengatakan, perjalanan kita begitu dimudahkanNya, ini seperti sebuah tanda bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama.

Masih teringat jelas bagaimana kita mempersiapkan satu per satu demi momen sakral kita nanti. Tentang keinginanku membuat wedding invitation dalam bentuk video stop motion yang kamu tanggapi dengan sebuah keheranan tapi kemudian setelah melihat hasilnya kamu tersenyum sangat puas. Tentang keinginanmu membuat desain karikatur kita dengan menggunakan jersey tim hitam putih kesayanganmu itu yang aku sambut dengan sedikit cemberut lalu tersenyum mengiyakan. Tentang keinginanku menggunakan segala pernak pernik yang berhubungan dengan warna biru dan akhirnya kamu iyakan pula. Tentang planning menabung demi menyediakan taman untuk tempat anak-anak kita bermain dan berlarian. Tentang Labuan Bajo yang mempesona untuk kita tapaki pasir pinknya sambil bergandengan tangan. Tentang Nusa Tenggara Timur yang mempertemukan kita dan harus kita jelajahi satu per satu pesonanya. Tentang rencana kita mendedikasikan hidup kita untuk 1000 Guru Kupang karena disitulah kita bersua dan memutuskan untuk menua bersama. Tentang perdebatan kecil kita saat kau menginginkan anak pertama kita lahir di tanah kelahiranmu tetapi aku menginginkannya lahir di kota karang. Tentang mamah dan ibu yang akan gantian datang ke kota karang untuk membantuku menjaga anak kita saat aku sudah kembali bekerja nantinya. Tentang keinginanmu menjadikan pengeran kecil kita nanti tumbuh menjadi seorang pilot yang kemudian aku sambut dengan cemberut tanda tidak setuju karena takut pangeranku jarang pulang meski untuk sekedar memeluk ibunya ini. Dan tentang banyak lagi rancangan masa depan yang sudah kita susun dan kita tata satu per satu diselingi dengan gelak tawa atau bahkan perdebatan-perdebatan kecil ketidaksetujuan. Tak perlu aku menanyakannya. Aku yakin, kau pasti masih mengingatnya dengan jelas, bukan?

Menerimamu, memilikimu dan bersanding menjadi satu-satunya wanita dalam hidupmu adalah salah satu keinginan terbesarku saat ini. Saat kamu memintaku untuk menjadi ibu dari anak-anakmu, binar-binar ketulusan terpancar jelas dari mata sayumu. Hari-hari yang kita lewati bersama, setiap detik yang kita nikmati dengan kebersamaan setelah aku mengiyakan semua penawaran menjalani masa depan bersamamu adalah saat yang paling sempurna dalam hidupku. Akhirnya ada lelaki yang bersedia menerimaku dan dua wanita terhebatku tanpa syarat apapun dan bisa menyayangi kami bertiga dengan sepenuh hati itu adalah anugerah terindahku. Dan akhirnya aku menemukan sosok seiman yang selalu aku rindukan hadirnya demi kelak bisa melafazkan adzan di telinga malaikat kecilku saat dia datang di dunia ini yang tak bisa aku dapatkan pada sosok masa laluku.

Menjelang beberapa belas hari lagi ini, ketika semua persiapan menuju momen sakral itu sedikit demi sedikit sudah mulai tertata, tiba-tiba DIA menguji kita dengan mengacaukan hatimu, menggoyahkan keyakinanmu dan memaksamu untuk berpikir ulang tentang momen sakral kita yang sudah tinggal belasan hari lagi. DIA memberikan ujianNya dengan melumpuhkan ingatanmu tentang persiapan-persiapan kita, melumpuhkan nuranimu, melumpuhkan rasamu yang sempat meluber padaku dan dua wanita terhebatku. Dan DIA juga mengujimu dengan bagaimana kau harus tetap menjaga hati kedua orangtuamu seperti gelas yang rentan pecah. Kau ingat? DIA tak pernah menguji hubungan kita dari awal. DIA mempermudah perkenalan, pertemuan, lamaran, dan segala proses kebersamaan kita hingga saat ini menuju beberapa belas hari momen sakral kita. DIA itu mengujimu, menguji aku, menguji kita. Menguji seberapa kuat keinginan kita untuk bersama, menguji seberapa dahsyat rasa cinta kita, menguji sampai dimana kita bertekad untuk meraih surgaNya dengan kebersamaan yang halal. Seharusnya kau bisa melewati ujianNya ini. Seharusnya kau ingat bahwa kita sedang diuji. Dan aku sudah mencoba meyakinkanmu. Seharusnya kau percaya aku seperti kau memintaku percaya padamu sejak awal. Iya, seharusnya. Seharusnya.

Advertisement

Kau ingat, ini cobaan terberat kita yang pertama kalinya. Perjalanan kita untuk sampai ke detik ini selalu dimudahkanNya. Harusnya kau ingat itu. Harusnya kau tidak menyerah pada cobaan terberat kita ini. Harusnya kau masih bisa mempertahankan rasamu, keyakinanmu, mempertahankan kita. Harusnya kau mengingat bagaimana kau menginginkanku dengan sekuat itu. Iya, harusnya, harusnya kau melihat ke belakang, bagaimana kita bisa dengan sangat mudah hingga bisa berasa di detik ini, beberapa belas hari menuju momen sakral kita. Harusnya, harusnya dan harusnya.

Tapi kau menyerah. Keputusanmu menyudahi semua ini beberapa belas hari sebelum ikrar suci kita ini merupakan pukulan telak bagiku dan bagi kedua wanita terhebat di sisiku. Bukan hanya kami bertiga, tapi kau memang telah melukai hati orang-orang yang sudah tulus mendoakan kita, mendoakan setiap langkah kita, menyebut nama kita dalam setiap tengadah atau lipatan tangan mereka. Entah apa yang terjadi, penjelasan pun tak kau berikan. Lalu aku bisa apa selain berusaha berhenti dan sadar, mungkin memang inilah garis finishku. Garis dimana aku harus berhenti menoleh ke arahmu, garis dimana aku harus berhenti memaksa kehendakku untuk mempertahankanmu, garis dimana aku harus berhenti bermimpi menjadi orang pertama yang membuatmu sadar di pagi hari, garis dimana aku harus berhenti membayangkan kau selalu mengusap wajahku setiap kali aku akan tertidur.

Aku sudah mencoba menyelamimu. Mengingatkanmu tentang semua momen kita. Tapi semua seakan sudah tak ada artinya. Kau ingin menyudahi semua ini sekeras inginmu saat kau menginginkanku menjadi ibu dari anak2mu. Sekarang, aku sudah mulai lelah mencoba mempertahankanmu dan mengingatkanmu tentang momen sakral yang sudah tinggal beberapa belas hari lagi. Aku sudah lelah berusaha memahami tujuan dari setiap cara yang kau lakukan. Kau sudah terlalu asing buatku. Otakmu juga sudah tak lebih kerasnya dari batu dan aku sudah tak punya waktu lagi untuk mengalirkan air agar bisa merasuki otakmu lagi. Sekarang aku sudah berada di satu keadaan, satu keadaan puncak rasa lelahku, puncak serendah-rendahnya harga diriku, puncak sakit hatiku.

Satu pesanku, Tuan. Jangan sampai kau tak temukan keyakinan sepenuh hatimu di ujung perjalananmu karena kau sudah terlalu menginjak-nginjak hati ini setelah kau meragukan dan menyudahi komitmen yang kita buat bersama untuk ikrar suci kita yang tinggal beberapa belas hari lagi.

Kau mau kembali?

Atau,

Kau tetap mau pergi?

Jika iya, pergilah, aku dan dua wanita terhebatku (berusaha) merestuimu meski tanpa sepatah kata maaf dan penjelasan apapun darimu.