Ada masa dimana kamu merasa bahwa sebuah hubungan itu berjalan hanya sekedar "berjalan" tanpa kau tahu kemana arah dan tujuannya. Ketika dua orang hanya sekedar berada dalam suatu "status" saja, namun perasaan yang berada di dalamnya lenyap perlahan demi perlahan. Ketika kenyamanan menjadi barang yang langka, bahkan detak jam kau rasa sangat lambat. Ketika pertengkaran yang biasanya hanya menjadi bumbu, justru menjadi rutinitas diantara kalian. Mungkin saatnya kamu bertanya pada dirimu sendiri, "sampai berapa lama kamu akan terjebak dalam kondisi seperti ini?"

Hubungan terkadang bukan hanya masalah kuantitas, tentang berapa lama kalian menjalin suatu hubungan tersebut. Seiring berjalannya waktu, kamu akan menyadari bahwa hubungan itu sesungguhnya adalah masalah kualitas, sejauh mana kamu mengenali pasanganmu dan mampukah kamu berjalan bersamanya hingga akhir hidupmu. Memang terkadang banyak orang terjebak dalam hubungan yang sudah lama, mereka sudah tidak nyaman berada pada hubungan tersebut, namun dengan berdalih "kami sudah lama" mereka enggan untuk mengakhiri. Padahal seringkali, dengan siapa kamu akan menikah, bukan tentang siapa yang paling lama, tetapi siapa yang paling kamu butuhkan untuk melengkapimu.

"you can meet someone tomorrow who has better intentions for you than someone you've known for years. Time means nothing, character does"

Terkadang dia yang pernah kamu cintai, tidak menghiraukan keberadaanmu ketika kamu masih menjadi miliknya. Dia tidak tahu apa yang kamu sukai, dia tidak mengerti apa yang kamu rasakan, dia tidak memahami mimpi-mimpimu, namun dia berdiri disampingmu sebagai kekasihmu. Padahal cinta tidak hanya bisa sekedar mengatakan cinta lalu cukup untuk bekal selama bertahun-tahun tanpa tindakan untuk memelihara cinta itu sendiri. Sekalipun untuk memelihara itu hanya butuh hal yang sangat sederhana, "rasa saling" namun ternyata tidak semua orang sanggup untuk melakukannya. Luka demi luka yang dia goreskan, membuatmu menjadi kebal sendiri dengan rasa sakit yang dia berikan. Setiap luka yang dia goreskan, satu pembelajaran sedang kamu dapatkan. Lalu kamu cukup mengerti bahwa dia yang melukaimu, tidak bisa menjadi penyembuh dari lukamu itu sendiri. Kamu tidak dapat menyelesaikan suatu masalah, dengan cara yang sama ketika kamu membuat masalah itu sendiri.

Apa yang ada padanya, itu adalah sifat. Sifat bukanlah sesuatu yang mudah untuk kamu rubah. Bahkan kamu sulit untuk merubah sifatmu sendiri, bukan? Jangan bermimpi untuk mengubah sifat seseorang, karena itu sia-sia. Jika kamu tidak mampu untuk menerima sifat tersebut, berbalik arah, putar langkahmu, pilihlah jalan lain yang mungkin lebih pas denganmu. Tidak peduli sudah sejauh apapun kamu melangkah, sudah berapa banyak waktu yang kamu habiskan, sudah seberapa banyak kenangan yang pernah kamu buat, tetapi percayalah, ini bukan akhir dari segalanya.

Advertisement

Hargailah dirimu sendiri dengan pergi dari sesuatu yang tidak membuatmu bahagia, tidak dapat membuatmu tumbuh, atau sesuatu yang memberikan tekanan bagimu. Ingatlah bahwa hatimu juga memiliki asa dan rasa. Bahwa hatimu tidak hanya ingin memperjuangkan, tetapi juga diperjuangkan. Bahwa hatimu juga lebih baik berada pada orang yang memang pantas menerimanya, seseorang yang menghargaimu.

Hidup memang tak selamanya bahagia, namun juga tak selamanya kamu harus menangis dan bersedih atas cinta yang kamu perjuangkan. Hubungan akan berjalan dengan baik jika dua orang itu berjalan beriringan, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Bukan memaksakan pemikiran yang benar-benar harus sama dalam dua pribadi yang berbeda, namun dua pribadi yang berbeda dengan pandangan hidup yang sama berbagi pemikiran untuk saling melengkapi, saling menerima. Kamu tidak perlu tersnyum palsu hanya untuk menegaskan kepada dunia bahwa kamu memang baik-baik saja, ketika sudut hatimu tengah terluka begitu hebatnya. Dia yang benar-benar mencintaimu, tidak akan membiarkan ada luka mengangga di dalam batinmu.

Maka dari itu, jika memang sesuatu tidak bisa dipaksakan lagi. Relakanlah dia yang kamu cintai itu untuk pergi. Karena hatimu bukan lagi rumahnya untuk kembali. Karena hatimu, diperuntukkan untuk orang yang peduli. Bahwa hatimu juga butuh untuk dihargai.