Aku mencintaimu. Hal ini tolol memang, semacam aku memberanikan untuk bunuh diri. Bagaimana tidak, aku mencintaimu yang jelas-jelas tidak menyimpan sedikitpun rasa suka, apalagi cinta. Aku semacam menghampiri sakit hati yang mendeklarasikan diri, hey inilah yang akan kau terima. Iya, rasa sakit bertubi-tubi semenjak kau menghilang dua tahun yang lalu. Lelah, aku mencarimu kesana kemari. Aku berusaha menghubungimu, tapi kau tak pernah memberi jawaban. Aku bagai seonggok sampah tak berguna, yang tak ingin lagi kau toleh. Aku sadari, aku yang salah.

Kau, rindu yang terpatri di dalam setiap detak nadiku, terpahat dalam setiap desah napasku. Jika kau malaikat pencabut nyawa, maka aku tak memiliki alasan apapun untuk hidup, pengecualian untuk mencintaimu. Selamanya.

Iya, aku meyakini bahwa kau adalah malaikat yang menjelma menjadi manusia, lebih tepatnya malaikat pencabut nyawa. Setiap mengingat tentangmu, aku merasa mati tenggelam dalam kenangan. Kau seolah setiap saat mengintaiku, sigap untuk membunuhku setiap detik.

Apa daya aku setiap saat mati bersama bayanganmu. Anak itu, anakmu, dengannya. Kau sudah menikah, memiliki keluarga kecil, dan kau memiliki cinta. Lalu, aku? Apa aku ini yang mencintai sesosok kamu dua tahun lalu, dan hingga detik ini perasaan itu masih sama. Iya, saat aku mengetahui kau telah memiliki malaikat kecil—anakmu. Aku bahagia, demi Tuhan aku bahagia. Melihat senyummu dan bayimu. Ah, andai senyum dan kebahagiaan itu milikku juga.

Tidak. Ada satu orang lagi yang tersenyum memeluk bayimu, dan itu mustahil aku. Bukan, itu bukan aku. Selamat. Ah, senyummu saja sudah mampu mengobati rinduku saat ini. Tak peduli alasan kau tersenyum. Aku akan tetap menjadi pemuja dan pemuji senyummu, tak sedikitpun pandanganku berbeda dari dua tahun lalu. Kau tetap yang terindah, meski kenyataannya kau sudah menjadi milik orang lain. Itulah kenyataan pahit yang harus kutelan mentah. Terima kasih untuk ini, setidaknya senyummu masih tetap sama, menyejukkan.