“Kita putus.” Ucap lelaki itu dengan tegas. Kemudian ia membalikkan tubuhnya meninggalkannya.

Wanita yang masih berdiri mematung tidak bisa menjawab. Seolah mulutnya membisu. Mengapa lelaki itu tidak memiliki perasaan? Wanita itu perlahan mengeluarkan bulir airmatanya. Ia tetap tidak bergerak sama sekali. Bahkan setelah lelaki itu pergi terbawa angin malam yang sunyi dan sepi. Sekeping hatinya hancur. Entah jenis panah apa yang berhasil mematahkan segenap hatinya. Ia terus menangis di dinginnya malam. Hiruk pikuk kota masih meramaikan jalan. Namun, ia merasakan kesendirian di taman kecil yang terletak di pusat kota.

“Kama..” sapa seseorang dari kejauhan. Taman kecil di pusat kota tidaklah selalu terlihat terang. Justru penerangan tidak terlalu bagus. Sehingga memudahkan para remaja muda untuk gelap-gelapan.

Nura. Ia sedang berjalan sejenak dari rumahnya yang tak jauh dari taman kecil untuk menghirup udara segar. Nura mengerutkan keningnya, ketika sosok yang ia kenal sedang berdiri tidak bergerak, tapi ia bisa melihat bahunya bergetar hebat. Nura berkata lirih menyebut nama wanita itu lalu melangkahlah ia mendekati Kama.

“Loh Kama? Kamu kenapa?” tanya Nura yang sangat terkejut melihat Kama ternyata sedang menangis. Nura mengusap pelan punggung Kama. Ia bingung apa yang terjadi oleh temannya ini?

Advertisement

Pandangan mata Kama tidak terlalu jelas, karena banyak airmata yang menumpuk pada matanya. Ia tahu suara itu, bahkan sangat mengenali bahwa itu adalah Nura. Kemudian tubuhnya lemas. Dengkulnya mengenai tanah paving. Kama mengusap kedua matanya, hingga bisa melihat sekitarnya dengan jelas.

“Ra..” sahut Kama dengan lirih sambil sesenggukan.

Nura memeluk Kama, meskipun ia tidak mengetahui masalah yang sedang di hadapi oleh Kama. Nura sebagai teman baiknya akan memberi kekuatan pada Kama, hingga Kama siap menceritakan apa yang terjadi?

“Mampir ke rumah aku dulu yuk.” Ajak Nura beranjak berdiri disusul Kama.

Setiba di rumah Nura yang bercat putih. Kama sudah mulai tenang. Tak ada lagi isakan tangis. Nura bernafas lega. Ia segera ke dapur membuatkan minuman. Dua cangkir teh hangat sudah berada di meja ruang tamu. Nura tersenyum melihat Kama, “Di minum dulu, biar tenang.” Ujarnya. Kama mengangguk dan mengambil cangkir yang memiliki warna biru polos.

“Makasih ya Ra. Maaf ngerepotin.” Suara isakan itu hadir kembali. Nura menggeleng cepat. Ia merasa tidak merepotkan siapapun. Nura sangat senang membantu temannya. Ia selalu tulus membantu siapapun yang ia tolong.

“Aku.. baru aja di putusin..” Akhirnya Kama mulai bercerita.

“Ya allah Ra.. dia tega habis mutusin aku langsung ninggal.” Ungkap Kama yang masih menyisakan rasa kecewanya di dalam hati.

Aku Nura. Sebagai seorang teman yang baik. Aku akan menghiburnya meskipun perasaannya tidak akan kembali seutuhnya. Aku tahu dia masih belum menyadari sesuatu yang lebih penting dari sekedar patah hati atau jatuh cinta. Mereka begitu tipis di ukur. Bahkan untuk dirasakannya saja mereka selalu tidak memiliki alasan, kecuali patah hati yang selalu ada alasan disana walaupun terkadang tak jujur. Terkadang masih saja ada yang di pendam.

Kisah Kama, bukanlah yang pertama. Pasti diluar sana sudah banyak orang yang patah hati, karena cinta. Aku mengusap pundak Kama dengan lembut. Setiap tarikan nafasnya yang berat saat bercerita begitu membuatku tidak tega. Kama masih melanjutkan ceritanya, hingga aku menemukan jawaban dari permasalahannya.

Ada satu sisi yang belum terbuka di dalam diri kekasihnya itu. Entah dia di kalahkan oleh egonya, sedangkan Kama ada satu sisi yang harus ia hilangkan agar lelaki itu dapat menerima Kama tanpa berpikir negatif. Namun, apapun yang terjadi di antara mereka aku bernafas lega. Kama bisa kembali menjadi lebih baik. Aku ingin ia belajar tentang apa yang belum ia ketahui.

Pacaran itu bukan hanya saling menyukai lalu jadian. Banyak resiko saat kata “ya aku mau jadi pacar kamu” terucap. Apa saja resikonya? Kamu akan kehilangan waktu yang lebih berharga daripada berduaan dengan pacarmu. Kehilangan teman terdekatmu, bahkan kehilangan Sang Maha Cinta yakni; Allah swt.

Kembalilah ke tempat semula kamu berdiri. Biarkan roda berputar sampai masa depan datang membawamu kepada keajaiban. Jodoh itu di tangan Allah. Percayalah. Tak perlu kau mencari-cari sosoknya. Biarkan ia mendekatimu, ketika Allah mengirimkan sinyal-sinyal keberadaan dia. Aku sebagai temanmu hanya bisa berdoa dan memotivasi. Selebihnya kamu yang akan terus melangkah menjalani ini semua. Jangan takut nggak bisa move on! Karena masa lalu memang tidak bisa terlupakan. Mereka hanyalah serpihan kenangan yang abadi di dalam hidupmu.

"Terimakasih Nura! kamu adalah yang terbaik" ucap Kama ketika bertemu dengan Nura setelah seminggu berlalu