“ Jika mampu tolong dan bantulah, jika tidak paling tidak jangan mencelakainya”

~Dalai Lama~

Mungkin itu hanya salah satu dari sekian banyak bentuk cinta. Ketika kita tidak mampu menolong dan membantu seseorang, paling tidak kita tidak mencelakainya. Begitu universal cinta ini, begitu dalam dan membutuhkan kelembutan serta kasih sayang yang tulus.

Aku tersentuh dengan pernyataan tersebut, kembali terngiang tentang cinta yang pernah aku maknai sendiri ternyata tidak lebih dari hanya sebuah keinginan dan penggenggaman erat yang membuat aku terluka.

Ketika itu aku persembahkan sebentuk cinta untuk seseorang dengan penuh kesetiaan. Aku rasa itu cinta terbaik yang pernah aku miliki. Aku tak memandang apapun atas cintaku, aku tak memiliki alasan untuk mencintainya, yang aku tau saat itu aku hanya ingin mencintainya tanpa mengapa,

Karena jika kau mencintai dengan alasan–alasan tertentu maka dengan alasan–alasan itu pula cinta akan terbang pergi.

Advertisement

Jika kau mencintai seseorang karena kerupawanannya, status sosialnya, hartanya yang suatu saat bisa hilang maka bersama itu pula cinta itu akan menghilang. Maka aku nyatakan cintaku tulus setulus–tulusnya ditopang dengan beribu kesetiaan.

Bahkan perbedaan keyakinan tak menyurutkan aku untuk mundur satu jengkalpun.

Ia yang tercinta bukan laki–laki hebat ataupun rupawan, tidak juga berkedudukan, tapi kebersamaan ini telah membuatku terbiasa hingga tak sanggup membayangkan bagaimana nanti tanpa dirinya yang membuatku tak biasanya.

Tepat dua tahun lamanya aku bertahan dalam cinta semu yang aku ciptakan sendiri. Aku tau cinta yang aku pertahankan selama ini akan sulit mencari titik temunya karena perbedaan terlalu nyata. Seorang teman pernah mengatakan “ Bagaimana kau akan menuju surgaNya bersama–sama kalau Tuhan kalian saja tak sama?”

Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Tuhan? Surga? Tuhan yang manakah yang dimaksudkan?Bukankah semua orang mengatakan Tuhan itu maha Esa yang artinya hanya satu dan tunggal ? Surga seperti apakah yang dituju sesungguhnya?

Aku mulai terganggu dengan pertanyaan–pertanyaanku sendiri. Ternyata ada persepsi yang berbeda di antara kami.

Tentang Tuhan, aku menilik kembali sebelum meyakinkannya. Bukan, bukan untuk mengagamakannya, menjadikannya sepemahaman hingga satu keyakinan denganku, bukan itu tujuanku. Aku hanya ingin kita yakin pada jalan spiritual kita masing–masing tanpa mengusik satu sama lain.

Aku hanya ingin kita tetap berdampingan dan tetap melayani keyakinan kita masing–masing itu sudah lebih dari cukup. Karena keyakinan yang berbeda – beda sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu kita tidak bisa menyamakannya, memaksanya untuk menjadi sama, untuk menjadi sepemahaman dan satu keyakinan.

Bahkan sang Buddha sendiri menyarankan pada siswanya yang menyatakan diri menjadi pengikutnya untuk tidak mudah percaya begitu saja, seperti yang tertulis dalam Kalama Sutta :

"Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, `Petapa itu adalah guru kami. `Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, `Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan`, maka sudah selayaknya kalian menerimanya.

” (Kalama Sutta; Anguttara Nikaya 3.65)

Menyadari hal itu akupun tidak mengharapkan orang yang menjadi teman hidupku berkeyakinan tanpa memahaminya. Seorang guru besar Buddhist pernah mengatakan bahwa dengan meyakini hanya agama atau keyakinan tertentu yang paling benar itu sangat tidak relevan. Sebagai seorang Buddhist aku selalu menerapkan nilai–nilai toleransi tersebut.

Dengan hati–hati aku menunjukan wacana ketuhanan kepadanya, berharap ia memahami.

“Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.”

(Sutta Pitaka, Udana VIII : 3)

“ Apa maksudnya?” aku sudah menduga pertanyaan itu akan muncul dari mulutnya. Dan aku sudah menyiapkan semua jawabannya bahwa Tuhan itu seperti yang baru saja dibacanya, tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak diciptakan dan mutlak, tidak dapat dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang menurut anggapan kita, apalagi dibeda – bedakan hanya karena cara kita yang berbeda. “Ketahuilah bahwa semua agama mengabarkan hal yang sama yaitu tentang cinta, kasih dan kelembutan, tujuannya adalah sama yaitu kebahagiaan jadi mengapa kita harus mempermasalahkannya hingga membuat kita harus berpisah” tuturku panjang lebar memohon pengertiannya ketika itu. Namun, ia hanya menggeleng lemah kemudian meraih tanganku membisikan kalimat yang membuatku mulai meragukannya. “ Aku memang sangat mencintaimu tapi jika kamu tidak bisa sama sepertiku, aku tetap tidak bisa” tuturnya dengan nada yang begitu dingin sembari melangkah pergi. Aku tak bisa mencegahnya apa lagi untuk melanjutkan berdiskusi, bahkan untuk sekedar mengomentarinya saja sepertinya enggan. Tidak ada lagi tawar menawar, tidak ada lagi toleransi dan sepertinya tidak ada lagi harapan. Aku menangis, ya hanya menangis yang bisa aku lakukan ketika itu.

“ Jika harus memilih antara agama dan kasih sayang, pilihlah kasih sayang”

~Dalai Lama~

Aku termenung dengan kalimat di atas, betapa sikap toleransi dalam Buddhis begitu dalam. Aku tidak harus beridentitas Buddhis secara tertulis untuk menjadi seorang Buddhist sejati. Aku tidak harus mengumumkan pada semua orang bahwa aku Buddhist, biarkan semua orang mengira apa yang mereka sangka, aku tidak perlu menjelaskan.

Dan keputusanku telah bulat untuk menerima identitas baru tanpa meninggalkan identitas lama “demi cinta” gumamku mantap. Keluargaku mengiklaskannya meski berat, terutama ibu. Uraian air matanya menyiratkan betapa berat melepaskan. “ aku tidak seperti yang ibu kira, aku tetap aku dan tidak berubah, apalah arti identitas, hatiku tetap pada jalan kebenaran” bisiku meyakinkan ibu. Namun, Ibu hanya diam, pandangannya jauh menerawang, entah apa yang sedang dalam pikirannya, mungkin tidak rela.

Aku mantap–mantapkan hati sebelum memasuki pekarangan rumahnya yang ramai orang. Hari ini memang bertepatan dengan ulang tahunnya, tapi sejak kapan orang desa seperti kami merayakan ulang tahun, pikirku. Dengan penuh tanda tanya aku memarkir motorku di pekarangan rumahnya.

Tidak seperti biasanya, aku yang dulu sangat akrab dengan keluarganya kini mereka berubah menjadi wajah–wajah asing. Akh, mungkin hanya pikiranku saja, aku mencoba menepis perasaan ganjil yang memburu. Memang banyak wajah–wajah yang tak aku kenali, mungkin mereka kerabat jauh yang belum sempat dikeanlkannya padaku, pikirku lagi.

Senyumnya masih sama seperti senyum yang aku kenal dulu, bahkan kini semakin membuat hati bergetar, mungkin karena rindu juga ikut menyuarakan lisannya. Iya, aku merindukannya, bahkan sangat merindukannya setelah sekian lama bejarak waktu hingga ketidak pastian.

Kini ada titik terang dari sekian banyak jalan yang aku tawarkan, mengalahlah yang dapat aku lakukan. Kau pasti paham bahwa mengalah bukan berarti kalah. Seseorang pernah mengatakan kepadaku “ mengalah lah hingga tidak dapat dikalahkan” Dan aku setuju dengan pernyataan itu.

Aku membalas senyumnya dengan senyum terbaik yang aku miliki saat itu. Namun, senyum terbaik itu seketika meredup ketika seorang wanita muda menggamit lengannya dengan mesra di depan mataku. Aku tidak menyadari jari–jari manis mereka telah tersemat sebentuk cincin.

“Terimakasih telah menjaga dia untukku mba” Ujar wanita itu dengan senyuman ramah.

Akhh entahlah, tak ada lagi keramahan menurutku ketika kerinduan datang harus terusir pergi bahkan sebelum terucap maksud. Aku mundur beberapa langkah dengan tatapan tak percaya. Jika aku bisa memilih, aku ingin jiwaku lepas dari tubuhku yang bergetar lemas, tulang belikat rasanya tak mampu lagi menopang.

“Maafkan aku ” ujarnya lirih menahan langkahku, “tapi aku sudah terlanjur mengiyakannya” lanjutnya lagi. Aku melangkah pergi tanpa sepatah katapun untuk menanggapinya karena memang tidak ada lagi yang perlu aku katakan meski hati ini penuh dengan pertanyaan.

Kenapa tidak kau jujur kalau sudah ada wanita lain, bahkan sudah sampai sejauh itu?

kalau saja kau jujur mungkin aku bisa mundur teratur dan lebih bisa menerima kenyataan.

“Memaafkan adalah penyembuhan”

~Ajahn Brahm~

Karena cinta juga berarti memaafkan. Paling tidak memaafkan diri sendiri yang salah dalam mengartikan cinta. Banyak orang yang salah mengartikan cinta, termasuk aku sendiri. Namun, begitu aku mencoba memahami cinta itu tidak serumit yang pernah aku ketahui.

Aku pernah merasakan sakitnya mencintai, sakit karena cinta, terpuruk karena cinta. Aku berpikir kenapa cinta membuat seseorang yang merasakannya menderita? Bukankah cinta itu kedamaian, kenyamanan, kebahagiaan? lalu mengapa cinta berubah menjadi sekejam ini? pikirku ketika itu hingga akhirnya aku sempat tak percaya lagi dengan yang namanya cinta.

Kehilangan kepercayaan akibat cinta tidaklah mudah. Aku memerlukan waktu cukup lama untuk kembali percaya dan bahkan aku hampir tidak percaya bahwa waktu dapat mngembalikan kepercayaanku terhadap cinta. Sampai pada suatu saat aku menyadari ternyata akulah yang salah mengartikan cinta.

Cinta yang aku percaya selama ini tidak lebih dari sebuah keinginan semata, penggenggaman erat untuk tetap memilikinya dan keegoisan diri dalam penafsirannya.

Aku melupakan bahwa cinta itu seperti pasir, semakin digenggam erat untuk dapat memilikinya semakin pasir itu luruh menjauh dari tangan kita.

Aku melupakan bahwa cinta itu tidak lain adalah sebuah pembebasan yang mengagumkan seperti yang diungkapkan oleh seorang tokoh Budhisme ternama YM. Bikkhu Ajahn Brahm bahwa apapun yang kamu lakukan pintu hatiku tetap terbuka untukmu, itu artinya cinta juga berarti memaafkan.

Ketika aku memahami cinta yang sesungguhnya kini tidak lagi sulit untuk menjawab pertanyaan " We can love without expecting anything?"

“Tidak ada api sepanas nafsuk keinginan, tak ada kejahatan yang menyamai kebencian. Tidak ada yang lebih buruk daripada tubuh ini, tak ada kebahagiaan melebihi Nibbana.”

Dhammapada Suhka Vagga (202)

Kutipan syair di ataspun lebih mengingatkanku akan arti keinginan berjubah cinta yang aku kira dulu hingga aku terluka oleh panasnya api yang membuatku menjadi pembenci.

“ Ketika kamu marah ataupun benci, kemungkinan dia akan menderita, mungkin juga tidak, tetapi dengan perasaan marah ataupun benci kamu sendiri sudah pasti menderita.” ( Vism IX.22)

Iya, mengapa aku harus membencinya? Pikirku ketika membaca kutipan di atas. Aku teringat kalimat yang diucapkan oleh seorang guru besar Buddhist, Bhante Ajahn Brahm bahwa tak ada seorangpun yang dapat melukai kita kecuali kita mengijinkannya.

Aku rasa itu tepat sekali, luka memang ada tapi jangan sampai melukai pikiran kita. Seseorang pernah mengatakannya juga kepadaku bahwa jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan cara kita bertindak, berucap dan berpikir. Kemudian menunjukan sebuah syair yang sangat menyentuh :

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.“

(Dhammapada Bab1 Yamaka Vagga)

“Dan sebaliknya, bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran baik maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayangan yang tak pernah lepas dari bendanya” tutur seseorang itu dengan wajah teduh menyejukan.

Penampilannya sangat sederhana, pakaiannya hanya satu macam tidak mengikuti trend fashion yang ada, kepalanya plontos tak ada rambut sampai alisnya pun dibabat habis. Namun, dari kesederhanaannya tercermin kewibawaan yang tinggi.

Ya, beliau seorang Bikkhu yang aku kagumi. Kemudian beliau menunjuk beberapa bait syair lagi :

"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir.

"Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya." Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir.

(Dhammapada Bab1 Yamaka Vagga)

Ya, aku harus mengakhiri kebencian ini dan mulai berdamai dengan luka–luka ini. Gumamku sembari memejamkan mata menata hati. “ Musuh – musuh memang dapat melukai kita, tapi pikiran yang tak terkendali lebih kejam menikam kita” tutur beliau membuyarkan lamunanku yang aku tanggapi hanya dengan anggukan kecil dan senyuman tanda setuju.

Kini aku lebih merasa tenang dan lebih tenang lagi ketika beliau juga berpesan “ jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka” aku tidak asing dengan kalimat itu, kalimat yang selalu aku lantunkan ketika membaca Karania metta sutta.

Ah, itulah cinta yang sesungguhnya pikirku kemudian. Bentuk cinta yang lebih lembut dan melegakan.

“All is well, untuk semua yang telah terjadi terimakasih, untuk semua yang akan terjadi, baiklah.”

~Ajahn Brahm~

Setelah apa yang terjadi rasanya aku perlu berterimakasih atas semuanya. Masa lalu telah mengajarkan aku lebih dewasa, luka–luka telah menempaku untuk lebih kuat. Menerima apa yang telah terjadi jauh lebih bijaksana. Seorang guru pernah mengatakan “ Kita menderita bukan Karena kenyataan melainkan tidak mau menerima kenyataan” aku merenungi kalimatnya yang bermakna begitu dalam. Dan untuk semua yang akan terjadi, baiklah. Gumamku sambil memejamkan mata menirukan kutipan guru besar Ajahn Brahm.

Ringan langkahku, perlahan aku lepaskan masa lalu dengan memaafkannya. Derai air mata telah menjadi vitamin untuk lebih menyegarkan diri.

Seseorang pernah berkata bahwa orang yang pernah mengalami patah hati memiliki cinta yang lebih indah setelahnya. Aku rasa itu benar jika mampu memaafkannya, dan lagi pula harus aku sadari bahwa semua ini bukan semata – mata salahnya.

Aku pun paham dengan ketidak seimanan ini. Justru kini akulah yang salah karena terlalu memaksakan untuk tetap menjaga hati yang pernah kau berikan padahal telah lama kau relakan hati yang lain untuk menjaganya. Aku tau kamu pun pasti terluka dan tidak mudah mempercayakan hati kepada hati yang lain.

Itu lebih membuatku merasa terluka. Perlahan tapi pasti, aku mulai menerimanya. Menerima kenyataan yang ada ketika kulihat kau kembali bisa tertawa di sana, bersama hati yang baru.

“Ketika orang – orang berjalan menjauh darimu, biarkan mereka pergi, takdirmu tak pernah terikat pada siapapun yang meninggalkanmu, dan itu tidak berarti mereka adalah orang jahat, ini hanya berarti bahwa bagian mereka dalam hidupmu sudah selesai.”

~Anonim~