Perihal bosan.
Yang dengungnya cukup mengganggu ratusan menit.
Menjelma menjadi pengalih fokus.
Memporakporandakan semangat yang capai sekali dibangun.

Perihal jenuh.
Yang asal muasalnya tak pernah ku rengkuh.
Tapi kemudian menyapa hangat.
Kemudian membunuh.

Membunuh waktu yang habis digerogoti jenuh.
Menyelipkan pisau – pisau tega yang menerus habis menguliti tawa.
Tawa ku hilang.
Dilenyapkan jenuh, dimakan bosan.

Tak kunjung pula hadir pangeran berkuda putih.
Seperti dalam dongeng – dongeng pengantar tidur.
Menjemput romantis, membuai diri.
Kita hidup berlumur nyata, bukan maya, apalagi dongeng.

Jadi, hentikan angan menanti pangeran.
Karena pangeran tak kan mengerti apa itu bosan.
Tak mau tahu apa itu jenuh.
Kuliti sendiri bosanmu, jenuhmu, hingga kulitmu putih kembali, suci dan bersemangat!