Saat ini, travelling memang sudah berkembang menjadi sebuah gaya hidup bagi banyak orang, apalagi didukung dengan adanya beragam media sosial yang menyediakan aneka informasi tentang keindahan tempat wisata di berbagai daerah.

Beragam media sosial yang memberikan fasilitas bagi penggunanya untuk berbagi foto juga menjadi salah satu faktor pendorong munculnya keinginan di hati banyak orang untuk melakukan sebuah perjalanan.

Kita tentunya seringkali melihat foto-foto di media sosial, foto orang yang mendaki ketinggian puncak gunung kemudian memamerkan fotonya berlatar awan serta keindahan puncak gunung sambil memegang kertas dengan beragam tulisan untuk teman atau kekasihnya, foto-foto di pantai, di air terjun, mata air, hingga kebun bunga amarylis-yang kemudian rusak, selalu berhasil membuat jiwa petualang kita tiba-tiba bangkit dan ingin juga berfoto di tempat tersebut.

Namun, apakah itu yang menjadi tujuan kita melakukan perjalanan? Apakah hanya untuk berfoto dengan latar pemandangan yang indah kemudian mengunggahnya di media sosial agar disebut sebagai anak muda yang eksis dan kekinian?

Bagi saya sendiri, travelling atau perjalanan bukan hanya tentang foto pemandangan, tapi lebih tentang pelajaran kehidupan apa yang bisa saya dapatkan.

Advertisement

Saya tipe orang yang suka melakukan perjalanan seorang diri, karena dengan begitu saya bisa berkenalan dan bebas bercakap-cakap dengan orang-orang baru yang saya temui selama perjalanan. Dibandingkan mengutak-atik smartphone atau kamera, saya lebih suka bercakap-cakap dengan orang asing yang kebetulan duduk di dekat saya, entah itu di bus, di kereta, di stasiun, atau di musholla bandara.

Jika ada banyak traveller lain yang merasa beruntung dan bahagia ketika bisa mencapai puncak gunung, atau bisa menangkap foto-foto pemandangan yang indah, maka saya selalu merasa beruntung ketika bisa mendapatkan pelajaran kehidupan dari orang-orang yang saya temui di perjalanan.

Saya merasa beruntung dan bahagia ketika ada seorang bapak baik hati yang menyerahkan tempat duduknya di kereta Semarang-Jakarta pada saya. Tidak seperti sekarang yang mana semua penumpang kereta pasti mendapatkan tempat duduk, tahun 2011 saat itu masih banyak penumpang kereta yang harus rela duduk dan tidur berhimpitan di bawah bangku.

“Jika kita melakukan perbuatan baik pada orang lain, maka nanti akan ada kebaikan yang berlipat kembali pada kita,” ujar bapak baik hati itu. Hingga sekarang kalimat itu terus terngiang dan menjadi salah satu pelajaran penting dalam menjalani kehidupan saya.

Tak hanya ketika bertemu seorang bapak baik hati di kereta saja, saya pun merasa beruntung dan bahagia ketika bertemu dan berkenalan dengan seorang petugas keamanan di Stasiun Gambir tahun 2015 lalu. Kala itu saya harus mengejar pesawat paling pagi tujuan Bali, saya sampai di Stasiun Gambir pukul 23:00 WIB, sedangkan saya harus melanjutkan perjalanan ke Bandara Soetta dengan Bus Damri yang baru ada pukul 03:00 WIB.

Untuk menghabiskan waktu selama 4 (empat) jam itulah saya memilih untuk bercakap-cakap dengan seorang petugas keamanan Stasiun Gambir yang sedang jaga malam. Petugas keamanan itu lebih muda beberapa tahun dari saya dan ia seorang yang cukup tampan asyik diajak ngobrol.

Ia banyak bercerita tentang kehidupannya sebagai tulang punggung keluarga, tentang ia yang memilih keluar dari pekerjaannya sebagai asisten manajer restoran dan lebih memilih menjadi petugas keamanan Stasiun Gambir.

Awalnya saya sempat bingung dengan pilihannya, sedangkan saat menjadi asisten manajer restoran, ia mendapatkan gaji yang cukup tinggi. “Ini tentang cita-cita saya, mbak. Saya ingin menjadi polisi, dan jika saya menjadi petugas keamanan di stasiun, saya punya kesempatan besar untuk menjadi Polsuska (Polisi Khusus Kereta Api),” ujarnya.

Saya tertegun mendengar jawabannya, saat ini memang banyak orang memiliki cita-cita, namun tak banyak orang yang berani berjuang untuk cita-citanya. Mendengar jawabannya itu membuat saya malu dan bertanya kembali pada diri saya, apakah selama ini saya sudah berjuang untuk meraih cita-cita saya?

Percakapan demi percakapan dengan orang yang baru saya kenal di perjalanan selalu berhasil menjadi energi baru bagi saya, dan percakapan-percakapan kehidupan seperti inilah yang membuat saya ketagihan untuk selalu melakukan perjalanan.

Untuk sebagian orang yang melakukan perjalanan, berkenalan dengan orang asing mungkin menjadi sebuah pantangan, namun bukan berarti berkenalan dengan orang asing menjadi sebuah larangan.

Perjalanan seharusnya bisa menjadikan kita memiliki pikiran yang lebih terbuka, bukan justru asyik pada dunia kecil kita sendiri sehingga tak mau mengenal dan mengambil pelajaran dari orang-orang yang kita temui di perjalanan, segera simpan gadget kita, dan bukalah dunia lewat percakapan-percakapan ringan dengan orang-orang di sekitar kita ketika di dalam bus, gerbong kereta, stasiun, ruang tunggu bandara, atau di warung kopi kecil milik penduduk lokal di daerah yang kita datangi, karena sesungguhnya perjalanan bukan hanya tentang foto pemandangan tapi juga tentang cerita dan pelajaran kehidupan. (*)