Tanggal 29—31 Mei 2010, saya dan kawan-kawan dari Komunitas Belistra (Bengkel menulis dan sastra) FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa mengadakan acara perjalanan kebudayaan ke Baduy. Awalnya saya pribadi enggan ikut. Ya, karena faktor finansial yang tidak mencukupi. Akan tetapi, kawan-kawan mengejek saya dengan sengit, mereka bilang "Masak, orang Banten belum pernah ke Baduy, memalukan!" Gila, omongan mereka bikin saya sakit hati. Lantas saya pun berusaha mencari uang ke sana- ke mari supaya bisa ikut. Alhasil, saya mendapatkan uang itu.

Perjalanan pun dimulai.

Kami berangkat dari kampus dini hari dan tiba di sana pagi. Cukup melelahkan melalui perjalanan naik-turun dan berkelok-kelok selama 3—4 jam di bus. Akhirnya kami pun sampai di persinggahan pertama, yaitu Ciboleger. Bisa dikatakan terminal Baduy. Mobil kampus ditinggal di terminal itu. Kami pun siap berangkat setelah kami memberesi perlengkapan sebelum menuju Baduy Luar—tempat tujuan kami selanjutnya. Tentunya dengan berjalan kaki.

Perjalanan dari Ciboleger menuju Baduy Luar amat mengasyikkan. Banyak warga Baduy Luar yang berlalu-lalang berjalan naik-turun dari kediamannya menuju pasar Ciboleger. Masyarakat Baduy Luar merupakan pemekaran dari masyarakat Baduy Dalam. Bagi mereka yang sudah tidak kuat atau ingin keluar dari Baduy Dalam, tempat mereka adalah Baduy Luar. Masyarakat Baduy Luar adalah masyarakat Baduy yang sudah terkontaminasi oleh masyarakat luar—masyarakat yang berkehidupan normal seperti pada umumnya. Masyarakat atau Suku Baduy Luar, mereka boleh menggunakan kendaraan jika mau berpergian jauh. Mereka juga boleh menggunakan sabun dan pasta gigi ketika mandi. Ada pun ciri-ciri dari masayarakat Baduy Luar adalah mereka mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.

Perjalanan dari Ciboleger ke Baduy Luar, kami membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Cukup melelahkan untuk awal pemberangkatan. Apalagi bagi yang belum terbiasa dengan berjalan kaki yang lumayan jauh ini, cukup bikin tubuh shock. Sepanjang perjalanan ke Baduy Luar, suara gemericik air dari atas tebing terdengar di telinga dengan jelas. Kami masih mudah mendapatkan air untuk perjalanan pertama ini menuju Baduy Luar. Akan tetapi, pemandangan alam belum terlihat jelas, karena kawasan menuju Baduy Luar atau Gajeboh ini masih berada di wilayah yang masih belum terjal. Masih berada di wilayah yang berdataran rendah—bisa juga dibilang agak tinggi sedikit.

Advertisement

Sesampainya di Gajeboh, kami menginap di salah satu rumah warga Baduy Luar. Mereka amat terbuka dengan kedatangan kami—pengunjung. Mereka menerima kami bermalam di rumah mereka yang sempit itu. Padahal kami berkuota kurang lebih 25 orang. Akan tetapi, rumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu itu begitu kuat dan rekat. Rumah mereka amat sederhana untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Mereka menerima kami dengan lapang dada, asalkan kami membawa makanan sendiri. Kemudian kami makan bersama-sama dengan keluarga si empunya rumah. Kamilah yang membawa beras, bumbu masak, mi, dan sebagainya. Sebelumnya kami memasak bersama di dapur dengan penghuni rumah.

Sungguh miris ketika saya melihat dapur mereka yang sekaligus dijadikan sebagai tempat tidur. Bayangkan saja jika kita tidur didekat tungku api. Dengan arang-arang yang masih menyala asap yang panas. Ini sangat berbahaya (bagi saya). Entahlah, mungkin mereka sudah terbiasa dengan hal yang seperti itu.

Kami pun usai bermalam di Baduy Luar. Kami pun melanjutkan perjalan menuju Baduy Dalam atau Kampung Cibeo.

***

Hawa perjalanan menuju Baduy Dalam sungguh terasa berbeda. Jalanan pun lebih terjal. Lebih tebing. Lebih menantang. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana pun lumayan jauh, tiga—empat jam berjalan kaki (barangkali jarak yang ditempuh bagi yang belum terbiasa). Bagi saya dua jam sebelumnya saja sudah bikin tubuh kami remuk apalagi yang lima jam begini. Sebenarnya yang bikin remuk badan kami bukanlah berjalan kaki, tapi karena banyaknya perlengkapan yang kami bawa di dalam tas. Mulai dari makanan, minuman, baju-baju, dan perlengkapan lainnya yang lumayan berat-berat. Meskipun begitu, mau tidak mau kami harus melewati semua itu. Kalau pun mau pulang dan tidak tahan dengan keadaan, lantas mau pulang dengan siapa. Sudah telanjur jauh untuk pulang.

Saya cukup tertegun selama perjalanan menuju Baduy Dalam. Sama halnya dengan Baduy Luar. Masyarakat Baduy Dalam pun berlalu-lalang berjalan turun-naik gunung. Mereka berjalan cepat sekali. Berbeda dengan kami. Cukup mengagetkan ketika kami berhenti sejenak di beberapa titik untuk mengambil napas. Kami melihat beberapa orang Baduy Dalam, mereka sudah dua kali bolak-balik turun-naik gunung, sedangkan kami belum sampai juga ke tempat tujuan. "Memang benar-benar gila!" ujar saya.

Melihat kaki orang-orang Baduy amat berbeda dengan kaki-kaki orang pada umumnya. Kaki mereka besar dan lebar. Baik perempuan maupun laki-laki, sama saja. Mungkin karena mereka sering bolak-balik turun-naik gunung itu. Jadi, kaki mereka mengembang seperti itu. Benar-benar unik.

Perjalanan yang kami lalui menuju Baduy Dalam baru setengah jalan, tetapi sudah bercucuran keringat begini. Kami melewati tanjakan cinta—ada- ada saja orang yang menamainya, katanya ini perekat hati antara insan yang satu dengan insan yang lainnya bila saling berjabat tangan. Entahlah, saya cukup tahu saja akan hal itu. Tanjakan cinta ini cukup menguras tenaga. Sudahmah sempit, licin, dan terjal. Untung badan saya ringan, jadi tidak terlalu kesulitan membawa diri. Terkecuali beberapa kawan saya yang memiliki berat badan berlebih, mereka kesulitan untung naik. Harus menggunakan tali supaya sampai ke titik atas. Cukup melelahkan menarik orang-orang seperti mereka. Namun, perjalanan ini sudah mulai cukup berkesan bagi saya. Saya menanti apa yang akan saya alami setelah ini. Apakah lebih menderita atau lebih menyenangkan?

Sambil memikirkan hal demikian, kami masih terus melanjutkan perjalanan. Kerja belum selesai, belum apa-apa (mengutip Chairil).

***

Akhirnya, kami pun sampai juga di lokasi Baduy Dalam. Wah, terlihat pemukiman yang jauh berbeda. Rumah mereka kebanyakan didirikan lebih tinggi. Jadi, kolong di bawah rumah mereka digunakan untuk menaruh kayu yang sudah dipotong-potong yang nanti dipakai untuk keperluan dapur.

Sama halnya dengan warga Baduy Luar, warga Baduy Dalam pun dengan tangan terbuka menyambut kedatangan kami. Budaya seperti ini patut kita contoh. Dari segi ramah tamah dalam menyambut tamu hingga cara menghidangkan makanan ke tamu. Kami pun sebagian istirahat sejenak, sebagian lagi menyiapkan hidangan makan malam—walaupun kami datang sore hari. Bermalam di masyarakat Baduy tidak boleh lebih dari satu malam. Terkecuali kita melakukan perjalanan ke luar dulu, lalu kembali lagi ke tempat itu maka kita masih boleh menginap lagi. Akan tetapi, jika kita bermalam secara berurut, misalnya lebih dari satu hari satu malam maka kita harus mengenakan pakaian adat Baduy Dalam atau adat setempat dan membantu mereka bertani atau bercocok tanam di kebun. Aturan yang sangan lucu bagi saya.

Selain itu, masih banyak lagi aturan hukum adat yang lainnya di Baduy Dalam, misalnya tidak boleh menggunakan sabun dan pasta gigi ketika mandi di sungai. Katanya sabun dan pasta gigi dapat mencemari keasrian lingkungan. Sepanjang sungai Baduy Dalam harus selalu bersih, tidak boleh kotor. Ada lagi aturan, tidak boleh mengaktifkan ponsel atau menggunakan lampu di malam hari. Terkecuali lampu itu memang benar-benar penting digunakan bagi pengunjung yang datang, misalnya ada keperluan di malam hari yang mendesak. Jika ada yang melanggar aturan maka akan di hukum secara adat. Entah hukuman apa.

Ada kejadian yang menarik di malam hari, ketika kami keluar di malam hari yang amat gelap—ya karena memang tidak ada cahaya lampu sedikit pun di situ. Kami merasakan dan mendengar ada anak-anak kecil yang sedang bermain, mereka berlarian di malam gelap gulita seperti itu, tetapi mereka tidak tersandung atau pun jatuh. Kami saja, yang berjalan seperti orang buta, masih tersandung dan terjatuh. Gila memang. Penglihatan orang-orang Baduy begitu tajam meskipun malam seperti itu.

Ada hal menarik lagi di Baduy Dalam, yaitu anak- anak kecil yang masih bau kencur, mereka sudah memegang golok masing-masing yang ditaruh di pinggang sebelah kanan mereka dengan menggunakan seikat tali. Ke mana pun mereka pergi golok itu selalu mereka bawa. Saya amat risih melihatnya. Tapi bagi mereka itu biasa saja. Lagi-lagi, saya harus berkata, “gila!”

Anak-anak kecil itu kebanyakan memiliki perut buncit. Terlihat lucu. Saya mencari-cari penyebab mengapa perut mereka bisa seperti itu. Ternyata jawabannya saya temukan ketika saya dan kawan-kawan makan nasi bersama orang Baduy Dalam. Cara menanak beras ala orang Baduy Dalam cukup unik, yaitu dengan cara tradisional. Menggunakan semacam tumpeng—kalau saya sendiri menyebutnya, entah apa namanya di Baduy. Butir-butir nasi yang sudah siap santap begitu besar-besar. Wajar saja anak-anak orang Baduy Dalam kebanyakan buncit. Apalagi katanya budaya makan di sana itu sedikit lauk, tapi banyak nasi.

Cuaca di sana sangat dingin. Saya takkuasa mandi di pagi hari. Seperti berhadapan dengan bongkahan es. Napas kami pun mengeluarkan asap dingin ibarat di Eropa saja. Saya masih berdiam diri menatap air sungai. Benar-benar tidak berani mandi. Kawan-kawan saya sudah terjun ke sungai. Tinggal saya sendiri. Ah, benar-benar dingin.

Usai mandi, kami pun bersiap mendatangi rumah Puun setempat. Puun adalah pimpinan tertinggi adat yang berada di setiap kampung Baduy. Kami berdialog dengan beliau di depan rumahnya—bukan teras, melainkan di lapangan. Kami bertanya seputar adat Baduy Dalam, Puun pun menjawab dengan bahasa Indonesia yang lancar. Meskipun awalnya mereka hanya bisa berbicara bahasa Sunda, tetapi karena mereka sering dikunjungi oleh masyarakat luar, mereka bisa fasih berbicara bahasa Indonesia. Bahasa mereka adalah bahasa Sunda Wiwitan yang juga sekaligus dijadikan sebagai kepercayaan mereka agama mereka. Mereka beragama Islam. Namun, nabi yang mereka percayai adalah Nabi Adam. Katanya Nabi Adam adalah nenek moyang mereka hingga akhir zaman.

Menurut Puun, warga Baduy memang tidak suka dengan perubahan. Apalagi sudah masuk kawasan Baduy Dalam. "Hukum adat bagaimana pun yang berasal dari masyarakat luar akan kami tolak", katanya. Prinsip orang Baduy adalah: Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung, artinya panjang tidak tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung. Jadi, hukum adat yang berlaku di Baduy sudah paten. Mereka tetap berpegang teguh kepada hukum nenek moyang mereka.

Dialog dengan Puun semakin menarik saja. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kami tanyakan lagi tentang suku Baduy ini. Akan tetapi waktu yang membatasi. Matahari sudah berada tepat di tengah-tengah ubun-ubun kepala kami. Itu artinya kami sudah harus segera beranjak dari tempat ini supaya tidak terlalu malam sampai ke Ciboleger—terminal bus. Kami pun berpamitan.

Perjalanan pulang dimulai

Rasanya amat menyenangkan mendengar kata pulang. Kami sudah rindu rumah kami. Rindu masakan khas kami. Perjalanan pulang pun dengan santai kami lalui. Tas-tas kami sudah enteng. Segala makanan berat sudah habis. Hanya tinggal beberapa saja. Air minum tinggal mengisi saja di beberapa titik sumber air gunung yang mengalir.

Alangkah menyebalkan sekali, ketika sudah setengah perjalanan pulang ke Ciboleger kami diguyur hujan. Jalanan becek, licin, dan sangat terjal. Banyak kawan saya yang terjatuh. Sampai akhirnya kami harus menggunakan tali panjang, biar kami tidak terjatuh. Jika dikatakan sengsara, ini jauh lebih sengsara di bandingkan awal keberangkatan. Tapi bagi kami, terutama bagi saya, perjalanan ini tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya.

Ketika sampai di rumah, saya langsung istirahat. Badan saya terasa remuk. Dua hari kemudian saya pun baru sadarkan diri dari tidur panjang saya.

Saya rindu perjalanan itu.

Catatan: Suku Baduy terletak di wilayah pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak- Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung.

NB: perjalanan ini adalah perjalanan pertama saya. Jadi, patut dicatat walau terkesan alay dan lebay. Sekarang saya sudah sering ke Baduy. Namun, takpernah sedikit pun saya bosan. Kelak saya akan kembali lagi ke sana!