Seperti waktu luang biasanya, hari ini aku mengisinya dengan mendatangi tempat kesukaanku, tempat ini menghadap ke arah pantai, café dengan desain classic, cat dinding café yang berwarna hitam di sisi kiri dengan berbagai macam bingkai berisi tulisan tentang cake, tea and coffee, cat dinding sebelah kanan yang berwarna krem dengan satu gambar cup besar berisi tulisan “-DE SPRESSO- THE FEELING YOU GET WHEN YOU’VE RUN OUT OF COFFEE.”

Hari ini di aku meminta ice green tea vanilla untuk menemaniku di café langgananku, tak ada kopi lagi, harusnya ada tapi aku lebih terbiasa menikmati kopi jika ditemani dengan Indra, teman minum kopi yang sudah memiliki teman lain atau mungkin yang dia minum bukan lagi kopi, mungkin gadisnya kali ini tak menyukai kopi.

Dulu, setahun yang lalu, bersamanya ku kunjungi segala tempat yang menyediakan menu kopi dengan penyajian yang unik, menjajaki segala tempat yang romantis, membangun rumah-rumah cinta yang kini telah menjadi rumah-rumah bagi kenanganku menetap, kelak jika rindu melakukan perjalanan, di rumah-rumah kenangan itulah tempat pulangnya.

Menjalani hari selama tiga tahun, lalu kemudian berpisah, bukanlah perkara mudah untuk merobohkan semua rumah kenangan yang telah dibangun bersama. Mereka terlalu kokoh dan terlalu sia-sia jika dilenyapkan begitu saja. Maka kurawatlah mereka sendiri, mengunjunginya satu demi satu, membersihkan pecahan-pecahan tajam yang berserakan meski selalu saja berhasil melukai tangan-tangan rinduku.

Di rumah kenangan itulah rindu terkadang menginap dan percaya, matahari esok akan tetap terbit dengan kehangatannya meski kamu pergi, yang mungkin hilang hanya hangat pelukmu seperti hari biasanya saat bau basah embun masih merajai pagi. Aku mengira rindu tak gigil meski hujan salju sekalipun, sebab kenangan yang dirawatnya akan menjadi selimut biru yang hangat memeluk tubuh lelahnya. Dan tentu, di halaman rumah kenangan telah kutanam juga tumbuhan serupa obat agar tangan rindu yang terluka dapat sembuh, meski bekas luka selalu menjadi hal paling lama yang bertahan.

Advertisement

Dalam perjalanan rindu menuju rumah kenangan yang lain, ia kerap menemukan jejakmu yang hampir tak terlihat lagi, bukan terhapus, jejakmu ditutupi oleh daun-daun kering sisa musim gugur kemarin. Musim gugur pertama setelah punggungmu semakin menjauh dari tempatku mematung.

Setelah tiba di rumah kenangan yang lain, maka rindu akan melakukan hal yang sama, membersihkan pecahan-pecahan tajam yang berserakan, tangannya akan terluka, rindu akan mengobatinya dengan tumbuhan dari halaman, ia akan menginap dan tidur dengan selimut biru yang hangat dan terbangun esok paginya untuk melanjutkan perjalanan mengunjungi rumah-rumah kenangan selanjutnya.

Perjalan tentunya akan mengnemui titik ujung, seperti halnya segala yang hidup akan menemui kematian, dan rindu, pun pada akhirnya akan kumakamkan pada pusara kenangan (bukan lagi rumah kenangan) di bibir pantai yang sunyi. Pantai yang menjadi awal kita menghidupkan cinta dan mendewasakannya menjadi rindu. Di nisannya tertulis namaku meski samar oleh kilauan senja, agar kelak jika cintamu berziarah ia akan tahu cinta yang mencintainya.