Aku masih tidak percaya dengan semua yang dikatakan teman-teman tentang Tama. Sahabat yang sudah aku kenal lama itu apakah benar berani berbuat hal seperti itu. Sesuatu yang tak bisa aku maafkan bila itu memang benar-benar terjadi.

Setiap hari, aku ibarat seorang polisi yang mengintai buronan kelas kakap. Aku sudah tak bisa menahan semua percakapan-percakapan panas di telingaku tentang Tama. Lelaki bertubuh tegak dan berhidung mancung itu lama-lama bikin aku penasaran. Ya, memang sikapnya selama ini agak berbeda. Ia terlihat menjadi pendiam dan agak bingung melakukan sesuatu.

“Loe masih nggak percaya kalo dia udah jadian sama Iren?” ujar Ermy menegaskan.

“Pokoknya sebelum gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri, gue nggak akan percaya!”

“Terserah loe deh. Loe intai aja dia terus. Entar juga loe tau apa yang gue katakan ini benar,” tukasnya lagi, mencoba meyakinkan.

Advertisement

Aku semakin geram dengan semua ini. Hm… pada suatu hari di kelas, suasana agak sedikit berbeda memang. Teman-teman ribut dan saling mencibir satu sama lain ketika Tama tiba-tiba datang masuk ke kelas berdua bersama Iren.

“Cie… ciee… Ehm… Ehm…” beberapa cewek di kelas mengejek mereka berdua.

Apa sih maksud kalian? sambil aku ingat-ingat perkataan Ermy kemarin.

Aku tak bisa menyergap Tama atau menyidang ia langsung di tempat seperti ini. Mataku menatap tajam langkah Tama. Ia duduk di sampingku. Ia memalingkan wajahnya dari tatapanku. Sialan! Apa maksudnya ini?

Rasanya aku tak mungkin bisa langsung mengklaim dia sudah jadian dengan Iren. Mana mungkin mereka bisa jadian. Aku tahu mereka. Aku tahu Tama. Aku tahu Iren. Kami sama-sama bersahabat sejak dulu. Sudah hampir tiga tahun bersekolah di SMA 1 Serang ini. Di kelas tercinta ini. Bila ini memang benar, aku tak mau sembarangan mencari bukti.

Seminggu berlalu. Sial benar, mereka berdua sudah merasuk dalam mimpi burukku. Entah, apa lagi yang harus aku lakukan. Intaianku masih samar-samar. Sulit sekali mencari jejak mereka. Kawan-kawan dekatnya membisu. Apakah mungkin ada sesuatu yang di rekayasa dalam peristiwa ini?

“Ya, iyalah teman-teman dekat Iren, seperti Ika dan Ayu akan diam saja. Mana mungkin mereka membeberkan aib teman dekatnya sendiri,” tukas Ermy.

“Tolong ceritain sama gue, apalagi yang bisa gue dapetin bukti dari loe? Sepertinya cuma loe yang tahu peristiwa ini,” mohonku kepadanya. Karena harus dengan siapa lagi aku beradu dan mencari info tentang mereka selain dari Ermy karena memang rumahnya berseberangan dengan Iren.

“Oke. Gue bakal bantuin loe. Gue akan kasih tahu info-info ter-update dari mereka berdua sama loe. Asal dengan satu syarat.”

“Syarat? Syarat apa?” tanyaku penasaran.

“Nanti aja kalo loe sudah menyelesaikan peristiwa ini.”

Ah, bukannya menyelesaikan masalah, malah nambah masalah. Aku mengiyakan saja persaratan dari Ermy. Entahlah syarat apa. Terpenting aku bisa mendapatkan bukti-bukti yang valid tentang hubungan Tama dan Iren.

“Roy, hari ini Tama sedang ngapelin Iren di depan rumahnya,” ujarnya padaku di telepon.

“Tolong foto mereka berdua!”

“Ok.”

Dua minggu kemudian.

“Roy, Tama ngasih boneka dan cokelat ke Iren. Hari ini tepat ulang tahun Iren,” ujarnya lagi di telepon.

“Gila nih orang. Gue udah nggak bisa nahan lagi!” dibenakku sudah tergambar apa yang sedang mereka lakukan di sana.

“Loe nggak percaya? Loe sekarang ke rumah gue. Loe liat aja mereka berdua lagi ngapain.”

Sial! Aku membanting handphone. Hancur.

Aku memaksa berangkat dari rumah menuju rumah Ermy meskipun harus diguyur hujan deras. Aku tak bisa terus-terusan dikibulin seperti ini oleh Tama. Mana kesetiaan persahabatannya padaku. Dua jam kemudian aku baru sampai ke lokasi, di rumah Ermy.

Sudah tak disangka lagi, memang benar Tama ada di rumah Iren. Mobil Jeep-nya tampak jelas di parkir di depan rumah Iren.

“Dari mana loe tahu mereka di dalam rumah sedang berduaan?” tanyaku pada Ermy.

“Tadi gue kesitu, pura-pura minjem tugas sama Iren. Eh, mereka lagi mesra-mesraan.”

“Emang mereka nggak kaget ketahuan sama loe?”

“Ya, enggaklah. Gue kan udah tahu mereka jadian.” Aku mengangguk pelan mendengar penjelasannya.

Aku jadi semakin penasaran. Aku memang tak bisa menjadi detektif sendiri. Untung ada Ermy yang setia menjadi detektif gelapku. Aku pun menyuruh dia untuk menemaniku ke rumah Iren. Ia memang tahu benar perkaraku dengan Tama. Ya, dulu aku memang sempat dekat dengan Ermy. Jadi, ia tahu semua tentangku dan Tama.

“Ayolah Er, temenin Gue…”

“Gue nggak enak kalo nanti terjadi apa-apa. Nanti gue pasti di klaim jadi biang keladi atas semua ini.”

Aku menarik tangannya. Dan tetap ia tak mau. Oke… aku pergi sendiri ke tempat mereka. Ya, hanya beberapa langkah saja sih sebenarnya, dan aku pun sampai.

Sepatu hitam Tama ada di luar pintu rumah Iren. Aku menghela nafas. Siap-siap untuk memaki dan berkelahi dengan Tama. Ibu jariku masih setengah hati untuk mengetuk pintu. Aku menghela nafas sekali lagi.

Krekk… Tiba-tiba saja pintu terbuka.

Seketika aku langsung kaget menatap wajah mereka berdua. Begitu pun sebaliknya. Genggaman tangan mereka seketika langsung dilepaskan. Wajah mereka berdua tampak pucat. Aku menggeleng-geleng kepala. Sepertinya mereka mau jalan keluar berdua. Aku maju selangkah demi selangkah, dan mereka mundur pula selangkah demi selangkah. Mataku menyorot tajam ke wajah mereka. Di atas kepalaku sudah meluap kobaran-kobaran api.

“Jadi, ini yang loe lakuin di belakang gue!” sambil mengangkat kerah baju Tama. Aku memojokannya ke tembok. Tampaknya ia pasrah.

“Loe, nggak bener-bener tahu dulu gue sakitnya kayak gimana karena perjanjian kita ini! Gue lepasin Firza—seseorang yang hampir jadian denganku dulu—demi persahabatan kita ini! Loe masih inget kan perjanjian itu! Loe masih inget kan! Parah loe jadi cowok!”

Setengah sadar aku melakukan semua itu. Amarahku sudah tak bisa ditahan lagi. Ia telah menghancurkan hubungan persabatan kami ini yang sudah terjalin sejak lama.

“Apa yang loe lakuin sekarang ini tidak sekedar dari seorang bajingan tengik!” jariku menunjuk ke wajah Tama, lalu meletakan ke jidatnya.

“Coba loe katakan sekali lagi perjanjian kita dulu di hadapan cewek loe ini! Sekarang!”

Tama menghela nafas. Ia membetulkan kacamatanya yang melorot. Ia menunduk lagi. Keringat bercucuran di keningnya.

“Cepat katakan kalo loe emang masih mau jadi sahabat gue!” Aku semakin mengangkat tinggi kerah bajunya.

“O… O… Oke…” ujarnya tersendat.

Iren yang sedari tadi diam di kursi menyaksikan perdebatanku dengan Tama, kebingungan harus berbuat apa. Mau tidak mau ia harus siap mendengar apa yang akan dikatakan oleh kekasih barunya itu.

“Begini i… i… ren permasalahannya!”

“Ah, lama!” bentakku.

“Aku dan Roy, sebenernya sudah lama melakukan perjanjian ini. Ya, ini emang atas dasar kita berdua i… ren…”

“Perjanjian apa? To do point aja!” pinta Iren sambil memejamkan mata pelan, kemudian membukanya kembali.

“Aku dan Roy sudah berjanji nggak akan berpacaran satu sekolah. Apalagi satu kelas. Dan perjanjian ini sudah di atas materai.”

“Loe kasih tahu ke dia bagi yang melanggar harus mendapat hukuman apa!” ujarku lagi. Tama menghela nafas kembali untuk mengatakan ini.

“Iren sayang, maafin aku. Aku mencintamu memang bukan di waktu yang tepat. Andai saja aku bisa menahan perasaan ini hingga lulus nanti, pasti aku bisa menjadi pendampingmu selamanya.”

“Maksudmu?” Tanya Iren tak mengerti.

“Ya, perjanjian ini berlaku hingga kami lulus sekolah nanti. Setelah itu bebas.”

“Kenapa cinta harus dibuat main-main seperti ini sih?”

“Aku nggak tahu. Dulu kita berdua pernah disakiti oleh perempuan yang sama di satu jurusan. Mungkin kau pun tahu orangnya.”

“Veny?”

“Ya. Semua karena itu mulanya.”

“Maaf Ren, aku harus pergi dari hati kamu. Anggap saja semua ini tak pernah terjadi. Aku harus siap menerima kenyataan ini, dengan di ekskusi jomblo selama lima tahun. Dan setelah ini aku pun harus segera meminta maaf di speaker karena aku telah melanggar perjanjian ini. Ini perjanjian harga diri!” tambahnya sambil menunduk.

“Jadi, kita…” Iren menitikkan air mata. Meskipun aku agak sedikit sedih melihat semua ini. Tetap, perjanjian adalah perjanjian, tak bisa di toleransi.

“Kalian semua memang jahat! Sekarang kalian keluar dari tempat ini! keluaaar…!” Iren membentak kami tak keruan.

Aku menarik Tama yang masih menunduk untuk segera keluar. Ia amat pasrah. Wajahnya masih tak bisa menerima bila harus berpisah hati dengan Iren. Kisah mereka yang terhitung belum menginjak satu bulan itu kandas. Bukan aku manusia tak punya perasaan, melainkan seorang kawan yang ingin melihat kawannya bisa bertanggung jawab atas apa yang diucapkannya.

Keesokan harinya, Tama melakukan ekskusi itu di toa masjid, meminta maaf atas kelakuannya.

“Cowok gila…” ujar beberapa cewek yang duduk di sampingku usai mendengarkan pernyataan maaf itu.

Beberapa hari kemudian, pertemanku dengannya kembali membaik. Kami sudah bisa kembali bercanda tawa dan melupakan kejadian kemarin, meski Iren harus menjadi korban.

“Nah, baru ini yang namanya Tama… masih banyak cewek di luar sana kawan,” ujarku.

“Yoyoi kawan.”

Ketika aku sedang asik mengobrol dengan Tama di kantin, tiba-tiba Ermy datang dengan membawa senyum bibirnya yang manis.

“Kalian sudah baikan yah?” ujarnya tiba-tiba.

Tama tak paham mendengar pertanyaan itu. Tama tampak bingung.

“Roy, ini surat untukmu…” Ermy menyodorkan surat yang entah surat apa itu.

“Surat apa ini Er?” Tanyaku penasaran.

“Buka saja.” Lantas ia pun pergi.

Aku pun penasaran ingin segera membuka surat itu. Begitu pun Tama. Sebenarnya aku tak ingin membukanya di sini. Ah, tanggung. Aku sobek perlahan. Tama pun membantuku menyobeknya.

Aku langung terperangah ketika membaca tulisan di secarik kertas putih kecil itu…

Roy, masih ingat kan dengan syarat itu?

Aku tak meminta banyak, kok, dari kamu. Cukup kamu jadi kekasihku saja.

Aku masih sayang sama kamu, seperti dulu…

Tama menatapku tajam. Keningku bercucuran keringat. Kini kerah bajuku yang menjadi sasarannya. Sial!

Kamar terindah, 6/2/2012