Telah 8 bulan aku mengenal dirimu, Mr. Cinta. Aku tak dapat pungkiri bahwa sebelum kita saling diperkenalkan pada seorang sahabat, aku sudah mencintaimu sejak lama, menunggumu bahkan mengharapkanmu untuk curi pandang ingin berkenalan. Namun 8 bulan yang lalu, kita saling mengenal bahkan lebih dari itu.

Mr. Cinta, tahukah kamu, aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri, aku berkorban dalam sebuah pengharapan yang tak tahu sampai kapan aku menanti? Tahukah kamu aku menunggumu dari tirai cinta yang belum dapat kau buka sepenuhnya sampai saat ini, aku tahu tirai itu adalah hatimu. Tirai cinta itu adalah jiwa yang selama ini kamu jaga, entah untuk siapa yang kau sandarkan pada wanita idaman, mungkin aku tak seperfect yang kau inginkan, namun aku dapat memberikan apa yang kamu butuhkan, bahkan selalu ada saat engkau resah, gelisah, kegalauan, aku siap mendengar ceritamu, tentang mimpimu, tentang masa lalumu bahkan segala keluh kesah dirimu. Aku ingin meyakinimu, bahwa aku tetap ada dihatimu walau suatu saat nanti kau memilih yang lain.

Terkadang aku tak memperdulikan siapa yang datang dan yang pergi, yang aku kagumi adalah siapa yang mempertahankan diriku, bahkan siapa yang mempertahankan dirimu, yaitu aku. Sering kali pertengkaran dalam hubungan kita, entah hubungan apa yang kita jalani selama 8 bulan ini. Walau tak ada status, namun aku rasa, kita seperti lebih dari seorang yang bersahabat, bahkan hati aku dan jiwaku masih terikat padamu, tak perduli engkau masih mencintai masa lalumu, atau yang baru. Yang jelas aku sayang padamu, titik. Kau balas ataupun tak terbalas, aku akan tetap mencintaimu. Setiap kali bertengkar, selalu ada kata maaf dan memaafkan, dan saat itulah, kita selalu menyapa walau dalam diam, dan jarak memisahkan.

Tahukah kamu, semakin engkau jauh, aku merasa hati ini semakin dekat, jiwa ini semakin terisi, pada angan yang sulit aku kendalikan, setiap melangkah, hanya ada bayanganmu? Setiap aku berada disuatu tempat, seakan engkau menemaniku, entah itu hanya imajinasiku yang berlebihan, atau kenyataan engkaupun memiliki perasaan yang sama.

Selama 8 bulan aku memperjuangkanmu, memberikan perhatian yang tak kenal lelah, memberikan situasi yang sehangat mungkin saat berbincang, bercanda, pertemuan, tatapan, bahkan keromantisan. Apakah perjuanganku selama ini terabaikan? Namun aku tak tahu? Karena nyatanya, kita masih tetap dingin.

Advertisement

Aku ingin sekali saja, berfikir dengan logikaku, tanpa perasaanku. Mungkin hasilnya tak akan seperti ini. Terkadang kita sebagai wanita selalu berfikir dengan hati, fokus pada perasaan dan logika berkata beda, maka pernah ada kata “cinta tak ada logika” padahal ketika kita bermain logika, perasaan akan tertutup. Itulah yang harusnya dilakukan, agar tak lagi sakit hati dan tak lagi ada harapan palsu yang terikat.

Logika ini akan terus berjuang, hati ini akan terus bertahan. Aku yakin, Allah akan membahagiakan hubungan kita, walaupun dengan siapa engkau akan menikah dan dengan siapapun aku akan bersanding. Jauh dalam lubuk hatiku, aku akan tetap mencintaimu. Aku tak dapat mengungkapkan cinta ini melalui lidahku, bahkan mulut yang terbungkam bisu. Aku hanya dapat menulis, karena aku yakin. Tanganku lebih mudah mengerti hatiku, dan tak pernah berbohong, sedangkan lidah, tak selamanya jujur. Mungkin aku terlalu menjaga imageku yang berlebihan, terbiasa malu dan lugu. Aku memang sering bercanda, sulit untuk serius, namun akupun bisa menjadi wanita romantis yang memberikan sekuntum bunga mawar merah padamu dan ijinkan aku yang membuang durinya, agar tak sedikitpun kau tertusuk kesakitan, karena aku tak ingin menyakitimu seperti mantan kekasihmu yang menyia nyiakan cintamu.

Kau bangga saat banyak yang menyukai, namun kau tak memandang siapa yang mempertahankanmu saat ini. Bahkan kau tak menyapa siapa yang selama ini hatinya tersenyum dalam kediaman menatapmu dibalik punggung, mensuportmu dari kejauhan, membaca hatimu saat berbicara, tersenyum saat kau diam, dan terpaku saat kau datang, bahkan berteriak bahagia saat kau menyatakan sayang padaku hingga berakhir dengan namamu yang selalu tercibir dqalam doaku.

Dadaku sakit saat engkau mengatakan itu, aku sesak saat kita semakin dekat, apa yang terjadi? akankah ini pembuktian bahwa dunia ini adalah bukan milik kita. Ataukah kita tercipta bukan untuk dipersatukan, hanya untuk saling mengagumi, saling menilai, saling dekat hanya sebatas persaudaraan. Jauh dilubuk hatiku yang paling dalam, kau adalah pujaanku yang selama ini aku tanyakan pada Allah, aku tunggu sebelum aku mengenalmu.

Mr. Cinta, tataplah mataku saat aku diam, bacalah kataku dalam lidah yang terus bersandiwara dalam drama kebohongan, mungkin aku wanita yang hanya ingin dicintai oleh orang yang aku cintai, akupun mengerti situasi apa yang kau rasa saat ini. Bimbang untuk memilih atau belum menemukan cinta sejati yang kau impikan. Janganlah sombong pada kesempurnaan fisik, karena itu akan menjauhkan dirimu pada jodoh. Menjauhkan dirimu pada satu cinta yang tulus dengan keinginan yang sempurna. Kau tahu, di dunia ini tak ada cinta yang sempurna, itu hanya milik Allah semata.

Aku berjanji, senyuman ini akan selalu untukmu, Mr. Cinta. Aku akan tetap mendukungmu segala keinginan. Yang terpenting, berbahagialah kamu, dan tak perlu merasa tak enak hati akan kebaikanku dan perjuangan tulusku saat ini, aku itu apa adanya dan sesederhana mungkin bahkan banyak kekurangan. Hanya kamulah yang terus mewarnai setiap hariku, tak ada hari tanpa aku merindukanmu, aku terus menunggu entah sampai kapan waktu Allah yang menjelma keinginan menjadi kenyataan, atau menjadi keikhlasan dalam harapan yang bukan pada tujuan.

You are a perfect man.