Saya, lahir di indonesia. Saya, kebetulan lahir dari orang tua dan leluhur yang berdomisili di daerah sekitar ibu kota. Kami biasa disebut orang betawi.

Saya tidak ingin mengkotak kotakan manusia. Saya tidak pernah ingin sedikitpun menghakimi suku ini dengan ciri khas begini atau suku itu dengan ciri khas begitu. Tidak. Tidak pernah ingin.

Tapi perkara satu ini sangat mengganggu indera saya. Perkara semur jengkol.

Suku betawi, selalu diidentikan dengan suku bangsa yang tidak tahu aturan, suka berteriak, tidak bersekolah, tidak punya pekerjaan lain selain bertani lahan yang tak seberapa, tukang ojek, ibu ibu tukang cuci, atau yang lebih beruntung jadi juragan kontrakan, yang semua orang hobinya makan jengkol tiga kali sehari dan jika kami tidak makan jengkol maka kami akan sakit.

Sungguh harus saya luruskan satu hal.

Advertisement

Jengkol itu memang enak. Kalau kau kata jengkol itu tidak enak, salahkan ibumu atau pembantumu mengapa tak mampu sekedar memasak jengkol saja?

Kuluruskan kawan, jengkol itu nikmat. Tapi kuluruskan lagi, perkara memberi kado pernikahan semur jengkol itu tak perlulah, cukuplah untukku semur jengkol buatan ibuku.

Perlu kau tau kawan, perkara memberi kado semur jengkol itu sedikit keterlaluan. Terakhir kali kumakan jengkol terkapar aku dibuatnya. Delapan hari aku tak sanggup berdiri dibuatnya. Jadi buatku tak perlulah jengkol itu. Kasikan saja pada tukang nasi uduk semur jengkolmu itu.

Kutuliskan tulisan ini biar kau sedikit ada perhatian kawan. Tak semua orang betawi itu juragan jengkol. Tengoklah kawanmu ini, orang betawi yang tak sanggup makan jengkol. Perkara ini perlu kuluruskan kawan. Bukan karena kami pemakan jengkol aktif, tak berarti kami tak punya pendidikan dan tata krama. Makanan kami pun tak melulu jengkol kawan, masih ada pete. Yang harus kau tau, tak kalah nikmatnya.

Tak perlulah berujar najis, coba dulu semur jengkol buatan ibuku.