Aku lupa bagaimana awalnya kita bertemu. Entah aku yang menemukanmu, ataupun kamu yang menemukanku, sudah tak penting lagi sekarang. Yang aku tahu, kita pernah bahagia. Pernah menekan ego kita, untuk saling membahagiakan, untuk saling belajar.

Sebelumnya, aku sempat berpikir kamu adalah apa yang digariskan untukku. Bagiku, tak ada yang lain selain kamu. Hanya kamu. Kenapa? Karena kita terlalu sempurna untuk bersama. Kita seperti puzzle yang satu dan lainnya saling melengkapi.

Namun, akhirnya aku sadar. Kita hanyalah dua orang yang ditakdirkan untuk belajar, bukan untuk bersama selamanya. Kita ada di rel yang berbeda. Kecocokan yang kita agungkan (baiklah, mungkin hanya aku yang merasakannya), hanyalah gambaran betapa kita begitu keras menahan ego untuk menuruti keinginan pasangan. Aku yang lebih suka berdiam diri dikamar membaca novel selama berjam-jam, bertemu denganmu yang notabene aktif di luar rumah. Aku yang tak suka segala hal yang berhubungan dengan olahraga, bertemu denganmu yang mencintai segala bentuk olahraga. Aku yang lebih suka nongkrong di toko buku, bertemu denganmu yang suka nongkrong di lapangan. Intinya, kita berbeda. Kenapa bisa bertahan? Karena masing-masing kita menahan ego untuk menyenangkan pasangan. Kita bahkan membuat jadwal akhir pekan yang kita setujui bersama. Sehari ikut agendaku, dan hari berikutnya ikut agendamu. Nyaman? Jelas tidak. Tapi tetap kita lakoni. Demi Kita. Yang kemudian berakhir saat kita mulai benar-benar jenuh. Saat aku sadar, kita memaksakan segalanya. Kita masing-masing memakai topeng kebahagiaan. Setelah segala omong kosong tentang membahagiakan pasangan yang kita lakukan, dan ternyata tak berakhir bahagia, kita memilih berpisah. Kita sama sekali jauh dari kata bahagia.

Kini setelah hampir dua tahun kita berpisah, masing-masing kita telah menemukan seorang yang baru. Aku tak tahu denganmu, tapi aku sudah tak menggunakan topeng lagi. Aku sudah tak lagi berpura-pura bahagia demi membahagiakan pasanganku. Entah dengamu, tapi aku lebih bahagia sekarang. Mungkin memang benar, Tuhan tak mempertemukan kita untuk bersama, namun untuk belajar. Mungkin jika aku tak bertemu denganmu, aku masih tak tahu caranya bahagia.

Terima kasih pernah hadir dan mengajariku bahagia. Terima kasih untuk segala omong kosong tentang kebahagiaan yang pernah kamu lakukan untukku. Aku bahagia sekarang. Semoga kamu pun begitu. Terima kasih.