Mereka hanya tahu namaku dan sedikit tentang diriku. Semua tidak sesederhana yang kalian pikir dan tidak seenteng yang terlihat. Bagaimana aku, hanya diriku dan Tuhan saja yang tahu.

Mengapa mereka banyak bicara? Apa karena aku yang terlalu banyak diam? Mengapa mereka bilang aku tak terbuka? This’s me. Bagiku tidak setiap kata bisa diucapkan dan tidak semua alasan bisa dikatakan. Untuk apa buang-buang energi dengan banyak bicara jika pada akhirnya aku tahu mereka tak lantas akan diam setelah tahu diriku dan hanya akan mengeluarkan satu kalimat yang menjadi jurus andalan penutup percakapan “Sabar ya!” Jika aku sudah tahu mereka akan memberikan kata demikian, haruskah aku terus bersuara? Tidak, tidak ingin membuang banyak kata pada manusia. Aku lebih suka membaginya Pada Tuhan saja, dengan sesekali lembaran putih ikut menjadi sasaran penaku. Karena kertas dan pena adalah teman tebaikku, mereka tidak akan berkomentar dan berisik dengan apapun yang ditulis di atasnya. Begitupun dia yang mengerti tanpa harus banyak berujar kata. Lagi pula aku tidak suka pada orang yang banyak bicara namun nihil dalam tindakan.

Dengan enteng mereka katakan seolah hal itu adalah masukan luar biasa dipenuhi kebenaran, walau memang semua yang dikatakan benar tapi sekarang bukan waktu yang pas bagiku. Jika saja aku ingin bersikap egois dan mementingkan diri sendiri mungkin apa yang dikatakan mereka telah aku lakukan sejak dulu. Dan jika aku hendak bersikap angkuh dan sombong bisa saja aku katakan… “Mata yang aku miliki bulat coklat dengan lentik bulu menghiasi bak putri Arab. Kulitku mulus dan putih seperti Chinese. Kaki pun jenjang bagai model. Tidak sedikit pria yang ingin denganku. Bisa saja aku menikah dengan seorang pangeran yang membawaku ke istana lalu keluar dari segala kepedihan ini” But it’s not me. Bagiku pernikahan bukanlah sebuah pelarian.

Perlu banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan ketika memutuskan sesuatu. Pertimbangan yang tidak memberatkan benak siapapun. Keputusan yang harus membahagiakan semua pihak, semua orang yang aku kasihi. Tolong mengerti, berhenti bertanya akan hal yang sama. Aku bosan mendengar pertanyaan yang itu-itu saja.

Maksud kalian sungguh baik, sangat baik. Aku tidak mengingkari takdir manusia. Aku akan menikah. Akupun ingin menikah. Sungguh, aku merindu sosok yang akan memperkokoh imanku. Namun, aku ingin ketika jodohku datang, aku tidak membebankannya dengan tanggung jawab yang belum aku selesaikan.

Advertisement

Alasanku bukan dirinya, sungguh bukan dia. Alasanku tidak pada hati seseorang. Melainkan aku ini anak pertama, orang tuaku telah renta, adik-adikku masih sekolah dan membutuhkan banyak biaya. Aku tidak ingin lari dan meninggalkan mereka. Masih harus berjuang untuk menghidupi keluargaku. Aku ingin membahagiakan mereka. Kalian mengerti maksudku tanpa aku harus berpanjang lebar, bukan? Tolong mengertilah, jangan desak aku dengan pernyataan dan pertanyaan yang membuat batinku gelisah wahai orang tua kedua yang telah banyak memberiku ilmu. Aku tidak nyaman dengan ucapan yang terdengar berkali-kali “Cepatlah menikah!” Kalian harus tahu hidup yang aku jalani tidak semudah jalan yang kalian tempuh.

Perasaanku campur aduk. Berbagai rasa muncul silih berganti mengoyak-ngoyak batinku. Seuntai cerita lalu yang masih tersimpan nan belum sempat diutarakan turut hadir mengusik dan memeriahkan segala sesak di dada. Kisah kelabu yang membuatku luka.

Tahukah apa yang saat ini aku rasakan? Aku ingin pergi sejauh mungkin. Namun, ketika aku ingin pergi, selalu ada larangan dalam hatiku. Jika aku pergi apa keluargaku akan baik-baik saja? Bagiamana dengan kedua orang tua? Bagaimana dengan adik-adik? Aku tahu maut bisa datang pada siapa saja tanpa mengenal usia, dimana saja tanpa bisa diprediksi. Tapi sering kali ketika usia telah renta ke khawatiran datang berlebihan meski tahu waktu itu akan tiba jua. Takut jika aku jauh dari kedua orang tuaku, bisa saja saat aku kembali mereka tak terlihat dalam pandangku lagi.

Aku ingin pergi, sungguh ingin pergi sejauh mungkin. Kemanapun itu asal bisa keluar dari neraka yang telah lama mengurungku. Terpenjara di tempat sendiri sungguh lebih mengerikan dari pada di sel tahanan. Dipaksa menikmati luka. Dipaksa tersenyum saat hati teriris. Dipaksa tegar padahal batin lemah dan lelah. Dipaksa ceria dikala diri terasa rapuh. That all is fake. Ini bukan diriku.

Saat ini aku ingin berada di tengah hamparan rumput hijau sejauh mata memandang, tidak ada riak-riak kehidupan selain diriku dan alam, lalu berteriak sekencang-kencangnya melepas segala penat yang perlahan menggerogoti jiwaku. Lelah terus berpura-pura. Capek untuk selalu bersikap manis berhias senyuman. I want give up. Bisakah aku pergi dari sini dan tak kembali? Oh God, aku ingin pergi. Alasan aku bertahan di tempat ini hanya kedua orang tua dan kedua adikku. Bisakah aku juga membawa mereka ke Syurga bersamaku?

Mah, Pah, bila saja aku seperti anak-anak lain yang bisa dengan leluasa mencurahkan segala isi hati pada kedua orang tuanya mungkin aku tak akan sepenat ini. Tapi tidak dengan diriku. Aku tidak ingin berbagi duka dengan kalian, kalian telah banyak merasakan pahitnya hidup. Hanya kebahagian yang ingin aku bagi dengan kalian. Tidak ingin rasanya kalian tahu betapa tersiksanya aku disini. Dipermainkan oleh anak seorang saudagar yang terlalu sering membantu keluarga kita. Bagaimana mungkin aku katakan jika hatiku telah berulang kali dilambungkan lantas dijatuhkan, dipermainkan oleh seseorang yang keluarganya terlampau baik terhadap kita. Aku khawatir jika kalian tahu, kalian akan sedih. Tidak ingin mataku menyaksikan raut kepedihan di wajah kalian. Aku tidak ingin kalian menyesali apa yang telah kita jalani. Walau diri ini yakin seandainya kalian tahu jika aku telah benar-benar muak ada disini dengan alasan yang bisa dijelaskan, kalian tidak akan ragu untuk pergi jua. Tapi aku tidak ingin seperti itu. Aku tahu tempat ini adalah tanah kelahiran Papah, dimana Papah tumbuh dan dibesarkan dengan banyak kenangan. Begitupun dengan aku yang telah hampir 21 tahun berada disini, banyak kenangan pula yang telah terukir. Namun, adakah yang mengerti jika dalam pergantian musim yang silih berganti aku terlalu banyak berpura-pura?

Rasanya ingin marah, namun aku terlalu miskin untuk mengungkapkan kemarahan. Rasanya hati ini kecewa dan ingin menamparnya walau sekadar dengan kata-kata, namun dia akan tak acuh menghiraukan budak yang berbicara. Entah sampai kapan bom waktu ini akan tetap tenang dalam berbagai goncangan di jiwa.

“Tuhan tidak bisakah Kau lakukan ini sekarang? Bawa aku dan keluargaku pergi dari sini” Mulutku selalu bicara demikian, namun batin kembali berbisik “Apa yang menurutmu baik belum tentu baik. Tapi apa yang Tuhan kehendaki untukmu pastilah itu yang terbaik” Kalimat-kalimat itu memang benar. Bimbang mulai menyelimuti. Disatu sisi aku sangat ingin hijrah dari tempat dimana aku duduk sekarang, namun disisi lain aku juga tidak ingin menjadi pecundang yang lari dari kenyataan. Tapi, ketika hijrah bisa membuatmu lebih baik kenapa tidak dilakukan? Aku ingin hijrah dari semua kepalsuan. Namun, kenapa aku terlalu beku.

Aku yakin akan tiba saat dimana Tuhan akan menekadkan batin ini dan menarik diriku dari segala sesak yang menyita ruang dihati, dari segala kepalsuan yang aku jalani. Memapahku dengan segala kelembutan-Nya dan membimbingku hijrah diatas segala kebaikan. Terlepas dari suatu saat apakah Tuhan akan mengembalikan aku ke tempat ini atau membiarkanku menemukan kehidupan baru ditempat yang baru.

Tulisan ini aku tulis dengan segala sesak menemani dan emosi yang belum reda. Dengan segala keterbatasan merangkai kata. Mungkin jika hanya dengan kasat mata kamu membacanya, akan banyak kalimat yang tidak kau mengerti. Bacalah dengan hati. Biarkan dirimu larut dalam setiap untaian katanya. Selami segala rasa dan amarah yang tercipta. Maka kamu akan temukan aku dipersimpangan batinmu.