Sekolah baru, tempat kerja baru, teman baru. Sebuah siklus yang hampir dialami setiap orang ketika berada di sebuah tempat baru. Di tempat baru itu pula pasti tidak asing dengan kata adaptasi. Ya, entah beradaptasi dengan teman atau rekan kerja baru maupun dengan lingkungannya. Awalnya ada sedikit rasa enggan, takut jika mereka tidak bisa menerima kita dan mungkin sebaliknya.

Seiring berjalannya waktu, kita mulai terbiasa dan menerima bahkan memaklumi sifat beberapa orang di sana. Lambat laun kita juga sudah mulai akrab dengan keadaan di tempat yang dulu sempat kita sebut sebagai “tempat baru” itu. Yang Tadinya Enggan, Kini Mulai Berganti Menjadi Rasa Nyaman. Bahkan mungkin bisa sangat nyaman di tempat itu.

Namun saat masih berada di titik nyaman tersebut, tiba-tiba harus ada amanat dari atasan untuk berpindah ke tempat baru (lagi). Rasanya seperti ditinggalkan seseorang pas lagi sayang-sayangnya. Sedih tentu, mengingat sudah berapa lamanya waktu yang telah kita lewati bersama kini menjadi percuma.

Yang tidak aku sukai dari perindahan adalah fase berkenalan dengan orang baru (lagi), memahami sifat beberapa orang (lagi) hingga pada akhirnya muncul rasa nyaman di tempat yang baru nanti. Seperti perpindahan ke suatu tempat yang baru, hati ini sudah sering berpindah ke “tempat yang baru”.

Entah sudah berapa hati yang sudah pernah aku singgahi, yang pada akhirnya tidak pernah ada ujungnya. Sesungguhnya hati ini sudah terlalu lelah jika harus menemui fase perkenalan, pendekatan dan akhirnya berakhir. Tentu berakhir disini yang aku dambakan adalah berakhir di pelaminan, bukan di tengah jalan.

Advertisement

Dan kini terulang lagi, aku harus berpindah ke “tempat baru” lagi. Karena tentu tidak mungkin aku akan menunggu seseorang yang sudah mempunyai tempat baru untuk kembali lagi ke tempat lamanya. Sungguh kemungkinan yang sangat kecil bukan? Oleh karena itu, aku juga akan melakukan seperti apa yang sudah kamu tunjukkan. Bukan aku akan mengikuti jejak-jejakmu, tapi aku akan mengikuti caramu, yaitu berpindah ke “tempat yang baru”. A.N.C