Setiap manusia di kehidupan ini, selain pertemuan, pernah mengalami perpisahan. Istri bercerai dengan suami, orang tua berpisah dengan anak. Demikian juga kedua insan yang sedang dimadu asmara pun kadang harus terpisah jarak. Ketika perpisahan terjadi, hampir semua manusia tidak menyukainya, mengalaminya dengan kesedihan, kebencian, dan kemarahan.
.
Selama perjalanan hidup saya sampai sekarang ini, saya juga tidak luput dari perpisahan. Bila sebagian besar manusia mengutuk perpisahan dengan jumlah tetesan air mata kesedihan yang tak terhingga, juga kemarahan,
saya sekarang ini masih terus belajar melihat perpisahan sebagai sesuatu yang indah.
Perpisahan sebagai suatu bagian dari cinta.
.
Pertanyaannya kemudian, mengapa saya belajar melihat perpisahan sebagai sesuatu yang indah dan bagian dari cinta?
.
Karena saya memahami, pertemuan dan perpisahan itu bergandengan tangan. Perpisahan diberi ucapan terima kasih. Perpisahan disuguhi rasa syukur. Kehidupan ini tidak hanya tersusun atas pertemuan, tetapi juga perpisahan.
.
Sejak manusia mengenal cinta, kehidupan diisi dengan pertemuan dan perpisahan.
Dan keduanya adalah bagian dari cinta. Dengan kesadaran seperti ini, bisa dimaklumi kalau di setiap cerita cinta, di akhir perjalanan, manusia bertemu dengan perpisahan. Perpisahan dengan orang-orang yang dicintai, perpisahan dengan diri sendiri, perpisahan dengan kehidupan.

Indahnya perpisahan, ia menyadarkan manusia akan kesucian sebuah pertemuan.

Dan bukan kebetulan kalau saat lahir, tangan bayi menggenggam. Saat meninggal, tangan manusia terbuka. Ikhlas melepaskan perpisahan. Tulisan sederhana ini mencoba mengajak untuk tidak terlalu sedih, marah, dan membenci perpisahan. Terutama karena ketika seseorang mengalami perpisahan, ia sebenarnya sedang mengundang pertemuan selanjutnya.