Prinsip jua yang akhirnya memisahkan kita. Perbedaan sudah tidak bisa lagi menuju titik temu. Aku beda, kamu beda. Ku kira hanya malam saja yang identik dengan. Nyatanya saat esok terbangun, pagi menyambut dengan sepaket kesakitan tak berwujud. Aku yang selalu berusaha menjadi yang terlayak dan terbaik nyatanya menurutmu masih belum layak diperjuangkan dengan baik.

Jiwa rindu merdeka tanpa harus terjajah oleh asa di waktu silam, setiap jengkal kenangan juga kamu. Harusnya saat perpisahan waktu itu, aku titipkan juga separuh ingatku lalu damai dalam kealfaan. Kenapa kamu seolah tak mau mengerti bahwa diam adalah makna kata sedihku yang lain? Padahal segenap cinta adalah kamu yang mengisi penuh tinta penaku dan segenap kamu adalah cinta yang mengalun indah dalam lautan bait aksara.

Lalu perihal kita yang sekarang, ah…

Masihkah pantas kusebut kita? Aku terlihat menyedihkan saat mejadi orang jujur. Bohong terkadang lebih membahagiakan. Semoga linangku selalu cukup untuk menghapus jejak yang kau sisakan agar hati tak lagi temui sisanya yang lain.