Apa yang kau pikirkan sekarang?

Cinta? Sayang?

Aku yakin itu hanya fantasimu saja, dimana kamu tak dapat menyadari bahwa aku yang selalu membuat dirimu begitu berharga tidak lagi melakukan hal hal seperti itu. Ah, wajar jika dirimu baru menyadarinya. Aku mengerti hal itu.

“Tuhan pasti bertanggung jawab: menciptakan perpisahan, berarti siap menanggung resiko menerima rentetan doa-doa tentang pertemuan yang antri untuk dikabulkan”
Azhar Nurun Ala

Aku rasa jika kau berbuat itu padaku itu hanya akan membuang waktumu saja. Kali ini, saat ini, aku benar benar setuju pada perkataan mu kala itu. Kita memang akan saling menyakiti satu sama lain. Kau benar dan aku setuju dengan itu sekarang, tak ada yang perlu dilakukan lagi.

Advertisement

Benar!

Ya, memang benar katamu! Aku bahkan sangat setuju dengan hal itu sekarang. Kenapa? Karena akupun akhirnya disadarkan oleh waktu. Betapa kita tak dapat bersatu hati dan menyatukan tujuan kita bersama. Ataukah tujuanku dan impian impian yang mulai kubangun dalam fantasiku ini terlalu sulit untuk kau jalani bersamaku? Bahkan kau pun tak dapat menerima pengorbanan yang aku lakukan dahulu.

Apapun yang aku lakukan dahulu tak pernah kau hargai bahkan kau anggap berharga. maafkan aku jika aku mulai menjadi orang yang serba hitung-hitungan mengenai hubungan kita dahulu. mengingat kita tak dapat menyatukan visi seperti katamu. aku memang aneh, atau mungkin aku gila atau aku yang tak sadar jika memang kau ingin berpisah denganku. Entah itu karena kata katamu atau karena memang orang orang di sekitar kita tak lagi menganggap aku sebagai orang yang berharga untukmu. terlepas dari segala alasan yang kau buat dahulu, kini aku hanya akan menerimanya saja. aku menerimanya dengan tangan dan hati yang terbuka!

Kenapa?

Karena aku tak dapat lagi menahanmu disini atau di dalam hatimu itu.

Menjawab pertanyaanmu itu, tentu saja aku baik baik saja. saat ini atau bahkan saat dimana aku tahu memang keinginan terbesarmu saat itu adalah berpisah dengan aku.

Tentu saja aku baik, karena aku tak perlu mengabari siapapun. aku dapat berbuat apapun yang ku mau tanpa harus meminta persetujuan siapapun. Aku baik dan bahagia mengetahui kenyataan bahwa selain dirimu, ternyata banyak orang yang pasti memperdulikan keadaanku saat ini. bermain denganku, mendengarkan ceritaku, hingga berbuat hal hal menakjubkan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya! kehidupan baruku ini sangatlah menyenangkan. Dan aku sedang menikmati hal itu.

Kamu?

Sebenarnya aku tak ingin mengetahui hal apapun tentangmu. Karena aku memang tak ingin memperdulikan dirimu lagi. aku hanya tak ingin orang lain terluka lagi, bahkan aku tak ingin melukai diriku sendiri dengan memperlakukanmu secara khusus seperti dahulu. Jika kamu ingin meminta perhatianku lagi saat ini, aku mohon tinggalkanlah kebiasaan mencari perhatianku lagi. karena aku tak ingin ada salah paham diantara kita. Dirimu pasti tahu akan hal itu, aku tak akan mudah berjalan dengan orang lain yang tidak diperhatikan hati dan pikiranku. saat ini kamu termasuk ke dalam orang yang tidak menjadi pusat perhatian hatiku, jadi terbiasalah dengan itu.

Jangan pikir bahwa aku tak bahagia dengan hidupku, aku hanya tak ingin kamu menghancurkan pelangi yang muncul setelah hujan badai yang kau sebabkan kemarin.

Aku berterimakasih bahwa kamu sudah menyempatkan diri untuk mengunjungi sosial mediaku tanpa dan bahkan dengan sepengetahuanku, tapi terserah padamu saja. Ku hanya tak ingin menjadi perhatianmu lagi. Aku tidak lagi merindukan atau bahkan mengharapkanmu. tolonglah, aku sudah terbiasa dengan kehidupanku dimana tak ada dirimu di dalamnya. Dan aku tak ingin orang yang sama mulai mengetuk kembali untuk masuk ke ruang kosong yang ada di hatiku!

“Jejak ini mengendap sudah.
Tersapu habis buih.
Terpecah karang,
demikian tangis ini.
Peluk aku sebisamu.
Layaknya pasir pantai membenamkan mata kakiku.
Selagi kaki ini masih menjejak.
Selagi jantung masih berdetak.
Selagi bisa kita menderak jarak.
Menjadikannya serupa bisik serak.
Koyaklah waktu!
Jadikan ini milikmu!
Rengkuh…
Seharusnya ini milikmu.
Seandainya kamu tahu!
Bodohnya kamu…”
Devania Annesya