Best.

Friend.

Pernah mendengarnya? Ah pasti pernah.

Pernah memilikinya? Belum tentu.

Sebab apa-apa yang terbaik selalu terseleksi dengan baik. Begitupun mengenai orang-orang yang menurutmu pantas kau sebut sebagai teman terbaik. Tentu hatimu punya cara masing-masing bagaimana mengenali dan menyeleksinya dengan begitu banyak suka duka yang dilalui. Dengan sedih dan tawa yang datang bergantian. Dengan sesak pilu yang mengiringi setiap kisah. Ia ada. Menguatkan pundakmu. Menghapus air matamu. Menjadi alasan hari yang kau lalui tak berjalan buruk. Baginya, bahagiamu bahagianya juga. Menyenangkan? Saat sesulit apapun hari yang kau lalui, kau merasa tak pernah sendiri. Sebab banyak hal yang selalu berusaha ia bagi. Walau kadang, kesal dan emosi juga turut menghiasi. Berulangkali kau pasti membatin, luar biasa nikmat Tuhan yang satu ini.

Advertisement

Sebab bagiku, mungkin bagi kalian juga. Rezeki tak harus melulu tentang uang. Memiliki teman yang ‘benar benar’ teman juga adalah suatu rezeki.

Karna diluar sana, banyak orang tak kekurangan harta. Ia bisa membeli segala yang ia suka. Tapi ia tak punya sandaran saat terluka. Pun tak bisa membeli mahalnya sebuah harga kebersamaan sebab kau harus membayarnya dengan tulus nya niat. Dengan waktu yang lama. Tak pernah sebentar. Karna sekali lagi, menyeleksi itu harus pakai hati. Tak bisa sesuka hati.

Kadang, aku berpikir, merenung sebentar. Betapa berbagai perjalanan hebat telah terlukis di kanvas kehidupan. Hari hari berlalu yang seakan jadi bukti. Kedekatan kita pernah sedekat nadi. Menggembirakan, saat kita punya tempat berbagi. Atas apa apa yang tak bisa kita tanggung sendiri. Membahagiakan, saat kita punya lawan bicara. Atas kisah kisah yang ingin kita bagi bahagianya. Kau tak pernah merasa sepi. Sebab candanya tak kehabisan cara membuatmu tertawa. Sebab waktunya tak pernah habis saat sedihmu membutuhkannya. Kau bahagia. Sangat bahagia.

Jika pertemuan adalah hal yang menggembirakan. Lalu bagaimana dengan perpisahan? Ia menyedihkan? Ah tak juga. Sebab perpisahan adalah awal dari pertemuan baru yang sedang direncanakan Tuhan. Mungkin waktu akan menggiring kita pada hal-hal baru. Dengan orang-orang baru. Pun dengan kisah yang akan termodifikasi alurnya.

Tapi, kenangan tak harus serta merta dilupakan. Kau harus ingat, kau pernah terbahak bahak sebab kisah dari kenangan yang kita ciptakan. Orang dan kisah baru akan membawa kita pada bahagia baru. Tapi, cerita dan kisah dengan teman terbaik saat kau sendu, pasti tetap punya ruang dihatimu. Ia akan menetap. Disana. Jauh didalam hatimu. Tak akan mati mesti kisahnya telah tergantikan berkali-kali. Ia tetap hidup. Dengan esensi yang takkan mungkin bisa tertandingi. Percayalah, untuk setiap kisah yang pernah kita lukiskan, kalian masih jadi Juara yang Pertama. Jadi jangan bersedih, sebab kalian tak pernah jauh. Selalu akan ada didalam hatiku.

Lalu, usia akan membawa kita mendewasa. Memasuki jenjang lain yang mungkin tak sama. Ada yang ini, yang itu dan bermacam macam lainnya. Sebab kita hanya wayang. Dan Tuhan dalangnya. Ia yang menetapkan. Apa apa yang akan kita jalani kedepannya. Pun dengan rencana bahwa diantara kita telah tertakdir kisah yang berbeda. Tak sama. Untuk masa depan, kita tak bisa bergandengan lagi. Tapi semoga itu hanya sementara. Sebab, kehilangan kalian adalah mimpi buruk yang tak pernah bisa aku terima. Jadi mengertilah, jangan pernah berubah seolah tak pernah ada kebersamaan diantara kita.

Pun tugasku adalah memahami kalian, jika telah ada semesta lain yang akan mengisi indahnya hari-hari kalian. Aku akan mengerti, dan senantiasa berdoa agar mereka pandai menjaga. Bukan pandai menjegal. Agar mereka mahir membuat tawa. Bukan malah selalu membiarkan kalian terluka.

Pun begitu dengan aku, mungkin akan menemukan semesta yang baru. Tapi kalian, takkan tergantikan. Bagai tugas matahari yang akan tetap menerangi bumi.

Seperti Tere Liye pernah berkata, “Sahabat terbaik ibarat sebuah lagu kesukaan. Mungkin akan ada lagu lagu baru. Tapi posisinya akan selalu nomor satu. Sulit tergantikan” mengena? Ya, aku mendedikasikannya untuk kalian.

Jadi, boleh sedikit aku memohon. Agar disela kesibukan masing-masing dari kita. Sediakan waktu luang agar kita bisa berjumpa. Tak harus terlalu sering. Mungkin sekali dalam sebulan. Jika tak bisa, usahakan sekali dalam dua bulan. Atau masih sulit juga? Sekali dalam setahun. Tapi kurasa yang terakhir itu keterlaluan. Bagaimana bisa menampung rindu sampai setahun? Kurasa itu terlalu berat.

Disela aktifitas masing masing dari kita, usahakan agar tetap saling mendoakan. Agar setiap langkah kita mendapat lindungan Tuhan. Seperti doa yang selalu kalian panjatkan saat dulu aku butuh sandaran. Dan setelahnya, bebanku seperti jadi ringan. Itu mungkin sebab doa kalian. Pasti karna doa kalian.

Aku percaya, dipertemuan selanjutnya, sudah banyak cerita baru yang akan kalian bagi padaku. Aku akan sangat senang mendengarnya. Tentang pengalaman baru yang kalian lewati masing masing tanpa aku. Tapi tak apa. Kita memang harus terus melangkah. Agar tak ada resah di batin kedua orang tua perihal masa depan kita. Aku akan selalu mendukung itu. Bagaimana pun, kesenangan itu hanya sementara. Kesuksesan memang harus diraih dengan tekad pejuang. Bahkan sampai tekad mu berdarah sekalipun. Itu bayaran mahal atas kesuksesan masa depan. Dan aku percaya, kita akan berhasil melewatinya. Jangan lupa tersenyum dan berbahagia. Sebab disetiap sujud dan semoga, kalian ada.

Mungkin juga, beberapa tahun dari sekarang. Kita akan sama sama pamer kebahagiaan.

Perihal dia yang akan datang untuk melamar. Masing-masing dari kita akan tertawa, betapa perjalanan sudah sejauh ini rupanya. Kita akan mentertawakan betapa dulu pernah menangis sesenggukan tentang orang yang dulu ‘katanya’ sangat kita cinta.

Tapi lihat sekarang? Toh semua bisa kita lupakan. Kita sudah nyaman dengan dia yang mampu berikan kebahagiaan. Kalian lihat? Ternyata luka tak separah yang kita kira. Karna sekarang, kita sudah punya sesuatu untuk dipamerkan. Lihat, sekarang kita bisa berbahagia walau tanpanya. Yang dulu kita sangka bahwa kita tak bisa hidup tanpa cintanya. Dia bukan segalanya.

Betapa indah jika membayangkan itu, kawan.

Dan akan lebih indah jika semuanya berhasil terwujud.

Maka berjanjilah, bahwa semua itu bukan hanya angan. Yang mengangkasa lalu terbang tanpa asa.

Berjanjilah, untuk menjadikannya nyata. Agar nanti sama sama kita rasakan bahagia.

Aku terharu sekali saat menuliskan ini. Aku terbayang saat aku menulis, senyum kalian sedang menari-nari. Kisah kita tengah berseliweran di ingatan. Ah betapa indahnya.

Jadi akhirnya,

Aku ingin mengaku, bahwa aku rindu.

Apa kalian juga begitu?

Dan aku ingin bertanya,

Apa kalian setuju? Bahwa “ Best Fri-END Never END?”

Jangan tertawa seperti itu.

Kalian memang tak pernah berubah. Tetap si gila yang menggilakan.

HAHAHA, sudahlah, Jangan lupa berbahagia.

Aku sayang kalian, semuanya.