Takut gak kalo sekarang kita dipanggil Tuhan?
Takut ya, sama dong. Banyak kok yang masih takut, di antara kita, kalo tiba-tiba sekarang dipanggil Tuhan. Kalo bahasa lucunya, dan jika boleh, belagak gak denger aja saat dipanggil Tuhan hehe. Ya, takut mungkin karena merasa amal kita belum cukup. Atau merasa belum optimal ibadah kepada-Nya. Sungguh wajar, dan karenanya kita perlu eling, sambil terus mempersiapkan diri. Ketika dipangil Tuhan, tiba waktunya.

Ngomongin dipanggil Tuhan, artinya sama dengan kita diminta kembali ke kubur. Ingat kubur, ingat mati. Bukan ingat kubur, ingat selfie ya. Mana sempat lagi selfie saat maut menghampiri …

Kembali ke kubur. Saatnya kita dipanggil Tuhan.
Ini cuma sebuah renungan. Agar kita mawas diri. Cepat atau lambat, kita semua tanpa kecuali akan ke sana. Dikubur, ke kubur jadi tahapan yang pasti akan dijalani. Alam kubur adalah gerbang kita menuju akhirat. Perjalanan menuju pengadilan Allah SWT.

Jika sukses di alam kubur, kita berhak menggapai surga, jannatun na'im. Dan sebaliknya jika gagal, kita akan menderita tak terperi di neraka jahanam, na'udzubillah. Pasti terjadi, dan kita akan melewatinya. Karena kita, ditakdirkan awali hidup dengan kelahiran, lalu akhiri hidup dengan kematian.

Namun sayang, kita masih sering lalai. Kita tahu itu, tapi gak mau bersiap diri. Manusia, kalo ditanya, banyak yang gak siap dipanggil Tuhan. Kalo dipanggil bos-nya berebut dan buru-buru. Tapi dipanggil Tuhan gak ada yang jawab. Entahlah.

Advertisement

Gak usah terkejut, mungkin kemarin kita baru saja mengantarkan teman ke kuburnya. Atau keluarga kita yang baru saja dipanggil Tuhan. Mereka pergi dan "meninggalkan" kita, menuju ke akherat. Dan mungkin besok atau lusa, giliran kita yang diantarkan ke kubur? Gak bakal bisa menolak. Siap gak siap, waktunya akan tiba.

Masalahnya, bila saat itu datang, apakah kita telah benar-benar siap?
Atau kita menyalahkan Allah karena tak memberi kesempatan untuk bersiap diri? Sungguh, pada “gilirannya” kita akan kembali ke kubur. Entah sebab sakit, sebab sehat, asebab musibah, atau sebab kecelakaan. Sungguh semua bisa terjadi dalam sekejap. Seperti musibah Air Asia yang hilang dulu. Atau musibah crane yang roboh di Masjidill Haram. Sungguh, tiada yang mengira, tentunya.

Kembali ke kubur. Itu pasti. Semua orang yang bekerja pasti akan pensiun. Maka semua yang hidup pun akan mati. Hari-hari di dunia berubah menjadi hari akhirat dengan adanya mati. Dan urusan di akhirat berbeda dengan urusan di dunia. Bener gak?

Kubur, tidak pernah mengenal pangkat atau jabatan, Kubur juga tak kenal nasab atau keturunan. Polisi, pegawai KPK, politisi, atau rakyat jelata pasti kembali ke kubur. Adalah realitas, saat ini banyak dari kita lupa akan kehidupan yang kekal di akhirat. Bahkan lupa untuk menghadapi kematian. Entah, karena terlalu sibuk dengan gemerlap dunia. Atau apa? Gak tahu, tanya saja pada diri sendiri.

Tapi yang pasti, apa yang kita sibuki, apa yang kita kumpulkan tidak akan berarti apa-apa di hadapan Allah. Karena semua, tidak akan ada yang dibawa mati.

Kembali ke kubur. Kita semua akan ke sana. Lalu dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Ini renungan, karena sesungguhnya kita hidup di dunia ini hanya sementara. Kita diciptakan Allah hanya untuk mengabdi pada-Nya, amar ma’ruf nahi mungkar. Sehingga tidak ada setetes kemewahan apapun yang patut disombongkan. Amal, ilmu, ibadah kita hanya milik Allah. Itu saja.

Lalu, mengapa kita takut dipanggil Tuhan?

Mungkin, karena kita masih berlumur dosa. Tuhan pun enggan menolong lagi. Takut terbisik sakaratul maut, jiwa tiba-tiba tercerabut. Terlelah dari dunia, terjerembab dalam lalai pada-Nya. Sungguh kita takut. Karena ampunan pun belum lagi tiba. Ohh, makin takut dipanggil Tuhan, makin takut kenbali ke kubur.

Maka bersiaplah untuk kembali ke kubur.

Terangilah kubur kita dengan amal baik, sedekah, hidup rukun dengan semua orang, senang mengasuh anak yatim, ibadah, dan dzikir kepada Allah. Dan laksanakan semua perintah-Nya sambil tinggalkan segala larangan-Nya. Tidak sedetik pun waktu yang terbuang tanpa nilai ibadah kepada-Nya. Walau seutas senyum, tegur sapa atau jabat tangan yang tulus kepada orang-orang di sekitar kita.

Agar saat tiba giliran kita kembali ke kubur, untuk menghadap-Nya, tak ada teriakan sesal dari kubur kita. Manfaatkanlah waktu kita untuk-Nya.

Yukk, mengingat kubur. Karena sebentar lagi kita bisa dipanggil Tuhan. #BelajarDariOrangGoblok