Pep Guardiola untuk pertama kalinya dengan bakal menyudahi musim kepelatihannya tanpa menggondol satu pun gelar bersama tim barunya, Manchester City. Setelah kalah 2-1 dari Arsenal dalam pertandingan semi final Piala FA, Minggu (23/4) lalu, kans eks pelatih Bayern Munich dan Barcelona itu untuk mendapatkan gelar musim ini pun dinilai sudah tertutup. Walau, sebenarnya kans memenangkan Premier League masihlah ada, jika dihitung secara matematika.

Manchester City saat ini terpaut 11 angka dari Chelsea di puncak klasemen, serta tujuh angka dari Tottenham Hotspur yang berkompetisi ketat dengan The Blues di peringkat kedua. Sialnya, sulit bagi City untuk bisa mengharapkan dua tim itu terpeleset di sisa musim ini. Sebab, baik Chelsea mupun Spurs, sama-sama mempunyai penampilan yang cukup konsisten di musim ini.

Manchester City bahkan belum mendapat jaminan untuk masuk Liga Champions musim depan, lantaran mereka masih tertahan di peringkat keempat papan klasemen sementara, yang mana menjadi zona play off bagi tim Premier League untuk bermain di Liga Champions. Ditambah lagi, jarak mereka dengan tim peringkat lima, Manchester United hanya satu poin saja.

Oleh karena itu, pertandingan derby Manchester, yang akan berlangsung pada Jumat (28/)4) malam WIB jadi partai yang begitu krusial untuk Pep Guardiola, demi menjaga asa finis di posisi empat besar, sekaligus menjaga harga dirinya sebagai pelatih top.

Dilansir Daily Mail, terdapat banyak aspek yang membuat Manchester City bimbingan Pep Guardiola tampil tidak maksimal di musim ini. Pertama, kurang efektifnya finishing dari beberapa pemainnya. Hal itu dapat dilihat dalam laga semi final Piala FA kontra The Gunners lalu. Walau menguasai jalannya laga serta mempunyai banyak kans untuk menceploskan gol, akan tetapi cuma 15% dari keseluruhan tembakan mereka yang on target. Pep juga lebih sering menyalahkan penyerangnya yang ‘mandul’ daripada bek-beknya setiap kali timnya kebobolan.

Advertisement

Kedua, pembelian di jendela transfer dinilai kurang efisien oleh Pep Guardiola. Direktur Olahraga Manchester City, Txiki Begiristain diketahui memiliki peran besar pada perekrutan penyerang muda Gabriel Jesus dari Palmeiras, yang sebenarnya jadi bidikan banyak tim. Demikian juga dengan perekrutan Leroy Sane dari Schalke 04, yang dikira cocok untuk menambal lini depan City.

Akan tetapi, performa Sane sejauh ini masih belum menunjukkan konsistensi, serta Jesus malah mengalami cedera parah. Di satu sisi, transfer Claudio Bravo dan John Stones juga tidak terlalu berdampak besar. Pemain yang digadang-gadang bisa menggantikan peran Joe Hart dan Vincent Kompany itu malah sering tampil tidak konsisten. Hal itulah yang kemudian membuat transfer mereka jadi tak berjalan sesuai rencana. Selain itu, terjadi pula ketimpangan kualitas pemain utama dan pemain pelapis.

Pep Guardiola sendiri tidak ingin berkelit serta mengakui kegagalannya di musim perdananya ini bersama Manchester City. Akan tetapi, ia juga menyatakan kalau pada musim depan, City pasti akan menjadi tim yang lebih kuat.

“Target telah kami tetapkan. Dalam karier saya, sudah banyak gelar yang saya menangi, serta apabila beberapa orang mengutarakan saya menjadi ‘bencana’ dalam musim pertama saya di sini, saya dapat terima itu,” ujar Guardiola.

“Kami tentunya bakal memperbaiki diri untuk musim depan. Kami akan menjadi tim yang lebih kuat, terlebih dalam pertandingan menghadpai tim-tim besar. Sesudah apa yang pernah saya kerjakan sebelumnya, tekanan pasti ada di pundak saya,” tegasnya.