Pagi itu Mita berangkat menuju kampus dengan tergesa-gesa.

"Nak, ini bekalnya dibawa ya. Kan kamu belum sarapan?" ucap mama.

"Ah, enggak deh ma. Palingan ya nanti pulang cepet. Kan baru awal perkuliahan." ucap Mita sambil memakai kerudung.

"Yasudah, nanti langsung pulang ya? Gausah mampir kemana-mana. Temenin mama bikin kue." ucap mama sambil membereskan hidangan di meja makan.

"Iya mamaku sayaaaang. berangkat dulu ya ma." ucap Mita berlalu sembari mencium tangan mamanya.

Advertisement

Mita berangkat menuju kampus dengan angkutan umum. Sebenarnya Mita benci dengan hal ini. Ia bosan pergi kemanapun dengan angkutan umum. Namun karena Mita belum bisa membeli sepeda motor, yasudah dia menikmati itu semua. Bukankah hidup akan bahagia jika kita pandai bersyukur? Hal itulah yang selalu diingat Mita.

Mita sampai di depan gang, kendaraan warna biru pun berhenti. Mita bergegas naik, namun sayang sekali angkot itu penuh sesak. Mita pun terpaksa duduk di kursi tambahan yang ada di samping pintu. Mita mendengus kesal dan dalam hati berkata "Duh.. tau gini order Gojek."

Namun, kekesalan Mita sekejap hilang. Ada sesosok lelaki yang menawarkan kursinya untuk Mita.

"Mbak, masuk aja."

Tanpa berpikir panjang, Mita pun duduk di kursi yang ditawarkan lelaki itu.

"Makasih ya mas." ucap Mita pada lelaki itu.

"Iya mbak sama-sama." jawab lelaki itu.

Deg! Mata Mita dengan mata lelaki itu pun bertatapan. Mita merasakan hal aneh di dadanya. Hal yang menyenangkan namun malu untuk diungkapkan. Mungkin sekarang lelaki itu sadar kalau wajah Mita berubah menjadi merah tomat. Sepanjang perjalanan menuju kampus, Mita dan lelaki itu saling berpandangan. Mereka menebar senyum tanpa arti.

Mita sejenak memandangi wajah lelaki itu, senyum manis dan wajah yang tampan seolah menghipnotisnya pagi itu. Segala kekesalan di pagi hari itu hilang sekejap karena kesegaran yang diciptakan oleh Tuhan.

Wajah lelaki itu putih bersih, sosoknya tinggi, dan senyumnya penuh dengan keikhlasan.Lagi-lagi Mita saling berpandangan. Mita menaksir umur lelaki itu mungkin 5 tahun diatas umur Mita, namun itu semua tidak terlihat.

Mita kembali gelisah, mengingat sebentar lagi ia akan turun dari angkot itu.

Mita membuka tasnya, mengambil beberapa lembar uang.

Beberapa meter lagi ia akan tiba di kampusnya, namun ia gelisah karena ia dan lelaki itu belum saling mengenal.

"Kiri pak.." ucap Mita.

Angkot pun berhenti perlahan..

"Permisi mas.." ucap Mita kepada lelaki itu. Lelaki itu pun berdiri dan mempersilahkan Mita untuk turun.

Mita tersenyum sembari membayar ongkos ke pak supir.

Mita pun berlalu pergi, sembari menoleh ke angkot yang perlahan pergi. Sebelum angkot itu hilang, lelaki didalam angkot tadi berteriak "Aku Fahri.."

Mita pun tersenyum dan hanya bisa mengingat nama itu. Ia tahu kemungkinan kecil untuk mengenal lelaki itu lebih dekat. Nama Fahri bisa ada puluhan bahkan ratusan di kota ini.

Pagi itu, Mita hanya bisa mengenang senyuman lelaki itu. Ia yakin kelak suatu saat, entah kapan pasti ia bertemu lagi dengan Fahri.

Salam kenal, Fahri…