Tak disangka, berawal dari pesan singkatku yang menanyakan kabar tentang dirimu yang telah berhasil mencapai keinginanmu untuk menjadi pengabdi negara.

Jujur, awalnya aku hanya mengagumi sosokmu yang dulu pernah menjadi kekasihku. Mungkin, aku hanyalah lembaran cerita yang kau lewati dalam suatu bab yang kau tulis di kehidupanmu. Karena bagian daripadaku hanya lah cerita yang tidak terlalu penting, sehingga kau enggan membacanya kembali.

Malam itu, aku begitu gugup untuk bertemu denganmu setelah sekian lama kau menghilang dari kehidupanku. Kau pun menungguku di ujung rumah, dan aku masih ingat senyuman itu menyambutku untuk duduk di sampingmu. Jantungku berdetak semakin kencang, dan aku sempat kebingungan untuk membuka topik apa yang akan kita bahas. Kita tak tahu kemana tempat yang akan kita tuju.

Sepanjang jalan kau dan aku memperdebatkan kemana tempat yang akan kita tuju, karena memang pertemuan kita ini pertemuan yang tidak direncanakan sebelumnya. Lalu, pada akhirnya kita bertukar cerita tentang pekerjaan yang kita geluti saat ini. Aku tak pernah mengira, sosokmu kini begitu menyenangkan. Beberapa kali aku dibuat tertawa oleh sikapmu yang konyol dan menyebalkan. Setir mobilmu mengarah ke tempat perbelanjaan yang tak asing untukku, lalu kau pun mengajakku untuk makan malam.

Ya, memang bukan makan malam yang romantis dengan lilin lilin yang menyala di atas meja.. tapi malam itu semua terasa begitu menyenangkan saat bersamamu. Rasanya aku jatuh hati kedua kalinya, kepada sosok yang sama.

Advertisement

Tatapannya tak pernah lepas dari ingatanku, aku suka caranya dia menatapku penuh dengan arti. Ingin rasanya bisa membaca pikirannya, saat dia menatapku seperti itu. Aku suka caranya berdoa, ketika sebelum makan melihat dia mengepalkan tangannya, memejamkan mata dan terlihat sedikit kerut di dahinya. Begitu khusyuknya dia memohon kepada Sang Maha Agung.

Caranya bicara tidak ada yang berlebih, hanya untuk sekadar mencuri perhatianku. Semuanya ringan, dan justru membuatku suka. Walaupun sering kali dia mencari bahan omongan yang ujung-ujungnya untuk bisa meledekku. Memang menyebalkan. Kejailannya sungguh membuatku gemas

Malam yang indah, pertemuan yang singkat dan penuh dengan arti.

Malam pun semakin larut, kau pun mengantarkanku untuk pulang ke rumah. Di sepanjang jalan kita terdiam, ntah mengapa aku jadi merasa canggung ditambah detak jantungku semakin tak menentu. Beberapa kali, aku menangkapmu melihatku. Begitupun juga dengan ku yang tertangkap melihatmu, kita seperti berbicara lewat kedua mata. Saat kau ucap pertemuan ini pertemuan yang singkat, aku semakin ingin berlama-lama denganmu.

Sampainya aku di ujung rumah, aku tak ingin untuk langsung keluar dari mobil. Pikirku, kita akan sulit untuk bertemu kembali, inginku menghentikan waktu ketika bersamamu. Kau pun memelukku begitu erat, dan ucapmu yang paling ku ingat adalah "Kita harus ketemu lagi ya" ntahlah itu sedikit menenangkanku.

Setelah pertemuan itu, malam-malamku terasa berbeda, ntah karena sikapmu yang berbeda atau karena kesibukanmu yang belum bisa ku mengerti. Pertemuan singkat yang bisa membuatku kesulitan tidur dua minggu terakhir. Ditambah lagi, saat kau menghantuiku lewat mimpi-mimpi tidurku.

Ingin rasanya mengucap rindu, tapi siapakah aku ini? Aku hanya bagian dari masa lalu mu. Ku kira sudah tak pantas, sekalipun terkadang hati seperti kebingungan maunya apa.