Entah sampai kapan aku akan melupakanmu bersama waktu, yang detik demi detiknya tak pernah mengeluh. Menjalani hidup perihal sakit hati dan jatuh hati; sama – sama butuh hati yang tak saling menyakiti. Katanya pertemuan itu takdir, tak pernah dikotori dengan dusta. Lalu bagaimana waktu itu?

Pertemuan singkat katanya. Semacam gagu, malu menyapa; pertanda jatuh cinta. Sesingkat itu menyimpulkan tentang pertemuanku padamu yang tak sengaja diatur waktu. Senyumanmu membuatku semakin ngilu, mungkin karena kadar manisnya terlalu tinggi. Kisahmu dan kisahku kini sudah berbeda ditelan waktu, beda orang di sampingmu. Sempat aku melihatmu menikmati matahari terbenam bersama wanita yang dulu “katanya” sahabatmu. Persetan dengan persahabatan antara wanita dan laki – laki; aku tak pernah mempercayainya dan aku membencinya. Mata coklatmu memandangku dalam seperti ada yang ingin kau sampaikan.

“Halo, apa kabar?”

Aku mati suri, kaku tak bernyawa karena perasaanku masih sama. Langkah kakiku seperti diborgol dengan perasaan lalu, rasanya ingin lari saja dari hadapanmu. Kemudian kudengar kau memanggilku dengan suara yang khas. Kau kah itu? Tetapi semuanya berubah, ini hanya delusi sesaat tanpa adanya penjelasan. Bermimpi tentangmu sampai saat ini tak pernah terhenti karena pertemuan lalu yang sempat membuatku jatuh dan cinta lagi. Belum lagi memori tentangmu masih tersimpan rapi di sudut hati terdalam. Aku membenci pertemuan lalu dan bahkan aku juga membencimu. Ingin kutampar saja wajahmu dengan sejuta kata – kata manismu yang dulu. Ini sakit sayang, kau bilang ini seindah senja? Mungkin kau gila.

Kuharap kemarin adalah pertemuan terakhirku padamu dan tentang kau menyapaku itu hanya delusiku setiap hari. Aku tak pernah berharap lebih tentang kita yang dulu. Kau tak tahu betapa sulitnya melawan arus masa lalu yang masih terikat kuat dalam benakku? Jangan bantu aku, aku tak ingin kau menawarkan racun bagi diriku; yang lalu biarkan jadi ceritaku. Jangan usik lagi, aku sudah hidup tenang dalam jiwaku dan jangan datang lagi dengan cerita yang berbeda.