Seperti biasa, seperti malam malam sebelumnya, hape ini kembali bergetar. Satu pesan singkat masuk, dalam waktu yang sama tiap harinya. Untaian kata membentuk kalimat dengan tanda tanya pada ujungnya. Pesan itu datang dari orang yang sudah sangat sering aku jumpai, bahkan tak hentinya ia tak bosan menanyakan hal yang sama dalam pesan singkatnya. Ya, orang itu adalah ayahku.

Ini bukan suatu keluhan atas pesannya yang sudah bertumpuk di inbox handphone-ku. Bukan pula aksi nyata untuk memprotes tindakkannya yang selalu begitu. Ini adalah ungkapan dari seorang anak yang beruntung dikarunia oleh Tuhan seorang ayah yang begitu perhatian. Mungkin sesekali diriku merasa jengkel dengan pesan tiap malamnya. Yang pastinya sudah bisa kutebak apa isinya bahkan sebelum pesan itu masuk dan menggetarkan handphone-ku.

Hingga mungkin jari ini bosan untuk mengetik jawaban yang sama tiap malamnya, maafkan ayahanda.

Tak peduli hari libur atau hari kuliah, pesan tiap waktu selalu menampilkan kiasan yang sama. Dalam waktu yang sesingkat singkatnya, pesannya harus terbalas, bagai titah raja bagi para bawahannya. Menanyakan tempat anaknya sekarang dimana, sedang apa saja, hingga kewajiban yang perlu dijalankan.

Bosan? pasti ada. Namun bagaimanapun tak ada yang salah dari sikap Sang Raja ini. Dia cuma ingin menagih kabar dari pangerannya yang sekarang jauh dari pelupuk mata. Tak heran, kabar baik selalu dinantinya. Tak lupa pula memberi do'a pada tiap ujung kalimatnya. Hanya untuk seorang anak yang sekarang belumlah ada prestasinya.

Advertisement

Sudah sholatnya? begitu tanyanya. Kupikir ia meragukan akan diriku yang jauh dari pantauanya, tapi di satu sisi, sang raja, si ayahanda hanya ingin mengingatkan pada anaknya untuk selalu dekat dengan Sang Pencipta.

Beratus pesan yang sama dengan redaksi yang sama dengan makna yang sama dengan kalimat yang sama, sudah menghiasi tiap malamnya. Hingga akupun hafal jam berapa ia akan mengirimkan pesannya. Hingga akupun sudah mulai menyiapkan handphone-ku di depan badan untuk bersiap menyambut pesan yang ia kirimkan, tentunya isinya pasti sama tak jauh berbeda dari sebelumnya.

Dirumah sana mungkin tak hanya ayah merindukan kabar anaknya, ibu pun pasti sama khawatirnya. Tetapi, kadang seorang anak ini pun perlu yang namanya kesempatan untuk mencoba sendiri, dalam arti menghadirkan sifat mandiri

Bukan tak menghargai setiap kepeduliaan darimu wahai ayah. Tetapi anak ini suatu saat akan menjadi seorang ayah juga. Karena itu biarlah anak ini belajar lebih dulu bagaimana hidup berteman dengan namanya kemandirian.

Tenang saja wahai ayah. Mungkin kelak kau akan khawatir dengan anakmu ini. Tapi suatu saat kelak pula, kau akan melihat anakmu ini dalam kedewasaan. Yang akhirnya tak lagi kau risaukan kelakuannya. Tak perlu khawatir dengan apa yang akan ku lakukan. Ku janjikan tak ada yang namanya kejahatan dalam setiap tindakan. Karena, dalam hampir dua puluh tahun usiamu kau habiskan bersamaku. Membimbingku dalam jalan kebaikan, terus mendekatkan diriku dengan Tuhan, setia menasehatiku dikala kesulitan.

Semua permata kehidupan yang kau berikan sudah kusimpan dalam hati yang penuh ketaatan. Ku harap engkau akan selalu mendo'akan. Untuk anak yang mungkin sekarang belum bisa memberikan sebuah piagam penghargaan menghiasi dinding ruang tamu kalian. Untuk anakmu yang kini mulai mencoba menjajaki kerasnya kehidupan. Yang kelak akan mendamaikanmu di masa tua yang rentan.

Mungkin akupun akan merindukan pesan singkat itu. Darimu, dari ayah yang tak bosannya mendo'akan dalam kalimat ujung pesannya. Mungkin aku akan merindukannya.

Ini harapanku, bukan padamu wahai ayah, dan pula pada sang bidadari rumah, ibunda tercinta. Ini harapan ku sampaikan kepada pemilik sejati kalian. Apalagi kalau bukan pemilik kehidupan yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Suatu saat mungkin anakmu tak lagi bisa menerima pesan singkatmu. Bukan karena aku jenuh dengan kalimatnya, tetapi karena kau sudah tak bisa lagi mengirimnya.

Suatu saat mungkin anakmu ini tak lagi akan menerima do'a-do'a malammu, bukan karena kau mulai terlelap dalam tidurmu, tetapi karena kau sudah tak bisa lagi bangun dari tidurmu. Suatu saat mungkin akulah yang menggantikan do'a itu untukmu. Ya, kalian, ayah, ibu bahkan akupun tetaplah milikNya

Ya Tuhan janganlah engkau pisahkan kami, kecuali engkau satukan lagi dalam surgaMu.

"Semoga kuliah dan segala urusanmu mudah/lancar dan sukses dan semoga Allah selalu melimpahkan taufik dan hidayahNya kepadamu, dimurahkan rezeki yang banyak dan halal serta senantiasa dalam lindungan Allah, Aamiin Ya Rabbal Alamin"

Sepenggal do'a dari ayah yang tiap malam ia kirimkan untuknya anaknya. Jadi kali ini biarkan anak ini yang mendo'akanmu balik wahai ayah.

"Ya Allah sayangilah orang tuaku layaknya mereka menyanyangiku sedari kecil, cukupkanlah mereka dimasa tua mereka, lindugilah mereka dengan segala rahmatMu dan bahagiakan mereka dalam dunia serta akhiratmu"

Aamiin

dari seorang anak yang beruntung dititipkan oleh Tuhan seorang ayah yang hebat.