Sebuah buku tidak akan lengkap tanpa ada sentuhan tinta pada halaman di setiap lembaran kertas kosongnya. Seperti kehidupan yang tidak akan lengkap tanpa ada kisah masa lalu yang membuat seseorang tersenyum manis akan kenangan yang terukir di lembaran kehidupan.

Dia pernah menjadi seseorang terbaik .

Dia pernah menjadi bahu untuk bersandar ketika ku tak mampu berdiri tegak.

Dia pernah menjadi sosok pelawak di saat sedihku menghampiri.

Dia pernah menjadi hujan yang menghapus air mata ini ketika mengucur karena suatu alasan.

Advertisement

Dia membuat senyum ini tersungging ketika jari kecilnya menyentuh hidung ku yang membuatku tersipu.

Dia menjadikan tawa ini pecah dengan tebakan nya yang konyol.

Dia yang dulu selalu ada dikala gelisah ini mendatangi.

Dia yang memberikan solusi terbaik untuk semua masalah.

Dia yang memberikan kegembiraan ketika kami berlibur bersama dengan tingkah kekanak-kanakan kami.

Dia yang sempat menjanjikan impian indah ketika bersama di pelaminan.

Dia yang mengajak halusinasi bersama dalam mengasuh anak-anak yang lahir dari darah daging kami.

Tapi semua itu belum terjadi dalam kehidupan kami. Kami dipertemukan bukan untuk bersanding bersama dalam menjalani sisa hidup, tetapi kami ditakdirkan untuk melukis indah kenangan dalam lembaran kisah masa lalu kami. Tak ada lagi "kita" di dalam kisah kami. Impian dan halusinasi bersama yang harus dikikis kembali. Sementara hati ini masih begitu erat saling berpegang isyarat untuk tidak ingin berpisah.

Terimakasih untuk menjadi bagian dari kehidupan ku. Terimakasih untuk sempat menjalani masa-masa indah bersamaku. Terima kasih untuk menjadi salah satu pemeran utama dalam novel cinta kehidupanku. Kita tidak akan pernah tahu, perpisahan ini untuk sementara atau selamanya. Apakah akan berakhir dengan aku dan suamiku dengan anak-anakku, kamu dengan istri dan anak-anakmu. Atau berakhir indah ketika kita berjalan bersama menggandeng anak-anak kita.

Karena kita bisa memaknai ini semua ketika kita bertemu nanti, entah kapan saatnya.